Sosiopat: Penyebab, Ciri-Ciri, Cara Mencegah

sosiopat-doktersehat

DokterSehat.Com – Jika selama ini Anda kerap mendengar istilah ‘psikopat’, maka Anda juga harus tahu bahwa ada jenis gangguan kepribadian (personality disorder) lainnya yang dikenal dengan istilah ‘sosiopat’. Antara psikopat dengan sosiopat, keduanya memiliki perbedaan, walaupun pengidapnya sama-sama memiliki perilaku yang ‘tidak biasa’. Lantas, apa itu sosiopat? Apa penyebab sosiopat? Apa ciri-ciri sosiopat?

Apa Itu Sosiopat?

Sosiopat adalah istilah yang digunakan untuk mendefinisikan suatu gangguan kepribadian, di mana pengidapnya memiliki sifat atau kepribadian yang cenderung anti-sosial (ASPD). Seseorang yang mengidap gangguan sosiopat cenderung memiliki sikap yang menyimpang dari nilai-nilai moral yang seharusnya. Pun, seorang sosiopat tak segan untuk melakukan perbuatan yang melanggar hukum dan merugikan orang lain.

Sosiopat (sociopath) kerap dianggap sama dengan psikopat, padahal faktanya hal tersebut tidak benar. Kendati keduanya sama-sama manipulatif dan ‘jahat’, akan tetapi tingkatan sosiopat berada di bawah psikopat. Sosiopat, menurut seorang peneliti kepribadian bernama Joseph Newman, sulit untuk dapat berempati terhadap orang lain karena ia cenderung fokus pada satu pemikiran yang ia yakini.

Penyebab Sosiopat

Belum dapat diketahui apa yang menjadi penyebab sosiopat. Kuat dugaan, sosiopat dipengaruhi oleh faktor keturunan (genetika) dan pengalaman traumatis yang pernah terjadi pada pengidap anti-social personality disorder (ASPD) ini, seperti pelecehan seksual di masa lalu, atau riwayat kekerasan fisik dan psikis dari orang-orang terdekat (keluarga).

Selain itu, mereka yang kecanduan terhadap alkohol atau obat-obatan terlarang juga memiliki potensi untuk menjadi seorang sosiopat. Gangguan kepribadian ini lebih banyak menimpa kaum pria ketimbang wanita.

Ciri-Ciri Orang Sosiopat

Seseorang dapat dianggap mengalami gangguan kepribadian sosiopati apabila ia telah menginjak usia 18 tahun ke atas, dengan riwayat perilaku menyimpang pada saat masih berusia kanak-kanak, seperti bolos sekolah, mencuri, dan bertindak agresif.

Berikut ini adalah ciri-ciri orang sosiopat yang perlu Anda ketahui dan waspadai.

1. Karismatik, Sekaligus Manipulatif

Ciri-ciri sosiopat yang pertama adalah, ia mampu menjadi seseorang yang terlihat karismatik. Akan tetapi, jangan tertipu dengan citra positif dari dirinya tersebut karena sejatinya, hal tersebut merupakan bagian dari sikap manipulatif yang dimilikinya.

Ya, seorang sosiopat dikenal manipulatif sama halnya dengan psikopat, dan ‘kemampuannya’ ini digunakan semata-mata untuk mendapatkan keuntungan atau kesenangan yang hanyalah untuk dirinya semata, tanpa peduli dampaknya pada orang lain. Sayangnya, perilaku buruknya tersebut sulit dideteksi sehingga kerap kali membuat kita terjebak dalam ‘permainan’-nya.

2. Egois

Egoisme berkaitan dengan sifat narsisistik, di mana seseorang yang memiliki sifat ini cenderung ingin mendapat perhatian dan pujian dari orang lain, pun menganggap dirinya lah yang paling sempurna di dunia ini. Si ‘narsis’ ini menganggap hal-hal tersebut sebagai suatu kebutuhan yang wajib untuk dipenuhi dan tidak boleh dibantah.

Kondisi sedemikian juga menjadi ciri-ciri orang sosiopat. Mereka yang mengidap sosiopati cenderung memiliki ego yang begitu besar, bahkan sampai-sampai ia tidak mau disalahkan atas perbuatan negatif yang dilakukan oleh dirinya sendiri. Hal ini lantas berkaitan dengan sifat manipulatif yang ia miliki, yang mana kemudian dengan lihainya mampu memutarbalikkan fakta bahwa ialah yang sebenarnya bertanggung jawab atas masalah yang terjadi.

3. Impulsif

Seorang sosiopat juga memiliki sikap impulsif, yakni melakukan sesuatu secara spontan tanpa dipikir terlebih dahulu. Ciri-ciri sosiopat yang satu ini lantas juga dibarengi dengan sikap temperamental dan agresif.

Atas dasar itu, tak heran orang-orang dengan kepribadian sosiopat kerap melakukan perbuatan yang melanggar norma-norma hukum (bisa mengarah ke tindakan kriminal seperti berkelahi dan sebagainya). Hal ini lantas juga terjadi di aspek kehidupan yang lain, seperti pekerjaan dan urusan rumah tangga.

4. Empati Rendah

Jangan berharap orang-orang dengan kepribadian sosiopat memiliki rasa empati, walau hanya sedikit. Seorang sosiopat memiliki tingkat empati yang sngat rendah. Mereka sama sekali tidak memedulikan orang lain, termasuk atas apa yang telah diperbuatnya. Alih-alih demikian, justru sosiopat akan dengan ‘senang hati’ merugikan orang lain demi mencapai apa yang dikehendakinya.

Ciri-ciri orang sosiopat yang satu ini lantas menjadikan mereka orang-orang yang anti-sosial, dalam artian tidak punya hubungan sosial yang ideal sama sekali. Kalaupun memiliki teman, itu pun tidak banyak dan tidak akrab. Perihal kehidupan asmara dan seks, seorang sosiopat hampir mustahil untuk memiliki hubungan jangka panjang yang berkomitmen.

Guna memastikan apakah seseorang memiliki kepribadian sosiopat atau tidak, hal ini juga harus didukung dengan sejumlah tes sosiopat.

Jika ingin mengetahui apakah diri Anda memiliki kecenderungan sosiopati, Anda bisa melakukan tes sosiopat yang banyak beredar di dunia maya. Atau, dengan mengunjungi psikolog.

Perbedaan Psikopat dan Sosiopat

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, baik sosiopat maupun psikopat adalah dua jenis gangguan kepribadian (ASPD). Akan tetapi, antara psikopat dan sosiopat sebenarnya memiliki perbedaan yang bisa diidentifikasi.

1. Psikopat Lebih ‘Tenang’ daripada Sosiopat

Perbedaan psikopat dan sosiopat utamanya terletak pada bagaimana cara mereka dalam mengekspresikan kepribadian tidak wajar yang mereka miliki tersebut. Sebagi contoh, seorang sosiopat masih dapat terlihat takut dan gelisah manakala perbuatan jahatnya diketahui orang lain. Seketika, sosiopat ini akan bertindak impusif dengan marah-marah atau yang lainnya.

Hal tersebut tidak terjadi pada mereka yang memiliki kepribadian psikopat. Seorang psikopat akan secara konsisten terlihat tenang bak tidak ada masalah apa-apa, sekalipun orang-orang telah menaruh curiga pada dirinya. Ia juga merupakan ‘sutradara’ yang handal, di mana segala rencana benar-benar dipersiapkan secara matang, berbeda dengan si sosiopat yang cenderung impulsif dalam bertindak.

2. Psikopat Lebih ke Kelainan Struktur Otak, Sosiopat Lebih ke Pengalaman

Michael. Tompkins, Ed.D., psikolog dari Sacramento County Mental Health Treatment Center, mengatakan bahwasanya seorang psikopat memiliki ketidakseimbangan antara reaksi senyawa kimia di dalam otak dengan faktor genetik. Bahkan, sebuah penelitian mengemukakan kalau struktur otak dari seorang psikopat berbeda dari struktur orang pada umumnya.

Hal ini lantas menjadikan mereka tidak mampu memiliki kerangka berpikir yang ideal dalam kaitannya untuk menerima nilai-nilai moral yang berlaku di masyarakat. Selain itu, psikopat tidak memiliki rasa takut sedikit pun pada hal-hal yang berbau sadisme. Disinyalir, hal ini karena adanya gangguan pada bagian otak yang berfungsi untuk mengendalikan rasa takut tersebut.

Sementara itu, gangguan kepribadian yang dimiliki oleh seorang sosiopat lebih ke pengalaman traumatis yang pernah terjadi pada dirinya seperti yang tadi sudah disebutkan, yakni pernah mengalami pelecehan seksual, atau kekerasan di dalam keluarga.

Pengobatan Sosiopat

Faktanya, tidak ada metode pengobatan khusus untuk menangani masalah sosiopat ini. Akan tetapi, ada sejumlah cara yang bisa dilakukan untuk membatasi perilaku desktruktif pada diri seorang sosiopat dan mengarahkannya kepada perilaku konstruktif.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara:

  • Psikoterapi
  • Terapi perilaku kognitif
  • Pemberian obat-obatan anti-depresan seperti clozapine
  • Memberikan support dan perhatian

Pencegahan Sosiopat

Mengingat perilaku sosiopati lebih banyak diakibatkan oleh pengalaman traumatis, maka dari itu cara mencegah sosiopat ini adalah dengan menghadirkan lingkungan yang penuh dengan kedamaian, kesenangan, dan kasih sayang sejak dari usia anak-anak.

Jadi bagi Anda para orang tua, baiknya hindari segala bentuk kekerasan baik fisik maupun psikis terhadap anak jika tak ingin ia tumbuh menjadi seorang sosiopat. Selain itu, awasi selalu anak agar jangan sampai mengalami kejahatan traumatis di lingkungan. Semoga bermanfaat!