Penderita Sinusitis Tak Boleh Minum Susu?

susu-sinus-doktersehat
Photo Source: Flickr/infinity_studio

DokterSehat.Com– Susu adalah salah satu minuman terbaik bagi kesehatan. Kandungan nutrisinya yang tinggi disebut-sebut bisa membuat kondisi tubuh semakin meningkat. Hanya saja, apakah benar jika penderita sinusitis tak boleh minum susu? Berikut adalah faktanya.

Dampak Minum Susu bagi Penderita Sinusitis

Sebagai informasi, sinusitis atau infeksi sinus adalah kondisi yang bisa menyebabkan sensasi nyeri pada saluran hidung akibat terjadinya peradangan di bagian tersebut. Rasa nyeri ini bisa menyebabkan sakit kepala, hidung tersumbat, demam, dan gejala lainnya.

Banyak penderita sinusitis yang khawatir untuk mengonsumsi susu atau produk turunannya, anggur, serta minuman beralkohol karena menganggap minuman-minuman ini bisa menyebabkan gejala sinusitis semakin parah. Ternyata, anggapan ini memang benar. Pakar kesehatan menyarankan mereka untuk mengurangi atau bahkan menghindarinya.

Penderita sinusitis justru lebih disarankan untuk memperbanyak asupan air putih. Hal ini bisa membantu menjaga kelembapan selaput lendir sehingga membantu meredakan gejala sinus yang cukup mengganggu. Mereka juga disarankan untuk mengonsumsi teh herbal hangat atau sup hangat yang sangat nikmat. Hanya saja, pastikan bahwa kandungan garam atau gula di dalamnya tidak banyak.

Penderita sinusitis juga sangat disarankan untuk mengonsumsi makanan tinggi vitamin C yang bisa mengatasi pilek atau infeksi pada saluran pernapasan layaknya stroberi, jeruk, paprika, dan brokoli. Konsumsi makanan tinggi vitamin A seperti wortel dan ubi yang membantu menjaga kondisi selaput lendir juga sangat direkomendasikan.

Minuman jahe hangat yang bisa membantu melawan infeksi dan flu juga bisa dijadikan pilihan lainnya bagi penderita sinusitis untuk mengatasi gejala masalah kesehatan yang dideritanya.

Membedakan Flu dengan Sinusitis

Masih banyak orang yang kesulitan untuk membedakan sinusitis dengan flu parah. Padahal, gejala dan penanganan dari masalah kesehatan ini berbeda. Sebagai contoh, flu parah biasanya akan menyebabkan nyeri pada tenggorokan, batuk, hidung mampet, sakit kepala, dan bersin-bersin. Selain itu, ada yang juga mengalami gejala berupa demam atau badan lemas.

Flu biasanya berawal dari sensasi nyeri pada tenggorokan dan kemudian diikuti dengan gejala seperti hidung mampet atau berair, dan bersin-bersin. Dalam banyak kasus, hal ini juga akan berlanjut menjadi batuk-batuk setelah beberapa hari. Asalkan kita beristirahat, menambah asupan air putih, atau memperbanyak asupan makanan bergizi, flu biasanya akan mereda dengan sendirinya.

Hal yang berbeda terjadi pada sinusitis. Tak hanya merasakan gejala seperti flu berat, sakit  kepala, demam, batuk-batuk, hingga tubuh yang lemas, kita juga akan merasakan gejala seperti tekanan pada bagian belakang mata dan pipi, napas menjadi semakin susah dilakukan, hingga munculnya ingus dengan warna kuning atau kehijauan yang sangat kental. Bahkan, ada yang sampai tidak bisa mencium aroma akibat hal ini.

Sinusitis Harus Ditangani Dengan Serius

Berbeda dengan flu yang biasanya akan mereda dengan sendirinya, sinusitis harus ditangani dengan lebih serius seperti dengan mengonsumsi antibiotik. Selain itu, dokter juga bisa memberikan terapi sinus irrigation demi membunuh berbagai macam kuman penyebab masalah kesehatannya.

Jika infeksi sinus sudah berlangsung dengan sangat parah dan tak kunjung mereda meskipun sudah diberi antibiotik atau obat steroid, ada baiknya penderitanya juga berkunjung ke dokter THT demi mendapatkan penanganan yang lebih baik seperti operasi.

Pakar kesehatan menyebut mereka yang mengalami masalah alergi atau hobi merokok lebih rentan terkena masalah sinusitis. Karena alasan inilah sebaiknya memang kita lebih cermat jika mengalami alergi dan sebaiknya menghindari rokok.

 

Sumber:

  1. 2019. Suffering from a sinus infection? Here’s what you should include in your diet. indianexpress.com/article/lifestyle/health/suffering-from-a-sinus-infection-heres-what-you-should-include-in-your-diet-6109571/. (Diakses pada 13 November 2019).