Terbit: 30 Agustus 2018 | Diperbarui: 9 April 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com – Menstruasi adalah hal yang lumrah dialami oleh setiap perempuan. Sejak memasuki masa pubertas, wanita akan mengalami menstruasi sebulan sekali. Hal ini terjadi karena sel telur yang dilepas tidak dibuahi oleh sperma. Walaupun demikian, tidak sedikit perempuan yang belum memahami apa yang terjadi di tubuhnya selama siklus haid berlangsung. Oleh sebab itu, simak terus artikel ini untuk mengetahui seperti apa siklus menstruasi normal pada wanita.

Seperti Apa Siklus Menstruasi Normal pada Wanita?

Baca juga: Awas, Inilah 4 Masalah Menstruasi yang Seharusnya Tidak Diabaikan

Penjelasan Siklus Menstruasi Normal

Setiap sel telur yang menempel pada dinding rahim beserta endometrium yang menebal akan luruh dalam bentuk darah menstruasi apabila tidak dibuahi oleh sel sperma. Secara umum, menstruasi terjadi setiap 25 hingga 35 hari sekali. Rentang waktu inilah yang disebut sebagai siklus menstruasi normal.

Kondisi ini menyebabkan ada wanita yang mendapatkan menstruasi sekitar 13 kali per tahun dan ada yang hanya 11 kali saja. Selama haid terjadi pada rentang waktu itu, siklus dianggap normal.

Seperti Apa Siklus Menstruasi Normal?

Selain kriteria di atas, siklus haid wanita dianggap normal bila memenuhi beberapa hal seperti berikut ini.

1. Lama menstruasi

Menstruasi yang terjadi pada wanita biasanya terjadi selama 3-7 hari per siklus. Jika menstruasi berjalan selama dua hari atau lebih dari seminggu, berarti ada gangguan sehingga Anda harus segera ke dokter untuk memeriksakan diri.

2. Darah yang keluar

Darah yang keluar saat menstruasi bisa menentukan normal atau tidaknya siklus. Darah yang keluar pada hari pertama dan kedua biasanya memiliki warna merah cukup terang. Kalau darah yang keluar berwarna gelap bisa jadi ada gangguan di area rahim.

Selanjutnya, darah yang keluar akan semakin sedikit dan warnanya gelap. Kalau di hari terakhir siklus darah yang keluar masih banyak dan segar, Anda patut waspada. Biasanya darah yang keluar terlalu banyak bisa dipicu karena endometriosis.

3. Adanya keputihan

Dalam siklus haid normal, wanita akan mengalami keputihan beberapa hari menjelang menstruasi tiba. Keputihan yang terjadi biasanya bening dan tidak disertai bercak darah. Selain itu keputihan juga tidak dibarengi dengan rasa sakit, gatal, dan munculnya aroma tidak sedap pada vagina.

Baca juga: Penyebab Telat Haid yang Sering Dialami Wanita & Cara Mengatasinya

Hormon dalam Siklus Menstruasi Normal

Selama siklus berlangsung, terdapat lima jenis hormon yang mempengaruhi setiap fase dalam satu siklus. Hormon-hormon tersebut adalah:

1. Hormon estrogen

Saat masa ovulasi dalam siklus haid normal, hormon estrogen diproduksi oleh ovarium untuk membantu pengembalian bentuk rahim setelah menstruasi berakhir, sehingga rahim siap untuk dibuahi. Hormon ini juga berperan dalam perubahan penampilan fisik remaja saat memasuki masa pubertas.

2. Hormon progesteron

Untuk menjaga ketebalan lapisan dinding rahim atau endometrium, hormon progesteron bekerja bersamaan dengan hormon estrogen. Kadar hormon progesteron yang berlebih selama siklus menstruasi normal berlangsung dapat menyebabkan rasa tidak nyaman secara fisik dan emosional, atau yang biasa disebut sindrom pramenstruasi.

3. Hormon pelutein

Hormon dengan nama lain luteinizing hormone – LH ini berperan dalam mengatur ovulasi dan siklus haid normal. Hormon yang diproduksi di kelenjar pituitari otak ini akan meningkat pada saat menstruasi berlangsung.

4. Hormon perangsang folikel

Follicle Stimulating Hormone (FSH) atau hormon perangsang folikel bekerja menyerupai hormon pelutein, yaitu menjaga agar siklus haid normal dan produksi sel telur oleh ovarium.

5. Hormon pelepas gonadotropin

Agar tubuh dapat menghasilkan hormon pelutein dan perangsang folikel dengan baik, otak juga mengeluarkan hormon pelepas gonadotropin yang berperan dalam merangsang produksi kedua hormon tersebut.

Fase dalam Siklus Menstruasi Normal

Siklus haid normal memiliki tiga fase, di antaranya:

1. Fase rolikular (Hari 1-14)

Fase ini terjadi dari sekitar hari 1-14 dalam siklus menstruasi normal. Hari pertama adalah hari pertama pendarahan merah terang, dan akhir fase ini ditandai dengan ovulasi. Sementara perdarahan menstruasi terjadi di bagian awal fase ini, indung telur secara bersamaan mempersiapkan untuk berovulasi lagi.

Kelenjar pituitari (terletak di pangkal otak) melepaskan hormon yang disebut FSH – hormon perangsang folikel. Hormon ini menyebabkan beberapa ‘folikel’ naik di permukaan ovarium. Cairan ini berisi “benjolan” masing-masing berisi telur. Akhirnya, salah satu folikel ini menjadi dominan dan di dalamnya berkembang menjadi telur dewasa tunggal; folikel lainnya menyusut kembali.

Jika lebih dari satu folikel mencapai kematangan, ini dapat menyebabkan kembar atau lebih. Folikel yang matang menghasilkan hormon estrogen, yang meningkat selama fase folikuler dan puncak dalam satu atau dua hari sebelum ovulasi. Lapisan rahim (endometrium) menjadi lebih tebal dan lebih kaya dengan darah di bagian kedua fase ini (setelah menstruasi berakhir), sebagai respons terhadap peningkatan kadar estrogen.

Tingkat estrogen yang tinggi merangsang produksi hormon melepaskan gonadotropin (GnRH), yang pada gilirannya merangsang kelenjar pituitari untuk mensekresikan hormon luteinizing (LH). Sekitar hari ke 12, lonjakan LH dan FSH menyebabkan sel telur terlepas dari folikel. Lonjakan LH juga menyebabkan lonjakan singkat testosteron, yang meningkatkan dorongan seks, tepat pada saat siklus paling subur.

2. Fase Ovulasi (Hari 14)

Pelepasan telur matang terjadi pada sekitar hari ke-14 sebagai akibat lonjakan LH dan FSH selama hari sebelumnya. Setelah dilepaskan, telur memasuki tuba fallopi di mana pembuahan mungkin terjadi, jika sperma ada. Jika sel telur tidak dibuahi, ia akan hancur setelah sekitar 24 jam. Setelah telur dilepaskan, folikel menyegel dan ini disebut korpus luteum.

3. Fase luteal (Hari 14-28)

Dalam siklus menstruasi normal, kadar FSH dan LH menurun setelah pelepasan telur. Korpus luteum menghasilkan progesteron. Jika pembuahan telah terjadi, korpus luteum terus menghasilkan progesteron yang mencegah lapisan endometrium dari gudang. Jika pembuahan belum terjadi, korpus luteum akan hancur, yang menyebabkan kadar progesteron menurun dan memberi sinyal lapisan endometrium untuk mulai terlepas.

Pendarahan Normal Saat Menstruasi

Ada berbagai macam perdarahan normal – beberapa wanita memiliki periode pendek, ringan dan lainnya memiliki periode yang lebih panjang dan berat. Periode Anda juga dapat berubah seiring waktu.

Baca juga: 5 Masalah Menstruasi yang Harus Diwaspadai Wanita

Pendarahan menstruasi normal berdasarkan kalender menstruasi memiliki beberapa jenis berikut ini:

  • Haid berlangsung selama 3-8 hari
  • Periode Anda datang lagi setiap 21-35 hari (diukur dari hari pertama dari satu periode ke hari pertama berikutnya)
  • Kehilangan darah total selama periode sekitar 2-3 sendok makan tetapi cairan dari cairan lain dapat membuatnya tampak lebih

Nah, itulah penjelasan bagaimana siklus dan fase menstruasi yang normal. Semoga ulasan di atas membantu Anda untuk lebih memahami siklus haid normal pada wanita dan kemungkinan gangguan yang terjadi.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi