Terbit: 14 Januari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sindrom Koro adalah salah bentuk gangguan kejiwaan yang membuat penderitanya mengalami kecemasan akut dan ketakutan berlebih akan terjadinya penyusutan penis. Ketahui penjelasan selengkapnya mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya.

Sindrom Koro: Gejala, Penyebab, dan Pengobatan

Apa Itu Sindrom Koro?

Sindrom ini ditandai dengan kecemasan yang intens bahwa penis (vulva atau puting pada wanita) menyusut ke dalam tubuh. Meski begitu, keadaan ini lebih sering terjadi pada pria dan diklasifikasikan dalam Obsessive Compulsive and Related Disorders.

Gejala Sindrom Koro

Gejala yang biasa dialami adalah sensasi kesemutan pada organ vital, biasanya diikuti dengan serangan panik yang menyerang dengan cepat. Hal ini juga menyebabkan ketakutan yang tiba-tiba karena alat kelamin akan menyusut.

Sindrom Koro banyak dijumpai pada pria muda Asia. Banyak dari pria muda ini biasanya tidak mendapat informasi tentang pubertas fisiologis. Mereka juga kehilangan informasi seks yang tepat yang menjelaskan perkembangan fisik.

Pada beberapa kasus, individu yang menderita sindrom ini percaya bahwa penis mereka menyusut adalah tanda peringatan kematian yang akan segera terjadi.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Kids Baby - Advertisement

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Sering kali, penyusutan penis terkait dengan usia, pengobatan, gaya hidup tertentu seperti merokok atau penambahan berat badan, dan jarang memerlukan perawatan. Jika penyusutan penis dibarengi dengan nyeri atau masalah seksual, konsultasi dengan dokter urologi diperlukan untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Baca Juga: Penis Patah: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Penyebab Sindrom Koro

Sindrom ini banyak ditemukan di negara-negara Asia. Namun beberapa pakar tidak yakin apakah hal ini disebabkan oleh kecenderungan budaya asli terhadap kecemasan atau sindrom tersebut dimulai sebagai rumor yang telah dipahami secara harfiah.

Di negara-negara Barat, sindrom ini dikaitkan dengan kondisi psikologis. Pada kasus tertentu, seseorang yang mengalami hal ini juga didiagnosis dengan penyakit mental seperti skizofrenia, gangguan kecemasan, atau body dysmorphic disorder, sedangkan di negara-negara Asia individu yang menderita kondisi tersebut dinyatakan sehat.

Sebuah studi mencoba mengamati pasien yang menderita penyakit mental yang mendapatkan pengobatan, ternyata ketakutannya akan alat kelamin yang menyusut menjadi berkurang. Selain itu, para peneliti menduga sindrom ini mungkin lebih sering terjadi daripada yang dilaporkan. Hal itu dikarenakan banyak pasien mungkin enggan untuk melaporkan gejalanya karena merasa malu.

Penyebab Lain yang Membuat Penis Menyusut

Selain terkait dengan sindrom Koro, terdapat beberapa alasan lain mengapa penis bisa menyusut, antara lain:

  • Penuaan

Seiring bertambahnya usia pria, timbunan lemak menumpuk di arteri yang menyebabkan aliran darah ke penis berkurang. Hal ini menyebabkan sel-sel otot di tabung ereksi di dalam penis menjadi lebih lemah. Tabung ereksi menghasilkan ereksi dengan darah, jadi lebih sedikit aliran darah berarti ereksi yang terjadi lebih kecil atau lebih sedikit.

Alasan lain yang mungkin terkait dengan penyusutan penis adalah penumpukan jaringan parut yang disebabkan oleh cedera kecil selama bertahun-tahun akibat seks atau olahraga. Akumulasi jaringan parut ini memengaruhi jaringan ereksi spons pada penis, menyebabkan penis menyusut dan membatasi ukuran ereksi.

  • Penambahan Berat Badan

Meskipun penis pria mungkin tampak lebih kecil saat terjadi penambahan berat badan, Anda tidak perlu khawatir karena penis tidak menyusut. Alasan mengapa penis terlihat lebih kecil adalah karena penis menempel pada dinding perut, dan ketika perut mengembang, penis akan tertarik ke dalam. Guna mengembalikan keadaan, seorang pria harus menurunkan berat badan untuk mendapatkan bentuk penis seperti semula.

  • Operasi Prostat

Sebuah penelitian menunjukkan pria yang pernah menjalani operasi pengangkatan kanker kelenjar prostat (prostatektomi radikal) mungkin mengalami penyusutan penis.

Meski begitu, para peneliti tidak begitu tahu mengapa penyusutan terjadi setelah operasi. Beberapa peneliti menduga hal itu mungkin terkait dengan saluran kencing yang terhubung ke kandung kemih yang memendek selama prostatektomi.

  • Penyakit Peyronie

Penyakit ini membuat jaringan parut fibrosa berkembang di dalam penis yang menyebabkan penis melengkung saat ereksi.

Sering kali, ereksi melengkung bukanlah alasan untuk khawatir, tetapi bagi beberapa pria, lengkungan itu mungkin signifikan atau menyakitkan. Dokter hanya akan mempertimbangkan perawatan jika bengkokan itu menyakitkan atau mengganggu aktivitas seksual. Selain itu, Peyronie dapat menyebabkan pengurangan panjang dan lingkar penis.

  • Konsumsi Obat-obatan Tertentu

Beberapa obat dapat menyebabkan penyusutan penis. Obat antidepresan, antipsikotik, dan beberapa obat yang diresepkan untuk mengobati prostat yang membesar.

Sebuah penelitian mengungkapkan, seorang pria yang mengonsumsi finasteride untuk mengobati prostat yang membesar, dilaporkan mengalami penyusutan penis dan tingkat sensitivitas yang menurun.

Penelitian lain mengungkapkan, 41 persen pria yang menggunakan dutasteride untuk pengobatan prostat yang membesar mengalami beberapa bentuk disfungsi seksual.

  • Merokok

Bahan kimia dari rokok dapat melukai pembuluh darah di penis, mencegah penis terisi darah, dan meregang. Terlepas dari rangsangan dan pengaruhnya terhadap otak, jika pembuluh darah rusak, penis tidak akan mencapai ereksi.

Sebuah penelitian yang meneliti penis saat ereksi mengungkapkan, seorang perokok memiliki ereksi penis yang lebih pendek dibandingkan dengan pria yang tidak merokok. Para peneliti menduga merokok menghambat aliran darah dan mencegah penis meregang, keadaan yang dapat mengurangi panjang penis.

Selain itu, sebuah studi lain juga mengungkapkan bahwa merokok memengaruhi kemampuan pria untuk mempertahankan ereksi.

Baca Juga: 8 Cara Memperbesar Penis Secara Alami & Tradisional

Pengobatan Sindrom Koro

Sindrom ini sering diperlakukan sebagai fobia spesifik, sehingga obat antidepresan sering diresepkan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa antipsikotik terkadang membantu dalam mengurangi gejala. Selain itu, terapi bicara juga dapat membantu Anda mempelajari cara baru dan lebih sehat untuk berhubungan dengan tubuh.

Ahli kesehatan mental juga mungkin perlu dilibatkan untuk melakukan pemeriksaan lengkap, hal itu diperlukan untuk menentukan dengan tepat faktor mana yang berperan menyebabkan sindrom ini. Dalam banyak kasus, mengobati kondisi yang mendasarinya dapat membantu meredakan gejala. 

Nyeri, kesemutan, dan gejala fisik lainnya biasa terjadi pada kondisi ini, akan tetapi hal ini bisa juga menunjukkan kondisi fisiologis yang mendasarinya. Oleh karena itu, langkah terbaik adalah konsultasi dengan ahli urologi untuk mendapatkan penanganan yang tepat.

 

  1. Barhum, Lana. 2020. What is penis shrinkage and why does it happen?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320883. (Diakses pada 14 Januari 2021).
  2. Fritscher, Lisa. 2018. Coping WIth Koro or the Fear of Genital Retraction. https://www.verywellmind.com/koro-phobia-of-genital-retraction-2671824. (Diakses pada 14 Januari 2021).
  3. Tucker, Nikki. 2012. Koro Syndrome: The Genital Retraction Fear. https://www.medicaldaily.com/koro-syndrome-genital-retraction-fear-242674. (Diakses pada 14 Januari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi