Terbit: 28 Juli 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Sinusitis kronis adalah kondisi ketika rongga di sekitar saluran hidung terinfeksi dan meradang selama tiga bulan atau lebih, meskipun telah diobati. Kondisi ini membuat Anda sulit bernapas dan area di sekitar mata mungkin terasa nyeri akibat pembengkakan yang terjadi. Simak gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Sinusitis Kronis: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Sinusitis Kronis?

Sinusitis kronis adalah peradangan dan pembengkakan pada sinus yang disebabkan oleh infeksi. Sinus merupakan rongga kecil yang saling terhubung melalui saluran udara di dalam tulang tengkorak.

Sinus sendiri dapat terinfeksi ketika tersumbat dan dipenuhi cairan atau lendir. Kondisi ini mungkin memerlukan berbagai jenis perawatan, pembedahan kadang-kadang diperlukan pada kasus parah yang tidak merespons metode lain.

Gejala Sinusitis Kronis

Perlu Anda ketahui, gejala sinusitis kronis dan sinusitis akut memiliki tanda yang serupa, akan tetapi sinusitis akut adalah infeksi sementara pada sinus yang sering dikaitkan dengan pilek, sedangkan tanda dan gejala kronis berlangsung setidaknya 12 minggu.

Tanda dan gejala umum dari kondisi ini meliputi:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku PTH - Advertisement

  • Kotoran yang tebal dan berubah warna dari hidung.
  • Lendir yang mengalir di bagian belakang tenggorokan (drainase postnasal).
  • Hidung tersumbat sampai menyebabkan sulit untuk bernapas.
  • Rasa sakit, nyeri, dan bengkak di sekitar mata, pipi, hidung atau dahi.
  • Penurunan fungsi indra penciuman dan perasa.
  • Telinga terasa sakit.
  • Nyeri pada rahang dan gigi bagian atas.
  • Batuk.
  • Sakit tenggorokan.
  • Bau mulut.
  • Kelelahan.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Konsultasi dengan dokter diperlukan jika kondisi tidak merespons perawatan yang dilakukan dan memiliki gejala sinusitis kronis yang berlangsung lebih dari 10 hari. Sementara tindakan medis harus segera dilakukan jika kondisi ini dibarengi dengan:

  • Demam.
  • Pembengkakan atau kemerahan di sekitar mata.
  • Sakit kepala parah.
  • Pembengkakan dahi.
  • Kebingungan.
  • Penglihatan ganda.
  • Leher menjadi kaku.

Penyebab Sinusitis Kronis

Virus yang masuk melalui saluran pernapasan atas dapat memicu sinus menghasilkan lendir berlebih, sehingga terjadi penumpukan dan penyumbatan pada saluran hidung. Kondisi ini mendorong bakteri atau kuman semakin berkembang di rongga sinus dan menyebabkan infeksi.

Penyebab umum kondisi ini meliputi:

  • Polip hidung. Pertumbuhan jaringan ini dapat memblokir saluran hidung atau sinus.
  • Deviasi septum nasal. Septum (dinding di antara lubang hidung) yang bengkok dapat membatasi atau memblokir saluran sinus, sehingga membuat gejala sinusitis lebih buruk.
  • Kondisi medis lainnya. Komplikasi kondisi seperti fibrosis kistik, HIV, dan penyakit lain yang berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh dapat menyebabkan penyumbatan hidung.
  • Infeksi saluran pernapasan. Infeksi pada saluran pernapasan dapat mengentalkan membran sinus dan menghambat drainase lendir. Infeksi ini dapat berupa virus, bakteri, atau jamur.
  • Rhinitis alergi. Peradangan yang terjadi akibat alergi dapat memblokir sinus.

Faktor Risiko

Seseorang berisiko lebih tinggi terkena kondisi ini jika memiliki:

  • Deviasi septum nasal.
  • Polip hidung.
  • Asma.
  • Sensitivitas aspirin.
  • Infeksi gigi.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh seperti HIV/AIDS atau fibrosis kistik.
  • Rhinitis alergi atau memiliki jenis alergi lainnya.
  • Paparan reguler terhadap polutan seperti asap rokok.

Diagnosis Sinusitis Kronis

Sinusitis kronis didiagnosis ketika gejala infeksi sinus sudah berlangsung selama lebih dari 12 minggu. Beberapa langkah yang bisa dilakukan dokter untuk menentukan penyebab yang mendasarinya, antara lain:

  • Melihat kondisi sinus. Sebuah selang tipis dan fleksibel dengan kamera kecil dimasukkan melalui hidung untuk memungkinkan dokter melihat bagian dalam sinus.
  • Tes pencitraan. Gambar yang diambil menggunakan CT scan atau MRI dapat menunjukkan detail sinus. Tes ini mungkin menunjukkan peradangan atau obstruksi fisik yang sulit dideteksi menggunakan endoskop.
  • Tes alergi. Jika dokter mencurigai bahwa alergi mungkin memicu sinusitis kronis, Anda mungkin disarankan untuk tes kulit alergi. Tes ini dapat membantu mendeteksi alergen apa yang menyebabkan kondisi.
  • Mengambil sampel dari hidung dan sinus (cultures). Prosedur ini  pada umumnya tidak diperlukan untuk mendiagnosis sinusitis kronis. Namun, ketika kondisi gagal merespons pengobatan atau memburuk, dokter mungkin perlu mengambil sampel guna membantu menentukan penyebabnya.

Pengobatan Sinusitis Kronis

Beberapa pakar menyakini bahwa kondisi ini mungkin merupakan gangguan peradangan yang mirip dengan asma dan alergi. Berikut beberapa obat sinusitis kronis dan opsi perawatan yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Nasal corticosteroids. Semprotan hidung ini membantu mencegah dan mengobati peradangan. Contohnya termasuk fluticasone, triamcinolone, budesonide, mometasone, dan beclomethasone.
  • Saline nasal irrigation. Semprotan hidung atau larutan ini mengurangi penumpukan cairan dan menghilangkan iritasi dan alergi.
  • Kortikosteroid oral atau injeksi. Obat-obat ini digunakan untuk meredakan peradangan dari sinusitis parah, terutama jika Anda juga memiliki polip hidung. Kortikosteroid oral dapat menyebabkan efek samping yang serius ketika digunakan dalam jangka panjang, jadi obat ini hanya digunakan untuk mengobati gejala parah.
  • Aspirin desensitization. Jika Anda memiliki reaksi terhadap aspirin yang menyebabkan sinusitis. Di bawah pengawasan medis, Anda secara bertahap diberikan dosis aspirin yang lebih besar untuk meningkatkan toleransi.
  • Antibiotik. Jika dokter tidak dapat mengesampingkan infeksi yang mendasarinya, ia mungkin merekomendasikan antibiotik, kadang-kadang dengan obat lain.
  • Imunoterapi. Jika alergi berkontribusi pada sinusitis, suntikan alergi (imunoterapi) yang membantu mengurangi reaksi tubuh terhadap alergen tertentu.
  • Operasi. Dalam kasus yang resisten terhadap pengobatan, bedah sinus endoskopi fungsional mungkin bisa menjadi pilihan. Tergantung pada sumber obstruksi, dokter mungkin menggunakan berbagai instrumen untuk menghilangkan jaringan atau memotong polip yang menyebabkan penyumbatan hidung. Memperbesar lubang sinus yang sempit juga bisa menjadi pilihan untuk mengeluarkan cairan yang tersumbat.

Komplikasi Sinusitis Kronis

Meski dalam kondisi kronis, penyakit ini sebenarnya tidak berbahaya. Namun, dalam beberapa kasus, gangguan ini mengindikasikan kondisi mendasar yang serius. Berikut ini adalah beberapa komplikasi sinusitis kronis yang jarang terjadi, di antaranya:

  • Masalah penglihatan. Jika infeksi sinus menyebar ke rongga mata, hal itu dapat menyebabkan berkurangnya penglihatan atau mungkin kebutaan.
  • Infeksi. Orang dengan sinusitis kronis dapat mengembangkan radang selaput dan cairan yang mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (meningitis), infeksi pada tulang, atau infeksi kulit yang serius.

Pencegahan Sinusitis Kronis

Berikut ini adalah beberapa langkah yang bisa Anda lakukan untuk mengurangi terkena kondisi ini, di antaranya

  • Hindari infeksi saluran pernapasan atas. Minimalkan kontak dengan orang yang menderita pilek. Sering-seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air, terutama sebelum makan.
  • Mengelola alergi. Konsultasi dengan dokter untuk mengendalikan gejala. Hindari hal-hal yang memicu alergi jika memungkinkan.
  • Hindari asap rokok dan udara yang tercemar. Asap tembakau dan kontaminan udara dapat mengiritasi dan menyebabkan peradangan pada paru-paru serta saluran hidung.
  • Gunakan pelembap udara. Jika udara di rumah kering, menambahkan kelembapan ke udara dapat membantu mencegah sinusitis.

 

  1. Anonim. Chronic sinusitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-sinusitis/symptoms-causes/syc-20351661. (Diakses pada 28 Juli 2020).
  2. Villines, Zawn. 2018. What to know about chronic sinusitis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320569#treatments. (Diakses pada 28 Juli 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi