Terbit: 18 September 2020 | Diperbarui: 5 Oktober 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sistiserkosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh larva cacing pita yaitu Taenia solium (T. solium). Infeksi terjadi setelah seseorang mengonsumsi daging babi yang mengandung telur T. solium. Ketahui gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Sistiserkosis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Sistiserkosis?

Sistiserkosis adalah penyakit yang disebabkan oleh larva cacing pita di dalam jaringan. Cacing pita sendiri bisa menyerang bagian tubuh manapun termasuk otak, suatu kondisi yang dikenal sebagai neurocysticercosis. Selain memengaruhi otak, infeksi juga bisa memengaruhi mata, sumsum tulang belakang, kulit, dan jantung.

Gejala Sistiserkosis

Pada dasarnya gejala akan tergantung pada lokasi dan jumlah larva (cysticerci). Meski begitu, banyak orang dengan kondisi ini tidak mengalami gejala sama sekali. Sedangkan seseorang yang memiliki kondisi ini biasanya memiliki gejala yang terkait dengan sistem saraf pusat (neurocysticercosis). Gejala dari kondisi ini, antara lain:

  • Mual
  • Muntah
  • Sakit perut
  • Sakit kepala
  • Kelesuan
  • Kebingungan
  • Penglihatan kabur
  • Masalah keseimbangan
  • Mati rasa
  • Kejang (sering kali gejala yang muncul terjadi pada sekitar 70% orang dengan neurocysticercosis)
  • Ablasio retina

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Penyakit ini membutuhkan penanganan medis. Jika Anda mengalami beberapa gejala seperti di atas, segera dapat perawatan dari tenaga medis profesional.

Penyebab Sistiserkosis

Penyebab utama kondisi ini adalah larva cacing pita yaitu Taenia solium yang membentuk kista di berbagai organ tubuh. Saat telur T. solium dicerna oleh manusia, telur akan menetas dan embrio menembus dinding usus dan mencapai aliran darah. Pembentukan kista di jaringan tubuh yang berbeda menyebabkan perkembangan gejala yang bervariasi tergantung pada lokasi dan jumlah kista.

Faktor Risiko Sistiserkosis

Seseorang berisiko lebih tinggi memiliki kondisi ini jika tinggal di mana babi berkeliaran bebas dan bersentuhan dengan kotoran manusia. Selain itu, makanan/minuman yang terkontaminasi dengan T. solium dan tinggal di rumah dengan anggota keluarga yang mengalami infeksi cacing pita (taeniasis) juga bisa meningkatkan risiko.

Baca Juga: Gejala Cacingan pada Orang Dewasa Berdasarkan Jenis Cacing 

Masa Inkubasi

Masa inkubasi taeniasis dapat bervariasi, beberapa individu mungkin asimtomatik. Sedangkan seseorang dengan kondisi ini dapat mengembangkan gejala nonspesifik seperti ketidaknyamanan perut, mual, diare, atau sembelit sekitar enam hingga delapan minggu setelah menelan daging babi yang mengandung cysticerci.

Masa inkubasi kondisi ini bervariasi, banyak orang mungkin tidak menunjukkan gejala sama sekali, sementara yang lain mungkin tidak mengalami gejala sampai bertahun-tahun setelah infeksi.

Apakah Sistiserkosis Menular?

Kondisi ini sebenarnya tidak menular, namun orang yang membawa cacing pita dapat mengeluarkan telur cacing pita dari kotorannya. Seseorang yang tidak menjaga kebersihan, terutama tidak mencuci tangan setelah keluar dari mandi, dapat menginfeksi orang lain atau diri sendiri.

Diagnosis Sistiserkosis

Kondisi ini terkadang sulit untuk didiagnosis karena banyak orang yang mengalaminya tidak menunjukkan gejala. Diagnosis dilakukan setelah pasien mengalami gejala penyakit. Selain itu, diagnosis juga mungkin memerlukan kombinasi tes dan studi pencitraan.

Presentasi klinis dengan hasil pencitraan radiografi abnormal (CT scan otak/MRI otak) mengarah pada diagnosis neurocysticercosis.

Selain itu, tes darah terkadang dapat digunakan sebagai tambahan dalam membuat diagnosis, meskipun tidak selalu membantu atau akurat. Meski jarang dilakukan, biopsi dari jaringan yang terkena mungkin diperlukan untuk menegakkan diagnosis. Pemeriksaan feses terkadang juga dilakukan karena mungkin mengandung telur parasit yang dapat diidentifikasi.

Pengobatan Sistiserkosis

Pada dasarnya, pengobatan tergantung pada berbagai faktor. Secara umum, pengobatan disesuaikan dengan kondisi pasien. Pengobatan regimen dapat mencakup agen antelmintik, kortikosteroid, obat antikonvulsan, atau pembedahan. Pasien tanpa gejala mungkin tidak memerlukan pengobatan sama sekali.

Berikut adalah beberapa pengobatan yang bisa digunakan, di antaranya:

  • Agen Antelmintik

Agen antelmintik yang paling umum digunakan termasuk albendazole dan praziquantel. Obat antiparasit ini efektif dalam menghilangkan cysticerci yang aktif, meskipun dapat menyebabkan peradangan lokal reaktif. Akibatnya, penggunaan obat-obatan ini harus dievaluasi kasus per kasus. Lebih dari satu rangkaian pengobatan mungkin diperlukan untuk menghilangkan cacing pita aktif sepenuhnya.

  • Kortikosteroid

Obat ini juga dapat digunakan bersama atau sebagai pengganti obat antiparasit. Kortikosteroid hanya digunakan untuk mengurangi peradangan tetapi tidak aktif melawan parasit. Penting untuk diketahui, perawatan dengan obat-obatan ini harus disesuaikan dengan kondisi kesehatan. Konsultasi dengan dokter diperlukan.

  • Antikonvulsan

Obat antikonvulsan digunakan pada pasien dengan neurocysticercosis yang mengalami kejang atau berisiko tinggi mengalami kejang berulang. Berbagai obat antikonvulsan seperti karbamazepin atau fenitoin mungkin dapat diresepkan oleh dokter. Konsultasi dengan ahli saraf berpengalaman mungkin membantu untuk menentukan perawatan.

  • Pembedahan

Manajemen bedah mungkin diperlukan dalam kondisi tertentu. Operasi pengangkatan kista sistem saraf pusat atau penempatan pirau otak (untuk mengurangi tekanan) kadang-kadang diperlukan dalam beberapa kasus neurocysticercosis. Kasus-kasus lain yang melibatkan mata atau kista subkutan mungkin juga memerlukan pembedahan.

Komplikasi Sistiserkosis

Berikut ini adalah beberapa komplikasi yang mungkin terjadi apabila kondisi ini tidak mendapatkan penanganan yang tepat, antara lain:

  • Pembengkakan otak
  • Hidrosefalus
  • Meningitis kronis
  • Vaskulitis
  • Kelumpuhan
  • Kejang
  • Stroke
  • Gangguan penglihatan
  • Masalah kognitif
  • Kematian

Pencegahan Sistiserkosis

Pada dasarnya, ini adalah kondisi yang bisa dicegah. Beberapa langkah yang bisa dilakukan agar tidak terkena infeksi parasit adalah:

  • Hindari mengonsumsi daging babi setengah matang untuk menghindari infeksi usus.
  • Menghindari kemungkinan jalur penularan fecal-oral dengan rutin mencuci tangan.
  • Menjaga kebersihan makanan dengan mencuci dan mengupas semua sayuran dan buah mentah sebelum dimakan.
  • Melakukan skrining saat melakukan kontak dengan individu yang terinfeksi.
  • Jika bepergian ke daerah endemik sistiserkosis, minumlah hanya dari air kemasan atau air rebus.

 

  1. Davis, Charles Patrick. 2019. Cysticercosis. https://www.emedicinehealth.com/cysticercosis/article_em.htm#what_is_cysticercosis_taeniasis. (Diakses pada 18 September 2020).
  2. Doerr, Steven. Cysticercosis (Pork Tapeworm Infection). https://www.medicinenet.com/cysticercosis/article.htm#how_is_cysticercosis_transmitted. (Diakses pada 18 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi