Terbit: 10 Agustus 2021 | Diperbarui: 12 Agustus 2021
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Sesak napas atau dalam istilah medis disebut sebagai dyspnea, adalah kondisi yang umum terjadi pada sebagian besar orang. Gejala kondisi ini bisa ringa hingga serius yang menandakan penyakit berbahaya. Selengkapnya simak penjelasannya mulai dari definisi, gejala, pengobatan, hingga pencegahan di bawah ini!

Sesak Napas (Dyspnea): Gejala, Penyebab, Diagnosis, Cara Mengobati, dll

Apa Itu Sesak Napas?

Sesak napas adalah kondisi ketika seseorang merasa tidak bisa mendapatkan cukup udara ke paru-paru. Kesulitan bernapas bisa menjadi tanda dari banyak masalah kesehatan yang berbeda. Mungkin seseorang mendefinisikannya sebagai perasaan sesak di dada atau tidak bisa bernapas dalam-dalam.

Dyspnea sering kali merupakan gejala masalah jantung dan paru-paru, tetapi ini juga bisa menjadi tanda kondisi lain seperti asma, alergi, atau kecemasan. Olahraga berat atau pilek juga bisa membuat seseorang merasa kesulitan bernapas.

Tanda dan Gejala Sesak Napas

Dyspnea dapat terjadi sebagai akibat dari aktivitas yang berlebihan, menghabiskan waktu di ketinggian, atau sebagai gejala dari berbagai masalah kesehatan. Kondisi ini bisa berlangsung selama satu atau dua menit setelah melakukan aktivitas berat, atau bisa jadi masalah kronis.

Tanda dan gejala dispnea, meliputi:

  • Sesak napas setelah beraktivitas atau karena kondisi medis.
  • Merasa tercekik akibat kesulitan bernapas.
  • Kesulitan bernapas.
  • Sesak di dada.
  • Jantung berdebar.
  • Pernapasan cepat (hiperventilasi) dan dangkal.
  • Mengi.
  • Batuk.

Sesak napas gejala apa? Jika kesulitan bernapas terjadi secara tiba-tiba atau jika gejalanya parah, ini mungkin menandakan kondisi medis yang serius seperti asma, infeksi, atau serangan jantung.

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Sesak napas terkadang bisa menjadi tanda kondisi yang mengancam jiwa. Segera ke dokter untuk mendapatkan perawatan darurat medis jika memiliki gejala-gejala berikut:

  • Dispnea berat secara tiba-tiba.
  • Sakit dada
  • Mual

Meskipun tidak semua kasus dyspnea memerlukan perawatan medis segera, tetapi kesulitan bernapas dapat mengindikasikan kondisi medis yang serius.

Jika mengalami kondisi berikut segera dapatkan nasihat medis:

  • Perubahan kemampuan untuk bernapas.
  • Aktivitas menjadi lebih terbatas karena masalah pernapasan.
  • Kesulitan bernapas saat berbaring.
  • Pembengkakan di kaki dan pergelangan kaki.
  • Demam.
  • Menggigil.
  • Batuk.
  • Mengi.

Apa Penyebab Sesak Napas?

Ada banyak masalah medis yang berbeda bisa menjadi penyebab dyspnea. Penyebab yang paling umum adalah kondisi paru-paru dan jantung. Pernapasan yang sehat tergantung pada organ-organ tersebut dalam mengangkut oksigen ke seluruh tubuh.

Dyspnea terbagi menjadi dua, yakni kronis dan akut. Kronis dapat berlangsung hanya beberapa hari. Sedangkan akut dapat berlangsung lebih lama dari 3-6 bulan.

Berikut ini penyebab sesak napas berdasarkan jenisnya:

1. Dyspnea Kronis

Beberapa kondisi kesehatan yang dapat menyebabkan dyspnea kronis, meliputi:

  • Asma. Penyempitan saluran udara yang terjadi karena asma dapat membuat seseorang kesulitan bernapas.
  • Gagal jantung. Selama mengalami gagal jantung, darah tidak mampu mengisi dan mengosongkan jantung dengan benar. Kondisi ini bisa menyebabkan cairan menumpuk di paru-paru, sehingga terasa sulit untuk bernapas.
  • Penyakit paru-paru. Kerusakan pada jaringan paru-paru dari penyakit seperti penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) akibat merokok dapat menyebabkan dyspnea. Kanker paru-paru juga dapat menyebabkan kondisi ini.
  • Kebugaran tubuh yang buruk. Kondisi tubuh menjadi tidak bugar karena tidak aktif atau sakit dapat menyebabkan kesulitan bernapas.
  • Obesitas. Kelebihan berat badan juga dapat membuat paru-paru tegang dan pada akhirnya merasakan kesulitan bernapas.

2. Dyspnea Akut

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan sesak napas akut, termasuk:

  • Alergi. Selain ruam, kemerahan, dan gatal, reaksi alergi sering kali menyebabkan seseorang mengalami kesulitan bernapas.
  • Kecemasan. Selama kecemasan berlangsung membuat seseorang mengalami napas cepat dan berat (hiperventilasi).
  • Tersedak. Penyumbatan yang terjadi di tenggorokan dapat mempersulit udara masuk dan keluar dari paru-paru.
  • Emboli paru. Kondisi darurat medis ini dapat terjadi ketika seseorang memiliki gumpalan darah di paru-paru.
  • Infeksi. Bronkitis atau pneumonia adalah infeksi yang dapat menghasilkan lendir dan menghalangi aliran udara ke bagian paru-paru. Kondisi ini dapat mengganggu aliran oksigen ke dalam darah.
  • Serangan jantung. Penyumbatan yang menghentikan aliran darah ke jantung bisa menyebabkan sesak napas yang mengkhawatirkan. Jika mengalami gejala ini bersama dengan gejala serangan jantung lainnya, segera hubungi rumah sakit terdekat.
  • Cedera. Tulang rusuk yang patah bisa membuat pernapasan terasa menyakitkan dan sulit. Pendarahan dan anemia akibat cedera dapat menurunkan jumlah sel darah merah, ini berarti mengurangi kadar oksigen yang dibawa dalam darah.
  • Suhu ekstrem. Berada pada tempat dengan suhu sangat panas atau sangat dingin dapat membuat seseorang merasa kesulitan untuk bernapas.
  • Obat. Obat-obatan tertentu bisa menyebabkan perasaan sesak di dada. Misalnya statin (obat untuk mengurangi lemak dalam darah) dan beta blocker untuk hipertensi pada penderita asma dapat menyebabkan gejala dyspnea.

Diagnosis Sesak Napas

Sebagai langkah awal, dokter akan memeriksa pasien dan mendengarkan keluhannya dengan seksama tentang kondisi paru-paru. Pasien mungkin akan menjalani tes fungsi paru-paru (spirometri), untuk mengukur seberapa banyak udara yang dapat pasien tiup masuk dan keluar dari paru-paru dan seberapa cepat melakukannya. Prosedur ini dapat membantu mendiagnosis asma dan PPOK.

Tes lain yang mungkin pasien jalani, termasuk:

  • Oksimetri nadi. Dokter menjepitkan alat ke jari atau daun telinga Anda untuk mengukur berapa banyak oksigen dalam darah Anda.
  • Tes darah. Mereka dapat menunjukkan apakah Anda menderita anemia atau infeksi dan dapat memeriksa bekuan darah atau cairan di paru-paru Anda.
  • Rontgen dada atau CT scan. Kedua tes ini dapat mendeteksi apakah pasien menderita pneumonia, gumpalan darah di paru-paru, atau penyakit paru-paru lainnya. CT scan menggunakan sinar-X untuk menghasilkan gambar yang lengkap dari organ dalam.
  • Elektrokardiogram (EKG). Tes ini untuk mengukur sinyal listrik dari jantung guna melihat apakah pasien mengalami serangan jantung. EKG juga dapat memungkinkan dokter mengetahui seberapa cepat jantung berdetak dan apakah memiliki ritme yang sehat pada pasien.

Cara Mengobati Sesak Napas

Dokter mungkin akan membantu pasien mengelola dyspnea dengan terlebih dahulu untuk mengidentifikasi dan kemudian mengobati kondisi yang menyebabkan masalah pernapasan.

Tergantung pada kondisi yang mendasarinya, berikut ini pengobatan sesak napas:

1. Olahraga

Meningkatkan kebugaran fisik dengan olahraga bisa memperkuat jantung dan paru-paru. Kesehatan keseluruhan yang lebih baik dapat membantu merasa kurang lelah selama menjalani aktivitas.

Bahkan, dengan kondisi jantung atau paru-paru, rehabilitasi kardiovaskular dapat membantu. Dokter mungkin juga menganjurkan pasien untuk mempelajari teknik pernapasan.

2. Obat-Obatan

Obat sesak napas seperti obat inhalasi yang disebut bronkodilator bisa membantu mengendurkan saluran udara pada gangguan pernapasan, termasuk asma dan PPOK. Obat untuk menghilangkan rasa sakit atau kecemasan bisa membantu meredakan kesulitan bernapas.

Baca Juga: 13 Obat Sesak Napas yang Terbukti Ampuh (Medis dan Alami)

3. Terapi Oksigen

Mendapatkan oksigen ekstra melalui masker atau tabung di lubang hidung bisa membantu pasien bernapas lebih nyaman. Terapi ini hanya tepat saat kadar oksigen darah diukur oleh dokter dan terbukti rendah.

4. Perubahan Gaya Hidup

Ada berbagai kemungkinan penyebab dyspnea, beberapa di antaranya serius dan memerlukan perawatan darurat medis. Kondisi yang kurang serius bisa Anda atasi secara mandiri di rumah.

Perubahan gaya hidup yang bisa Anda lakukan untuk membantu mengatasi kesulitan bernapas, meliputi:

Berhenti merokok dan menghindari asap rokok.

  • Menghindari paparan polutan, alergen, dan racun lingkungan.
  • Menurunkan berat badan jika mengalami obesitas alias kelebihan berat badan.
  • Menghindari untuk mengerahkan tenaga di ketinggian, misalnya mendaki gunung.
  • Makan makanan segar agar tubuh tetap sehat, cukup tidur, dan rajin menemui dokter untuk memeriksakan masalah medis yang mendasarinya.
  • Mengikuti rencana perawatan yang dianjurkan untuk penyakit yang mendasari seperti asma, PPOK, atau bronkitis.

Baca Juga: 12 Pertolongan Pertama pada Sesak Napas (Wajib Tahu)

Pencegahan Sesak Napas

Penderita dyspnea dapat mengambil langkah-langkah untuk meningkatkan kesehatan secara keseluruhan dan mendapatkan lebih banyak ruang untuk bernapas.

Berikut ini langkah-langkah untuk mencegah sesak napas:

  • Jika Anda perokok, segera berhenti merokok.
  • Menghindari perokok pasif jika memungkinkan.
  • Menghindari pemicu lingkungan lainnya seperti asap kimia dan asap pembakaran.
  • Menurunkan berat badan, karena langkah ini dapat mengurangi stres pada jantung dan paru-paru, serta mempermudah berolahraga. Keduanya dapat memperkuat sistem kardiovaskular dan pernapasan.
  • Meluangkan waktu untuk menyesuaikan diri dengan ketinggian yang lebih, melakukan aktivitas secara bertahap, dan mengurangi tingkat olahraga pada ketinggian di atas 5.000 kaki.

paket obat isolasi mandiri doktersehat

 

  1. Anonim. 2019. Shortness of Breath (Dyspnea). https://my.clevelandclinic.org/health/symptoms/16942-shortness-of-breath-dyspnea (Diakses pada 10 Agustus 2021)
  2. Anonim. 2020. Dyspnea (Shortness of Breath). https://www.webmd.com/lung/shortness-breath-dyspnea#1. (Diakses pada 10 Agustus 2021)
  3. Cirino, Erica. 2020. 9 Home Treatments for Shortness of Breath (Dyspnea). https://www.healthline.com/health/home-treatments-for-shortness-of-breath (Diakses pada 10 Agustus 2021)
  4. Dresden, Danielle. 2018. What is dyspnea?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/314963 (Diakses pada 10 Agustus 2021)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi