Terbit: 12 Agustus 2020 | Diperbarui: 24 Agustus 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sindrom serotonin (SS) adalah sindrom akibat reaksi obat yang memproduksi terlalu banyak serotonin di tubuh. Ketahui apa itu sindrom serotonin, gejala, penyebab, dan cara mengatasinya.

Sindrom Serotonin: Gejala, Penyebab, dan Cara Mengatasinya

Apa Itu Sindrom Serotonin?

Sindrom serotonin adalah reaksi tubuh yang terjadi ketika sel saraf memproduksi serotonin secara berlebihan. Serotonin adalah zat kimia untuk membantu sel-sel otak dalam meningkatkan suasana hati, menciptakan suasana bahagia, serta dikaitkan sebagai pengelola depresi.

Pada dasarnya, serotonin bertindak sebagai neurotransmitter untuk mengelola kesehatan mental dan berkomunikasi dengan sistem saraf lainnya. Beberapa orang mungkin mengonsumsi obat tertentu atau dua obat berbeda secara bersamaan untuk meningkatkan hormon serotonin.

Dalam dosis berlebihan, reaksi obat tersebut mungkin memproduksi terlalu banyak serotonin hingga meningkatkan aktivasi sel saraf secara ekstrim dan berbahaya. Tanda serotonin syndrome berupa masalah pencernaan, gangguan otot, suhu tubuh, otak, aliran darah, dan masalah pernapasan.

Gejala Sindrom Serotonin

Penumpukan hormon serotonin di dalam tubuh akan menyebabkan gejala, sebagai berikut:

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

  • Kegelisahan
  • Kebingungan
  • Lekas marah
  • Halusinasi
  • Masalah pada koordinasi otot
  • Gemetaran atau tremor
  • Mual dan muntah
  • Menggigil atau merinding
  • Tekanan darah tinggi
  • Hiperrefleksia, refleks terlalu aktif
  • Kejang otot
  • Otot kaku
  • Takikardia, detak jantung cepat
  • Sakit kepala
  • Berkeringat

Dalam kondisi yang lebih serius, gejala lebih parah seperti:

  • Tidak responsif
  • Kejang
  • Pingsan
  • Koma

Umumnya, gejala serotonin syndrome terjadi setelah beberapa jam Anda mengonsumsi suatu obat yang memicu interaksi obat berupa kenaikan produksi serotonin. Kondisi ini dapat mengancam jiwa bila efek samping obat tersebut tidak segera ditangani.

Baca Juga: Obat Penenang: Jenis, Fungsi, Efek Samping, dll

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila Anda mengonsumsi obat untuk meningkatkan hormon serotonin, Anda harus berhati-hati terhadap efek samping obat tersebut. Bila Anda mencurigai adanya serotonin syndrome setelah beberapa jam mengonsumsi obat tersebut, sebaiknya segera hubungi dokter.

Penyebab Sindrom Serotonin

Serotonin syndrome adalah hasil dari interaksi obat yang memproduksi kadar serotonin berlebihan. Kondisi ini dapat terjadi bila Anda:

  • Menggunakan obat yang meningkatkan hormon serotonin dengan dosis berlebihan atau tidak sesuai jadwal.
  • Menggunakan dua atau lebih banyak obat peningkat hormon serotonin di waktu yang bersamaan.
  • Penggunaan obat peningkat hormon serotonin apapun tanpa resep dokter.
  • Mengonsumsi suplemen herbal untuk meningkatkan kadar serotonin.
  • Menggunakan obat-obatan terlarang yang diketahui dapat meningkatkan kadar serotonin.

Berikut ini beberapa obat yang dapat memicu serotonin syndrome apabila digunakan secara bersamaan atau tidak sesuai resep dokter:

1. Obat Antidepresan

Menggunakan dua obat antidepresan ini secara bersamaan akan menyebabkan tanda serotonin syndrome, yaitu:

  • Obat dalam kelas selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) seperti Celexa, Zoloft, fluoxetine (Prozac, Sarafem), fluvoxamine, Paroxetine (Paxil, Pexeva, Brisdelle), dan sertraline.
  • Obat dalam kelas obat serotonin and norepinephrine reuptake inhibitors (SNRIs) seperti Effexor, Duloxetine, Cymbalta, Drizalma Sprinkle, dan Venlafaxine.
  • Obat antidepresan trisiklik seperti nortriptyline dan amitriptyline.
  • Obat dalam kelas monoamine oxidase inhibitors (MAOIs) seperti Nardil, Isocarboxazid, dan Marplan.
  • Obat penstabil suasana hati seperti lithium (Lithobid).
  • Obat antidepresan yang mempengaruhi reseptor serotonin, seperti vilazodone (Viibryd) dan vortioxetine (Trintellix).

Obat antidepresan lain yang dikonsumsi sembarangan juga dapat meningkatkan hormon serotonin dan berbahaya, seperti bupropion (Zyban, Wellbutrin SR, Wellbutrin XL) dan trazodone (Desyrel).

2. Obat Migrain (Kategori Triptan)

Beberapa obat migrain dapat menyebabkan gejala serotonin syndrome, termasuk:

  • Almotriptan (Axert)
  • Naratriptan (Amerge)
  • Sumatriptan (Imitrex, Tosymra, lainnya)
  • Karbamazepin (Tegretol, Carbatrol, lainnya), asam valproik (Depakene)
  • Rizatriptan (Maxalt)
  • Zolmitriptan (Zomig)

Harap tidak menggunakan dua obat migrain (atau lebih) secara bersamaan.

3. Obat Pereda Nyeri

Anda berisiko mengalami tanda serotonin syndrome bila menggunakan obat pereda nyeri sembarangan, seperti:

  • Kodein
  • Fentanyl (Duragesic, Abstral, Sublimaze, Fentora, dll)
  • Fentanyl Citrate (Actiq)
  • Hydrocodone (Hysingla ER, Zohydro ER)
  • Meperidine (Demerol)
  • Oxycodone (Oxycontin, Roxicodone, others)
  • Tramadol (Ultram, ConZip)
  • Pentazocine (Talwin)

4. Obat Rekreasional/Obat Terlarang

Berikut ini contoh obat penyebab serotonin syndrome:

  • LSD (Lysergic Acid Diethylamide) salah satu jenis narkoba yang memberikan efek halusinasi kebahagiaan
  • Ekstasi (MDMA atau 3,4-Methylenedioxymethamphetamine)
  • Kokain
  • Amfetamin

Obat terlarang dikenal dapat meningkatkan hormon bahagia (serotonin) namun dapat menyebabkan efek samping karena kelebihan produksi serotonin.

5. Suplemen Makanan (Obat Herbal)

Obat herbal dikatakan aman namun tetap memiliki risiko efek samping seperti serotonin syndrome. Berikut ini beberapa suplemen yang dapat memicu peningkatan hormon serotonin berlebihan:

  • St. John’s wort
  • Ginseng
  • Pala

Interaksi obat mungkin semakin tinggi bila Anda menggunakan suplemen makanan tersebut bersamaan dengan obat antidepresan atau obat migrain lainnya.

6. Obat Lainnya

Beberapa obat lain mungkin memiliki interaksi obat berupa kenaikan serotonin, seperti:

  • Obat batuk dan pilek yang mengandung dekstrometorfan, Robitussin DM, dan Delsym (obat bebas).
  • Obat antimual seperti granisetron (Sancuso, Sustol, Kytril), metoclopramide (Reglan), droperidol (Inapsine), dan ondansetron (Zofran, Zuplenz).
  • Obat antibiotik seperti Zyvox.
  • Obat HIV/AIDS seperti Ritonavir (Norvir).

Maka dari itu, sebaiknya tidak menggunakan dua obat atau lebih secara bersamaan dan tanpa resep dokter. Gunakan obat sesuai dengan dosis dan selalu baca petunjuk penggunaan obat dengan teliti sebelum minum obat apapun.

Baca Juga: Antidepresan: Kegunaan, Jenis, Efek Samping, dll

Diagnosis Sindrom Serotonin

Dokter akan memeriksa gejala fisik yang Anda alami lalu bertanya seputar riwayat medis Anda. Dokter juga akan bertanya obat-obatan apa yang terakhir Anda minum.

Umumnya, gejala dan tanda serotonin syndrome serupa dengan overdosis obat, infeksi, masalah hormonal, atau efek samping obat. Dokter akan memeriksa seberapa parah gejala tersebut dan menyarankan tes laboratorium sesuai dengan gangguan organ atau fungsi Anda.

Cara Mengatasi Sindrom Serotonin

Dokter akan memberi opsi perawatan sesuai dengan gejala dan tingkat keparahan serotonin syndrome. Berikut ini tindakan umum yang akan diambil:

  • Bila gejalanya ringan, dokter akan meminta Anda untuk berhenti minum obat yang meningkatkan kadar serotonin tersebut.
  • Bila gejalanya sedang dan mengkhawatirkan, dokter mungkin meminta Anda untuk dirawat selama beberapa saat hingga tanda serotonin syndrome hilang.
  • Bila gejalanya berat, dokter akan menyarankan perawatan intensif di rumah sakit.

Dokter juga akan memberikan beberapa obat, seperti:

  • Obat untuk menetralkan kadar serotonin.
  • Obat untuk menghambat produksi serotonin.
  • Obat untuk memblokir produksi serotonin.
  • Obat untuk merelaksasi otot seperti diazepam (Valium, Diastat) atau lorazepam (Ativan).
  • Cairan intravena untuk mengatasi gejala dehidrasi dan demam.
  • Obat untuk mengontrol dekat jantung dan tekanan darah tinggi.

Dokter akan memberikan opsi pengobatan sesuai dengan gejala yang Anda alami. Bila gejalanya sangat parah hingga membuat sesak napas, dokter akan memberikan tabung pernapasan.

Komplikasi Sindrom Serotonin

Peningkatan hormon serotonin yang tidak terkontrol akan menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Pingsan
  • Kejang otot
  • Kerusakan jaringan otot
  • Kerusakan ginjal
  • Masalah pernapasan

Umumnya, kondisi Anda akan membaik bila kadar serotonin kembali stabil. Sebaliknya, serotonin syndrome dapat menyebabkan kematian bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat.

Cara Mencegah Sindrom Serotonin

Harap selalu menggunakan obat terkait hormon serotonin sesuai dengan resep dokter. Beritahu dokter semua obat yang sedang Anda gunakan sebelum menerima resep obat baru. Selain itu, mohon tidak menggunakan obat apapun sembarangan karena akan memicu berbagai efek samping yang tidak diinginkan.

Itulah pembahasan tentang apa itu sindrom serotonin. Hormon serotonin secara alami dibutuhkan tubuh untuk mengelola suasana hati dan fungsi tubuh lainnya, namun semuanya akan menyebabkan masalah bila diproduksi secara berlebihan. Harap hubungi dokter bila Anda mengalami efek samping terkait obat peningkat serotonin.

 

  1. Cafasso, Jacquelyn. 2018. Serotonin Syndrome. https://www.healthline.com/health/serotonin-syndrome#symptoms. (Diakses pada 12 Agustus 2020).
  2. Mayo Clinic. 2020. Serotonin syndrome. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/serotonin-syndrome/symptoms-causes/syc-20354758. (Diakses pada 12 Agustus 2020).
  3. WebMD. 2020. Serotonin Syndrome. https://www.webmd.com/depression/guide/serotonin-syndrome-causes-symptoms-treatments#1. (Diakses pada 12 Agustus 2020).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi