Sindrom John Wayne, Alasan Orang Jadi Beringas Saat Kerusuhan

demo-kerusuhan-doktersehat
Photo Source: Flickr/alisdare

DokterSehat.Com– Tak hanya membuat banyak mahasiswa dan aparat luka-luka, ada beberapa mahasiswa yang sempat kritis saat dirawat di rumah sakit. Bahkan, telah ada dua mahasiswa yang meninggal di Kendari sebagai dampak dari aksi kerusuhan saat demonstrasi yang terjadi di berbagai kota di Indonesia.

Apa Itu Sindrom Wayne?

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri Amriel menyebut aparat kepolisian dan aparat-aparat bersenjata lainnya rentan mengalami Sindrom John Wayne. Hal ini disebabkan oleh beban dan tanggung jawabnya yang sangat berat namun mereka harus selalu dituntut untuk mampu menutupinya.

Sebagai informasi, John Wayne adalah tokoh koboi lawas di Amerika Serikat. Sosok ini dituntut untuk selalu terlihat bugar, berani, kuat, dan tangguh. Hal ini menjadi tuntutan yang harus selalu dipenuhi oleh para aparat di Indonesia.

Masalahnya adalah aparat juga manusia biasa yang memiliki emosi, stres, dan masalahnya sendiri. Jika mereka memiliki masalah pada keluarga, sosial, atau adanya tekanan lainnya seperti saat berada di dalam aksi demonstrasi yang berlangsung rusuh, hal ini bisa menyebabkan overload pada otaknya dan membuat mereka akhirnya menjadi lebih beringas dan melakukan tindakan destruktif.

Selain itu, ada teori tentang penggunaan senjata pada aparat atau weapons effect. Meskipun tujuan dari penggunaan senjata ini jelas, keberadaan senjata bisa membuat seseorang lebih mudah terprovokasi sehingga akhirnya menggunakannya saat sedang dalam kondisi rusuh. Padahal, sebelumnya tidak ada niat sama sekali untuk menggunakannya.

“Jadi, kalau yang memakainya itu terus mendapatkan rangsangan dari luar, akhirnya seperti ada yang “meledak” dan membuat penggunanya menjadi agresif,” ucap Reza.

Reza menyebut tak hanya lebih baik dalam mengelola beban kerja, aparat bisa membuat kesiapan kerja menjadi lebih baik seperti dengan memiliki kemampuan mengendalikan emosi, memiliki relasi sosial yang lebih baik, dan lebih cermat dalam menggunakan senata. Selain itu dari pihak kepolisian atau angkatan bersenjata bisa saja menyediakan layanan psikologis bagi para anggotanya demi menjaga kondisi mentalnya.

Tak hanya bagi aparat, para demonstran atau masyarakat sebaiknya lebih waspada dengan provokasi yang bisa saja memicu kerusuhan. Jika memang sudah terlihat bibit-bibit kerusuhan yang sulit untuk dihentikan, tak ada salahnya untuk menyingkir demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

Tips Menahan Emosi yang Mudah Dilakukan

Pakar kesehatan menyebut dalam kondisi yang cenderung panas belakangan ini, ada baiknya kita lebih cermat dalam menahan emosi demi mencegah dampak buruk.

Berikut adalah berbagai hal yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya.

  1. Menghitung Mundur

Meskipun terlihat seperti sesuatu yang konyol, dalam realitanya menghitung mundur dari 100 ke angka yang lebih kecil bisa membantu kita untuk menurunkan kemarahan. Hal ini disebabkan oleh denyut jantung yang akhirnya ikut melambat dan akhirnya membuat kita tak lagi emosi.

2. Mengambil Napas Panjang

Saat emosi, pernapasan kita menjadi lebih cepat dan pendek. Cobalah untuk mengambil napas panjang dan dalam-dalam. Keluarkan juga dari mulut secara perlahan demi menghilangkan emosi.

3. Mengulang Beberapa Kata

Cobalah mengucapkan kata-kata seperti “Tenang”, “Kamu baik-baik saja”, atau kata yang menenangkan lainnya saat emosi demi meredakannya.

4. Menjauh

Tak ada salahnya untuk menjauh dari sesuatu yang membuat kita marah. Kita bisa pergi ke tempat yang lebih santai atau ke tempat dengan pemandangan alam yang baik demi membuat pikiran lebih tenang dan tak lagi emosi.

5. Mendengarkan Musik

Jika kita masih marah meski sudah melakukan berbagai hal di atas, tak ada salahnya untuk mendengarkan musik demi mengalihkan pikiran sekaligus membuat emosi kita lebih tenang.

 

Sumber:

  1. Aulia, Anastasia. 2019. John Wayne Syndrome dan Efek Senjata, Rentan Dialami Polisi . kompas.com/read/2019/07/26/18491261/john-wayne-syndrome-dan-efek-senjata-rentan-dialami-polisi?page=all. (Diakses pada 27 September 2019).