Solusio Plasenta: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

ciri-ciri-solusio-plasenta-doktersehat

DokterSehat.Com – Plasenta merupakan bagian yang sangat penting pada kehamilan. Kelainan pada plasenta bisa menimbulkan masalah fatal. Salah satu bentuk kelainan plasenta adalah solusio plasenta.

Para perempuan terutama yang sedang hamil sebaiknya mengetahui lebih jauh tentang solusio plasenta. Temukan pula gejala atau ciri ciri solusio plasenta, penyebab solusio plasenta, pengobatan solusio plasenta, dan lainnya.

Apa itu solusio plasenta?

Solusio plasenta adalah sebuah masalah medis kehamilan di mana plasenta terlepas dari implantasinya di dalam rahim. Biasanya, solusio plasenta terjadi pada usia kehamilan minggu ke-22 atau ketika berat janin mencapai minimal 500 gram.

Terkadang solusio plasenta juga sering disebut dengan abruptio plasenta (abrupsio plasenta). Jangan keliru menganggap solusio plasenta sama dengan plasenta previa. Masalah plasenta previa dan solusio plasenta berbeda.

Apakah solusio plasenta berbahaya?

Solusio plasenta cukup berbahaya jika tidak segera diperiksa dokter dan ditangani secara profesional. Para ibu hamil dan janin bisa terancam jiwa dan keselamatannya bila sang ibu mengalami solusio plasenta.

Bisa dikatakan bahwa solusio plasenta lebih berbahaya daripada plasenta previa. Mengapa demikian? Solusio plasenta memungkinkan terjadinya pendarahan internal yaitu pendarahan di dalam yang tidak terlihat.

Tentu saja hal tersebut bisa membahayakan keselamatan ibu hamil dan janinnya. Sang ibu tidak menyadari pendarahan yang sedang terjadi dan bisa sewaktu-waktu menimbulkan kejadian fatal. Ini berbeda dengan plasenta previa dengan pendarahan yang terlihat.

Baca Juga: Plasenta Previa: Penyebab, Gejala, dan Penanganan

Gejala atau ciri-ciri solusio plasenta

Para ibu yang sedang hamil perlu mengetahui gejala atau ciri-ciri solusio plasenta. Gejala solusio plasenta adalah informasi yang penting sehingga Anda bisa segera memeriksakan kehamilan Anda ke dokter dan segera mendapatkan penanganan yang tepat.

Gejala solusio plasenta tergantung pada tingkatannya. Berikut ini adalah ciri-ciri solusio plasenta yang dibagi menjadi beberapa kelas:

1. Gejala solusio plasenta kelas 1

Solusio plasenta kelas 1 adalah tingkatan kondisi solusio plasenta yang ringan. Pada kelas ini, pasien mengalami rupture sinus marginalis yaitu terlepasnya sebagian kecil plasenta yang tidak berdarah banyak.

Solusio plasenta tingkat ringan ini sama sekali tidak memengaruhi dan membahayakan keadaan ibu atau janinnya. Gejalanya meliputi perdarahan vagina dengan warna kehitam-hitaman, perut terasa agak sakit, tetapi tekanan darah dan denyut nadi normal.

2. Gejala solusio plasenta kelas 2

Setelah solusio plasenta ringan ada juga solusio plasenta sedang. Ada beberapa gejala klinis pada solusio plasenta tingkat ini. Gejalanya mirip dengan solusio plasenta ringan tetapi lebih banyak pendarahan.

Selain itu, gejalanya juga berupa nyeri bila dinding rahim diraba. Pada tingkat ini, janin sulit dideteksi kondisinya bila hanya mendengarkan bunyi jantung dengan stetoskop biasa. Bunyi jantung janin akan terdengar bila menggunakan stetoskop ultrasonik.

3. Gejala solusio plasenta kelas 3

Solusio plasenta kelas 3 merupakan tingkat yang berat. Apabila ibu hamil mengalami solusio plasenta kelas 3 maka akan menimbulkan syok dan bahkan kematian pada ibu, janin, atau keduanya.

Gejala solusio plasenta kelas 3 ini seperti rahim menegang, pendarahan masih belum terlihat karena ada kemungkinan pembekuan darah, ibu mengalami syok, dan janin meninggal di dalam atau saat lahir.

Penyebab solusio plasenta

Penyebab solusio plasenta belum diketahui secara pasti. Akan tetapi ada beberapa hal yang menjadi faktor risiko terjadinya solusio plasenta. Penyebab solusio plasenta sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor risiko tersebut.

Berikut ini adalah beberapa faktor risiko yang terkait dengan penyebab solusio plasenta:

  1. Memiliki tekanan darah tinggi saat hamil
  2. Tali pusat pendek
  3. Trauma perut seperti jatuh telungkup atau perut ditendang
  4. Membesarnya tekanan pada rahim
  5. Usia ibu kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  6. Air ketuban pecah dini
  7. Mioma rahim
  8. Kekurangan asam folat
  9. Penyalahgunaan zat (alkohol, merokok, kokain)
  10. Pendarahan retroplasenta
  11. Kekuatan rahim berkurang karena hamil kembar

Diagnosis solusio plasenta

Apabila Anda mengalami salah satu atau beberapa gejala solusio plasenta yang telah disebutkan sebelumnya maka segeralah pergi ke klinik kehamilan atau rumah sakit. Anda akan didiagnosis terlebih dahulu oleh dokter.

Diagnosis tersebut bertujuan untuk memastikan apakah Anda benar-benar mengalami solusio plasenta atau tidak. Pemeriksaan klinis seperti anamnesis, periksa pandang, periksa detak jantung, cek tekanan darah, dan cek kondisi rahim dengan meraba.

Setelah itu, diagnosis solusio plasenta juga dilakukan dengan memeriksakan urin Anda untuk diteliti adakah kandungan protein dan albumin. Dokter juga akan menyarankan pemeriksaan lewat darah di laboratorium.

Pada pemeriksaan tersebut, tim medis akan menghitung sel darah lengkap milik Anda. Setelah itu, akan dilakukan cek fibrinogen, dan kandungan kreatinin dalam darah. Pada pemeriksaan lewat darah, diagnosis juga dilakukan dengan menggunakan tes Kleithauer-Betke.

Tes Kleithauer-Betke bertujuan untuk mendeteksi adanya sel darah merah janin di dalam sirkulasi darah ibu. Setelah itu, diagnosis dilakukan dengan melakukan pemeriksaan USG. Pemeriksaan USG bisa menentukan lokasi plasenta, sudah terlepas atau masih lekat.

Diagnosis solusio plasenta juga dilengkapi dengan tindakan pemeriksaan histologik. Melalui pemeriksaan histologik, hematom retroplasenter bisa didapat. Apabila Anda terdiagnosis positif mengalami solusio plasenta maka Anda akan mendapatkan pengobatan.

Baca Juga: Apa Itu Plasenta Akreta dan Bagaimana Mengatasinya?

Pengobatan solusio plasenta

Pertama kali, pengobatan solusio plasenta dilakukan dengan memberikan pemeriksaan baik klinis maupun laboratorium. Apabila ibu hamil gelisah maka tim medis akan memberikan obat analgetika.

Dokter akan menginstruksikan persalinan normal segera apabila proses kelahiran bayi bisa dilakukan dalam 6 jam. Apabila proses persalinan lebih dari 6 jam maka dokter akan melakukan tindakan pperasi sesar.

Tujuan dari tindakan tersebut adalah untuk segera menyelamatkan nyawa bayi yang kurang mendapatkan nutrisi dan suplai oksigen dari ibu karena plasenta yang terlepas. Ibu juga akan mendapatkan transfusi darah bila terjadi pembekuan darah.

 

Sumber:

  1. AcademiaEdu: Gena Alvionita dkk. 2013. http://www.academia.edu/10719471/Solusio-plasenta [diakses pada 1 Februari 2019]
  2. AcademiaEdu: http://www.academia.edu/8658447/79093451-Solusio-Plasenta-BAB-I-II-III [diakses pada 1 Februari 2019]