Terbit: 1 Desember 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sindrom kelelahan kronis adalah salah satu kondisi medis yang mungkin banyak orang tidak menyadarinya, padahal orang tersebut mengalaminya. Ketahui lebih lanjut mengenai masalah medis yang satu ini mulai dari ciri-ciri, penyebab, hingga apa saja yang dapat dilakukan untuk mengobati dan mencegahnya.

Sindrom Kelelahan Kronis: Ciri-Ciri, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Sindrom Kelelahan Kronis?

Sindrom kelelahan kronis atau chronic fatigue syndrome (CFS) adalah gangguan medis yang membuat penderitanya mengalami kelelahan sepanjang waktu. Tubuh terasa lelah memang merupakan kondisi yang wajar, terutama ketika baru saja selesai beraktivitas atau sedang sakit. Namun pada kasus ini, rasa lelah muncul terus-menerus kendati tidak ada aktivitas yang dilakukan, pun tubuh sudah beristirahat secara cukup.

CFS—disebut juga myalgic encephalomyelitis—tentu saja perlu mendapat perhatian medis. Pasalnya, hal ini dapat memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Karena menderita CFS, seseorang tentu akan sangat sulit untuk bisa melakukan aktivitasnya sehari-hari. Kondisi ini lebih umum terjadi pada wanita pada rentang usia 40-50 tahun.

Ciri dan Gejala Sindrom Kelelahan Kronis

Seseorang kemungkinan mengalami sindrom kelelahan kronis apabila ia memiliki ciri-ciri sebagai berikut ini:

  • Kelelahan ekstrem, terutama sehabis melakukan aktivitas fisik berat (olahraga dsb.)
  • Masalah dengan memori atau konsentrasi
  • Sakit tenggorokan
  • Sakit kepala
  • Kelenjar getah bening yang membesar di leher atau ketiak
  • Nyeri otot atau sendi yang tidak dapat dijelaskan
  • Kepala terasa pusing saat berpindah dari berbaring ke posisi duduk atau berdiri
  • Tidur tidak nyenyak

Sindrom ini memengaruhi beberapa orang dalam beberapa siklus, dengan periode perasaan lebih buruk dan kemudian lebih baik. Gejala terkadang bahkan bisa hilang sama sekali, yang disebut sebagai remisi. Namun, sangat mungkin untuk gejala tersebut kembali kambuh di kemudian waktu.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Rasa lelah pada tubuh biasanya merupakan gejala dari suatu jenis penyakit, seperti infeksi atau gangguan psikologis. Segera periksakan diri Anda ke dokter apabila mengalami kelelahan yang ekstrem dan berlangsung dalam jangka waktu lama, serta diikuti oleh gejala-gejala yang tadi sudah disebutkan.

Penyebab Sindrom Kelelahan Kronis

Hingga saat ini, para ahli medis pun belum dapat memastikan apa yang menjadi penyebab sindrom kelelahan kronis. Namun demikian, ada dugaan hal tersebut terkait dengan sejumlah faktor berikut ini:

  • Infeksi virus. Karena beberapa orang mengalami CFS setelah mengalami infeksi virus, para peneliti pun menduga apakah memang hal ini dapat memicu gangguan tersebut. Ada beberapa jenis virus yang dicurigai, yakni virus Epstein-Barr, human herpesvirus 6, Ross River Virus (RRV, dan virus rubella.
  • Masalah sistem kekebalan. Mereka yang mengalami sindrom ini diketahui memiliki masalah pada sistem kekebalan tubunya, tetapi tidak jelas apakah gangguan tersebut cukup untuk benar-benar menyebabkan CFS.
  • Ketidakseimbangan hormon. Penderita CFS juga terkadang mengalami ketidakseimbangan kadar hormon yang diproduksi di hipotalamus, kelenjar pituitari, atau kelenjar adrenal.
  • Trauma fisik atau emosional. Beberapa orang melaporkan bahwa mereka mengalami cedera fisik atau tekanan emosional yang signifikan sebelum akhirnya mengalami kelelahan ekstrem dalam jangka panjang.

Faktor Risiko Sindrom Kelelahan Kronis

Sementara itu, sejumlah faktor kabarnya dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini. Faktor-faktor tersebut utamanya meliputi:

  • Usia. Sindrom kelelahan kronis dapat terjadi pada semua usia, tetapi paling sering menyerang orang dewasa muda hingga paruh baya.
  • Jenis kelamin. Wanita memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami CSF ketimbang pria.

Faktor-faktor lainnya yang juga memiliki peran adalah sebagai berikut:

  • Keturunan (genetik)
  • Alergi
  • Stres
  • Kondisi lingkungan sekitar

Diagnosis Sindrom Kelelahan Kronis

Penyebab kondisi ini belum terkonfirmasi secara pasti, pun gejalanya yang hampir mirip dengan kondisi medis lainnya, nampaknya akan cukup sulit bagi dokter untuk mendiagnosis apakah seseorang mengalami sindrom kelelahan kronis ini atau tidak. Terlebih lagi, banyak orang dengan CFS tidak menunjukkan gejala fisik maupun psikis yang berarti.

Dokter mungkin hanya akan mengajukan beberapa pertanyaan kepada pasien seputar keluhan yang ia alami. Pertanyaan tersebut meliputi:

  • Apa saja gejala yang dirasakan?
  • Sudah berapa lama kondisi ini berlangsung?
  • Apakah pernah mengalami kondisi ini sebelumnya?
  • Apakah sedang menderita suatu penyakit? Jika ya, penyakit apa?
  • Apakah sedang mengonsumsi obat-obatan? Jika ya, obat apa?

Orang yang mengalami sindrom ini juga umum mengalami masalah kesehatan lain pada saat yang sama, seperti gangguan tidur, sindrom iritasi usus besar, fibromyalgia, depresi atau kecemasan. Oleh sebab itu, dokter mungkin saja akan melakukan sejumlah prosedur pemeriksaan yang berkaitan dengan kondisi-kondisi tersebut.

Pengobatan Sindrom Kelelahan Kronis

Tidak ada cara yang benar-benar bisa dilakukan untuk mengobati CFS. Penanganan medis ada, namun hanya sebatas meredakan gejala yang muncul sehingga penderita tetap bisa menjalankan aktivitasnya dengan baik.

Beberapa hal yang biasa diterapkan untuk mengendalikan sindrom ini adalah sebagai berikut:

1. Obat-obatan

Ada sejumlah jenis obat-obatan untuk membantu mengatasi masalah ini, yaitu:

  • Antidepresan. Banyak orang dengan masalah kesehatan jangka panjang—termasuk CFS—juga mengalami depresi. Oleh karena itu, mengobati depresi dapat memudahkan penderita untuk meredakan gejala sindrom tersebut. Beberapa antidepresan dosis rendah membantu meningkatkan kualitas tidur dan menghilangkan rasa sakit.
  • Pengatur tekanan darah dan irama jantung. Beberapa orang dengan sindrom kelelahan kronis, terutama remaja, kerap pingsan atau mual saat berdiri atau duduk tegak. Obat untuk mengatur tekanan darah atau irama jantung mungkin bisa membantu.
  • Pereda nyeri. Gangguan medis ini kerap membuat penderitanya mengalami sakit kepala dan nyeri otot. Oleh sebab itu, penggunaan obat-obatan pereda nyeri seperti ibuprofen atau acetaminophen juga perlu.

2. Perubahan Gaya Hidup

Membuat beberapa perubahan pada gaya hidup juga sedikit banyak dapat membantu mengurangi gejala. Membatasi atau menghilangkan asupan kafein dapat membantu Anda untuk tidur lebih nyenyak. Selain itu, sebaiknya hindari atau setidaknya batasi konsumsi rokok dan minuman beralkohol.

Cara lainnya adalah dengan menghindari tidur siang—meskipun ini ada manfaatnya—jika hal ini dirasa mengganggu kemampuan Anda untuk tidur pada malam hari. Setelah itu, buat jadwal tidur malam dan tidurlah pada waktu yang sama setiap harinya. Usahakan juga untuk bangun pada waktu yang sama pada pagi hari. Anda bisa mengonsultasikan hal ini lebih lanjut dengan dokter.

Satu lagi, pastikan untuk mencukupi asupan nutrisi setiap harinya. Anda bisa memenuhi kebutuhan vitamin dan nutrisi baik dari makanan maupun suplemen. Konsultasikan hal ini juga dengan dokter.

Komplikasi Sindrom Kelelahan Kronis

Apabila Anda tidak melakukan langkah-langkah pengendalian terhadap sindrom kelelahan kronis ini, maka ada sejumlah dampak buruk yang kemungkinan terjadi, yaitu:

  • Menurunnya produktivitas.
  • Kehidupan sosial terganggu.
  • Depresi.

 

  1. Anonim. Chronic Fatigue Syndrome. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/chronic-fatigue-syndrome/symptoms-causes/syc-20360490#:~:text=Chronic%20fatigue%20syndrome%20(CFS)%20is,doesn’t%20improve%20with%20rest. (accessed on 1 December 2020)
  2. Anonim. Chronic Fatgue Syndrome (CFS/ME). https://www.nhs.uk/conditions/chronic-fatigue-syndrome-cfs/ (accessed on 1 December 2020)
  3. Anonim. Myalgic Encephalomyelitis/Chronic Fatgue Syndrome. https://www.cdc.gov/me-cfs/index.html (accessed on 1 December 2020)
  4. Sampson, S. 2020. CFS (Chronic Fatigue Syndrome). https://www.healthline.com/health/chronic-fatigue-syndrome#outlook (accessed on 1 December 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi