Terbit: 17 Februari 2020 | Diperbarui: 18 Mei 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Skoliosis adalah kondisi yang lebih rentan terjadi terhadap remaja wanita dibanding laki-laki. Berdasarkan deteksi dini yang dilakukan di Solo, Jawa Tengah pada tahun 2018, hasil pemeriksaan menunjukan bahwa 92 anak dari 1156 siswa mengalami kelainan pada tulang belakang, 80 di antaranya adalah siswi dan sisanya 12 siswa. Meski tergolong tidak berbahaya, tetapi jika dibiarkan dapat menyebabkan kelumpuhan!

Skoliosis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Skoliosis?

Skoliosis adalah kondisi tulang belakang yang melengkung ke arah samping, seperti membentuk huruf C atau S. Kondisi ini sering terjadi pada anak-anak yang masih dalam masa pertumbuhan atau pubertas, terutama anak berusia 10 sampai 15 tahun.

Kebanyakan lengkungan pada tulang belakang cenderung ringan, tetapi beberapa kelainan tulang belakang terus bertambah parah saat anak dalam masa pertumbuhan, bahkan yang berat bisa melumpuhkan. Kelainan tulang belakang yang sangat parah dapat mempersempit ruang di dalam dada, menyebabkan paru-paru sulit berfungsi dengan baik.

Gejala Skoliosis

Skoliosis adalah kelainan tulang belakang yang lebih sering tampak jelas sejak bayi dan remaja. Kondisi ini menjadi mudah dikenali sejak dini sehingga dapat segera ditangani dengan cepat.

1. Gejala Skoliosis pada Remaja

Jenis yang paling sering muncul pada remaja dikenal sebagai skoliosis idiopatik remaja. Jenis ini dapat menyerang anak-anak sejak usia 10 tahun. Istilah idiopatik digunakan karena  penyebabnya yang tidak dapat diketahui. Gejalanya termasuk:

  • Tulang rusuk tidak simetris, sehingga tampak miring
  • Satu sisi pinggul lebih menonjol dari sisi sebelahnya
  • Satu sisi bahu atau tulang belikat lebih tinggi dari sisi sebelahnya
  • Bentuk tubuh miring seperti bersandar ke satu sisi
  • Panjang kaki tidak rata

2. Gejala Skoliosis pada bayi

Sementara gejala pada bayi di antaranya:

  • Menonjol di satu sisi dada
  • Berbaring melengkung ke satu sisi (secara konsisten)
  • Mengalami masalah kesehatan, termasuk pada jantung dan paru-paru yang menyebabkan sesak napas dan nyeri dada.

Kapan Harus ke Dokter?

Jika melihat tanda-tanda atau gejala skoliosis pada anak atau mungkin Anda sendiri, segera periksakan ke dokter. Skoliosis ringan sekalipun mungkin jarang dikenali orang tua dan anak pun tidak menyadarinya karena gejalanya muncul secara bertahap dan biasanya tidak menimbulkan gejala atau rasa sakit.

Terkadang, guru, teman, dan rekan dalam tim olahraga adalah orang pertama yang memerhatikan lengkungan tulang belakang anak. Jadi, memeriksakan ke dokter adalah langkah yang tepat untuk mendapatkan penanganan tepat pula.

Penyebab Skoliosis

Meskipun skoliosis non-struktural relatif jarang terjadi, tetapi berikut beberapa hal yang dapat menjadi penyebabnya:

  • Gangguan saraf dan otot. Jika otot utama di punggung mulai kejang, tulang belakang bisa tertarik ke satu arah dan lengkungan menyamping dapat terjadi. Kondisi yang memengaruhi saraf dan otot termasuk cerebral palsy, poliomyelitis, dan distrofi otot.
  • Panjang kaki berbeda. Ketika satu kaki secara signifikan lebih panjang dari kaki sebelahnya, lengkungan tulang belakang mungkin tampak jelas saat berdiri.
  • Peradangan. Jika area tubuh ke satu sisi tulang belakang atau yang lain mulai meradang, skoliosis dapat terjadi. Beberapa kemungkinan penyebabnya bisa jadi karena radang usus buntu atau pneumonia.
  • Kongenital (bawaan sejak lahir). Ini jarang terjadi dan disebabkan karena tulang belakang berkembang secara tidak normal ketika janin masih dalam kandungan.
  • Skoliosis sindrom. Ini dapat berkembang sebagai bagian dari penyakit lain, termasuk neurofibromatosis dan sindrom Marfan.
  • Osteoporosis. Kondisi ini dapat menyebabkan skoliosis sekunder akibat degenerasi tulang.
  • Penyebab lain. Postur tubuh yang buruk mungkin disebabkan karena membawa ransel atau tas, gangguan jaringan ikat, dan beberapa cedera.

Faktor Risiko Skoliosis

Faktor yang dapat meningkatkan terjadinya skoliosis di antaranya:

  • Usia. Tanda dan gejala biasanya dimulai seiring pertumbuhan yang terjadi sesaat sebelum pubertas.
  • Jenis kelamin. Meskipun anak laki-laki dan perempuan mengalami kelengkungan tulang belakang ringan dengan waktu yang hampir sama, anak perempuan memiliki risiko yang lebih tinggi dan membutuhkan perawatan.
  • Riwayat keluarga. Skoliosis dapat terjadi pada salah satu anggota keluarga, tetapi kebanyakan penderitanya tidak memiliki riwayat keluarga dengan penyakit ini.

Diagnosis Skoliosis

Pemeriksaan fisik tulang belakang menjadi langkah awal yang dilakukan dokter untuk memastikan skoliosis. Dokter juga dapat menyarankan beberapa tes pencitraan untuk melihat tulang belakang secara lebih dekat.

1. Pemeriksaan fisik

Dokter akan mengamati punggung Anda saat berdiri dengan tangan di samping tubuh. Dokter akan memeriksa kelengkungan tulang belakang dan apakah bahu dan pinggang simetris. Selanjutnya, dokter akan meminta Anda untuk membungkuk ke depan, mencari kelengkungan di punggung atas dan bawah Anda.

2. Tes Pencitraan

Tes ini dapat direkomendasikan oleh dokter untuk mencari penyakit skoliosis meliputi:

  • X-ray. Selama tes ini, radiasi digunakan untuk membuat gambar tulang belakang untuk mencari kelainan pada tulang.
  • Pemindaian MRI. Tes ini menggunakan gelombang radio dan magnetik untuk menghasilkan gambar secara rinci tentang tulang dan jaringan di sekitarnya.
  • CT scan. Selama tes ini, sinar-X digunakan pada berbagai sudut untuk menghasilkan gambar 3D bagian dalam tubuh.
  • Pemindaian tulang. Tes ini dilakukan dengan menyuntikkan larutan ke dalam darah yang terkonsentrasi di area sirkulasi yang meningkat, untuk mendeteksi kelainan pada tulang belakang.

Jenis Skoliosis

Penyakit skoliosis terbagi menjadi berbagai jenis, berikut penjelasannya:

  • Kongenital. Di mana kelainan bentuk tulang belakang telihat saat lahir.
  • Neuromuskular. Hasil dari otot atau saraf yang abnormal. Skoliosis ini sering terlihat pada orang dengan spina bifida (kondisi saraf tulang belakang yang berada di luar tulang) atau cerebral palsy (kelainan otak) atau pada mereka dengan berbagai kondisi yang disertai dengan kelumpuhan.
  • Degeneratif. Ini mungkin akibat dari trauma (dari cedera atau sakit) yang menyebabkan hancurnya struktur tulang, akibat proses pembedahan besar sebelumnya, atau akibat osteoporosis (pengeroposan tulang).
  • Idiopatik. Jenis yang paling umum adalah skoliosis idiopatik, ini tidak memiliki penyebab tertentu yang dapat diidentifikasikan. Ada banyak teori, tetapi belum ditemukan penyebab pastinya. Ada bukti kuat bahwa idiopatik diwariskan secara genetik.
  • Kifosis Scheuermann. Adalah kondisi ketika tulang belakang cenderung membulat, sehingga postur tubuh membungkuk. Kifosis biasanya memengaruhi tulang belakang leher dan tulang belakang dada. Kifosis Scheuermann adalah salah satu dari tiga jenis kifosis dan biasanya diderita selama masa remaja.
  • Skoliosis Sindrom. Adalah suatu bentuk skoliosis yang berkembang sekunder dari beberapa jenis sindrom, termasuk sindrom Rett, sindrom Beale, distrofi otot, osteochondro distrofi, dan berbagai gangguan jaringan ikat. Gejalanya sangat bervariasi dan biasanya tidak menyakitkan, namun dapat menyebabkan ketidaknyamanan atau rasa sakit saat duduk (jika kondisinya parah).

Pengobatan Skoliosis

Pengobatannya tergantung sejumlah faktor, namun tingkat kelengkungan tulang belakang menjadi yang utama. Biasanya dokter juga akan mempertimbangkan beberapa faktor berikut:

  • Usia
  • masa pertumbuhan
  • Jumlah dan jenis kelengkungan
  • Jenis skoliosis

1. Perubahan Gaya Hidup dan Pengobatan Rumahan

Meskipun latihan terapi skoliosis tidak dapat mengatasi, tetapi latihan umum atau berolahraga mungkin dapat meningkatkan kesehatan secara keseluruhan.

2. Obat-obatan

Dokter mungkin akan meresepkan obat pereda nyeri atau antiperadangan.

3. Bracing

Penderitanya mungkin perlu menggunakan alat penyangga jika masih dalam masa pertumbuhan dan kelengkungan lebih dari 25 hingga 40 derajat.

Penyangga tidak akan meluruskan tulang belakang, tetapi untuk mencegah lengkungan meningkat. Cara ini lebih efektif untuk penyakit skoliosis yang terdeteksi sejak dini.

Mereka yang membutuhkan penyangga perlu memakainya selama 16 hingga 23 jam sehari sampai berhenti masa pertumbuhan. Dokter biasanya menyarankan agar anak-anak memakai penyangga mencapai usia remaja dan sudah berhenti masa pertumbuhan.

4. Operasi

Salah satu cara menyembuhkan skoliosis ini biasanya dilakukan bagi orang dengan memiliki lengkungan tulang belakang mencapai 40 derajat. Tetapi, konsultasikan dengan dokter tentang pilihan ini jika Anda telah didiagnosis dan merasa kelengkungan telah mengganggu kehidupan sehari-hari atau menyebabkan ketidaknyamanan.

Operasi fusi tulang belakang adalah operasi standar untuk lengkungan tulang belakang. Prosedur ini mengharuskan dokter untuk menggabungkan tulang belakang menggunakan cangkok tulang, batang, dan sekrup. Cangkok tulang terdiri dari tulang atau yang menyerupai tulang.

Batang yang menahan tulang belakang dalam posisi lurus, dan sekrup menahannya pada tempatnya. Cangkok tulang dan tulang belakang bergabung menjadi satu tulang. Batang dapat disesuaikan pada anak-anak saat mereka masih dalam masa pertumbuhan.

Prosedur ini tergolong berisiko. Beberapa risiko operasi fusi tulang belakang di antaranya:

  • Perdarahan yang berlebihan
  • Kegagalan penyembuhan
  • Infeksi
  • Rasa sakit
  • Kerusakan saraf

Komplikasi Skoliosis

Kebanyakan penderitanya memiliki bentuk gangguan ringan, skoliosis terkadang dapat menyebabkan komplikasi, termasuk:

1. Kerusakan Paru-Paru dan Jantung

Skoliosis yang berat menyebabkan tulang rusuk dapat menekan paru-paru dan jantung, ini dapat mengakibatkan kesulitan bernapas dan lebih sulit bagi jantung untuk memompa darah.

2. Sakit Punggung Kronis

Orang dewasa yang menderita kelainan tulang belakang cenderung mengalami sakit punggung kronis.

3. Mengganggu Penampilan

Jika skoliosis memburuk, kondisi ini dapat menyebabkan perubahan bentuk badan, seperti pinggul dan bahu yang tidak rata, tulang rusuk yang menonjol, dan pergeseran pinggang ke samping. Penderita skoliosis biasanya menjadi sadar akan penampilannya.

Pencegahan Skoliosis

Skoliosis umumnya tidak dapat dicegah. Sekitar 80% kasus lengkungan pada tulang belakang adalah idiopatik, yang berarti bahwa penyebabnya tidak diketahui. Idiopatik biasanya berkembang selama masa pubertas, jadi jika anak remaja atau pra-remaja baru-baru ini didiagnosis menderita kelainan tulang belakang, ada kemungkinan idiopatik.

Karena penyebab skoliosis tidak diketahui dalam kasus ini, oleh karena itu kondisi ini tidak dapat diantisipasi dan tidak ada cara yang dapat dilakukan untuk pencegahannya.

 

  1. Anonim. 2018. Rs. Ortopedi Soeharso Surakarta Raih Rekor Muri Deteksi Dini Skoliosis pada 1000 Siswa SMP se-Solo Raya. http://yankes.depkes.go.id/read-rs-ortopedi-soeharso-surakarta-raih-rekor-muri-deteksi-dini-skoliosis-pada-1000-siswa-smp-sesolo-raya-3790.html. (Diakses 17 Februari 2020).
  2. Anonim. Scoliosis in Children and Adolescents. https://www.niams.nih.gov/health-topics/scoliosis. (Diakses 17 Februari 2020).
  3. Anonim. 2017. Scoliosis Prevention: Is It Possible to Prevent Spinal Curvature Before It Happens?. https://www.scoliosissos.com/news/post/scoliosis-prevention. (Diakses 17 Februari 2020).
  4. Johnson, Shannon. 2016. Everything You Need to Know About Scoliosis. https://www.healthline.com/health/scoliosis. (Diakses 17 Februari 2020).
  5. Mayo Clinic Staff. 2019. Scoliosis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/scoliosis/symptoms-causes/syc-20350716. (Diakses 17 Februari 2020).
  6. Novakovic, Alex. 2010. Everything you need to know about scoliosis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/190940. (Diakses 17 Februari 2020).
  7. Stitzel, Clayton J. 2017. 7 Types of Scoliosis & Their Differences. https://www.treatingscoliosis.com/blog/scoliosis-types-differences/. (Diakses 17 Februari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi