Terbit: 3 Juli 2020 | Diperbarui: 4 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sifilis adalah salah satu penyakit menular seksual (PMS) yang disebabkan infeksi bakteri. Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat dapat merusak otak hingga mengancam jiwa! Ketahui gejala, penyebab, pengobatan, pencegahan, dan lainnya di bawah ini.

penyakit sifilis doktersehat

Apa Itu Sifilis?

Sifilis adalah penyakit menular seksual yang disebabkan infeksi bakteri melalui hubungan seksual, baik melalui vaginal atau oral. Penyakit dapat menular melalui kulit atau selaput lendir dengan luka.

Penyakit ini ditandai dengan luka yang tidak sakit pada alat kelamin, dubur, dan mulut, sehingga sering kali tidak disadari bahwa mengalami penyakit ini dan dapat menularkan pada pasangan seksualnya. Ini juga dapat ditularkan dari ibu ke janin dalam kandungannya.

Sifilis dini atau tahap awal masih bisa diobati, terkadang dengan suntikan penisilin. Namun, jika tanpa pengobatan dapat merusak jantung, otak, atau organ tubuh lainnya, dan bahkan kematian.

Jenis dan Gejala Sifilis

Tanda dan gejala tergantung pada beberapa jenisnya, termasuk primer, sekunder, laten, dan tersier.

Penyakit sifilis yang paling menular adalah dalam dua jenis pertama. Ketika dalam jenis laten, penyakit ini tetap aktif tetapi biasanya tanpa menunjukkan gejala. Sedangkan tersier adalah yang paling merusak kesehatan.

Berikut ini beberapa gejala sifilis berdasarkan jenisnya:

1. Primer

Sifilis adalah penyakit yang terjadi sekitar tiga hingga empat minggu setelah tertular bakteri bernama Treponema pallidum. Tanda dan gejalanya berupa luka kecil bulat atau disebut chancre yang tidak menyakitkan, tetapi dapat menular. Luka muncul pada alat kelamin, dubur, dan di dalam mulut.

2. Sekunder

Jenis ini ditandai ruam kulit dan sakit tenggorokan. Ruam tidak terasa gatal dan biasanya muncul di telapak tangan dan telapak kaki atau di bagian tubuh mana saja.

Gejala sifilis sekunder lainnya meliputi:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Pembengkakan kelenjar getah bening
  • Kelelahan
  • Nyeri sendi
  • Rambut rontok
  • Penurunan berat badan

3. Laten

Jenis ini juga disebut tersembunyi karena tidak menunjukkan gejala sifilis meski seseorang memiliki bakteri Treponema pallidum di dalam tubuhnya. Bakteri bahkan dapat menetap selama bertahun-tahun sebelum berkembang menjadi tersier.

4. Tersier

Tahap terakhir ini biasanya terjadi jika penderitanya tidak mendapatkan pengobatan dan akhirnya akan mengalami kerusakan organ otak, jantung, organ lainnya, dan mengancam jiwa. Jenis tersier dapat berlangsung selama bertahun-tahun atau beberapa dekade setelah infeksi awal.

Baca Juga: 10 Penyakit Menular Seksual (PMS): Gejalanya pada Pria dan Wanita

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Segera periksakan ke dokter jika Anda atau anak mengalami gejala seperti keputihan (pria dan wanita), ruam atau sakit yang tidak biasa, terutama muncul pada area kelamin.

Penyebab Sifilis

Penyakit sifilis disebabkan oleh bakteri Treponema pallidum yang memasuki tubuh melalui luka pada kulit atau selaput lendir (mukosa) ketika melakukan hubungan seksual dengan pasangan yang terinfeksi.

Terkadang penyakit dapat menular melalui kontak langsung dekat dengan lesi atau ruam kulit (misalnya saat berciuman) atau menular melalui ibu yang terinfeksi kepada janin dalam kandungan (bawaan).

Penyakit ini tidak dapat menular melalui penggunaan toilet, bak mandi, kolam renang, pakaian, atau peralatan makan yang sama, atau dari gagang pintu.

Sifilis yang sembuh tidak akan kambuh dengan sendirinya karena kekambuhan terjadi jika melakukan kontak langsung dengan orang yang terinfeksi.

Faktor Risiko Sifilis

Berikut ini beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko lebih tinggi terkena sifilis:

  • Berhubungan seks tanpa menggunakan kondom.
  • Berhubungan seks dengan banyak pasangan.
  • Memiliki HIV.
  • Berhubungan seks dengan sesama pria.

Diagnosis Sifilis

Guna memastikan gejala penyakit, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan bertanya tentang riwayat seksual sebelum melakukan tes secara klinis untuk mendiagnosis penyakit sifilis.

Berikut beberapa tes yang mungkin diperlukan untuk diagnosis:

  • Tes darah. Tes ini memerlukan pengambilan sampel darah untuk mendeteksi infeksi saat ini atau sebelumnya karena antibodi terhadap bakteri akan menetap selama bertahun-tahun.
  • Tes cairan serebrospinal. Jika diduga memiliki neurosifilis (infeksi otak atau sumsum tulang belakang), dokter akan menguji cairan yang diambil dari sekitar sumsum tulang belakang untuk memeriksa efek penyakit pada sistem saraf.
  • Tes cairan tubuh. Dokter dapat mengevaluasi cairan dari chancre selama memiliki jenis primer atau sekunder.
  • Dark field microscopy atau mikroskop medan gelap. Tes ini memudahkan bakteri penyebab sifilis terlihat melalui mikroskop dalam cairan yang diambil dari luka kulit atau kelenjar getah bening.

Pengobatan Sifilis

Sifilis tahap awal seperti jenis primer dan sekunder dapat diobati dengan suntikan penisilin yang merupakan salah satu antibiotik paling banyak digunakan dan biasanya efektif.

Sedangkan orang yang alergi penisilin mungkin dapat diobati dengan antibiotik lainnya, seperti doxycycline, azithromycin, dan ceftriaxone.

Jika memiliki neurosifilis, penderitanya akan diberikan penisilin setiap hari melalui suntikan. Namun, kerusakan yang disebabkan oleh sifilis lanjut atau memiliki jenis tersier akan sulit diobati.

Meski bakteri dapat dilawan, tetapi pengobatan sifilis kemungkinan besar akan fokus untuk meredakan rasa sakit dan ketidaknyamanan.

Selama perawatan, hindari hubungan seksual sampai luka sembuh sampai dokter menyatakan aman untuk kembali melanjutkan hubungan seksual.

Jika aktif secara seksual, perawatan juga berlaku untuk pasangan. Jangan melanjutkan aktivitas seksual sampai Anda dan pasangan menyelesaikan perawatan.

Komplikasi Sifilis

Jika tidak mendapatkan perawatan dan pengobatan sifilis dengan cepat dan tepat, penyakit ini dapat menyebabkan komplikasi di seluruh tubuh, di antaranya:

  • Benjolan kecil. Benjolan yang disebut gumma dapat muncul di kulit, tulang, atau organ tubuh. Benjolan ini dapat menghancurkan jaringan di sekitarnya.
  • Masalah sistem saraf. Penyakit menular ini dapat menyebabkan beberapa gangguan kesehatan, termasuk sakit kepala, kerusakan otak, meningitis, kelumpuhan, atau kehilangan pendengaran dan penglihatan.
  • Masalah kardiovaskular. Penyakit menular seksual ini dapat merusak katup jantung atau menyebabkan pembesaran pembuluh darah (aneurisma) atau peradangan aorta (aortitis).

Pencegahan Sifilis

Sampai saat ini tidak ada vaksin untuk mencegah penyakit ini. Namun, penularan sifilis dapat dicegah dengan beberapa langkah berikut:

  • Tidak berhubungan seksual atau monogami. Cara yang tepat untuk mencegah penularannya adalah tidak melakukan hubungan seksual. Pilihan tepat lainnya adalah melakukan hubungan seks monogami atau hanya memiliki satu pasangan seks dan tidak ada pasangan yang terinfeksi.
  • Menggunakan kondom. Penggunaan alat kontrasepsi ini dapat mengurangi risiko penularan sifilis, tetapi hanya jika kondom menutupi luka sifilis.
  • Hindari penggunaan narkoba. Penyalahgunaan alkohol atau obat-obatan terlarang dapat memicu untuk melakukan praktik seksual yang tidak aman. Hindari juga berbagi jarum jika menggunakan narkoba suntik.

 

  1. Anonim. 2019. Syphilis. https://www.webmd.com/sexual-conditions/syphilis#1. (Diakses pada 3 Juli 2020)
  2. Johnson, Shannon. 2019. https://www.healthline.com/health/std/syphilis#prevention. (Diakses pada 3 Juli 2020)
  3. Mayo Clinic Staff. 2019. Syphilis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/syphilis/symptoms-causes/syc-20351756. (Diakses pada 3 Juli 2020)
  4. Smith, Lori. 2019. What to know about syphilis. https://www.medicalnewstoday.com/articles/186656. (Diakses pada 3 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi