Sering Makan Daging Bisa Sebabkan Diabetes?

daging-diabetes-doktersehat
Photo Source: Flickr/sebilden

DokterSehat.Com– Daging dikenal luas sebagai salah satu bahan makanan yang memiliki rasa yang enak. Bahkan, ada yang menganggapnya sebagai makanan mewah. Hanya saja, ada anggapan yang menyebut terlalu sering makan daging bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan. Salah satunya adalah meningkatkan risiko terkena diabetes. Apakah anggapan ini memang benar?

Kaitan Antara Daging dengan Risiko Diabetes

Penelitian yang dilakukan di Duke-NUS Medical School, Singapura menghasilkan fakta bahwa dampak dari makan daging merah satu porsi setiap hari cenderung sama dengan mengonsumsi karbohidrat dan gula berlebihan setiap hari, yakni bisa meningkatkan risiko diabetes. Semakin sering kita mengonsumsinya, peningkatan risiko terkena penyakit ini bisa naik hingga 23 persen.

Tak hanya mengonsumsi daging merah, konsumsi daging unggas seperti daging ayam atau daging bebek dengan berlebihan juga bisa meningkatkan risiko diabetes hingga 15 persen.

Fakta ini terungkap setelah para peneliti mengecek hasil penelitian sebelumnya bernama Singapore Chinese Health Study. Dalam penelitian ini, 63 ribu lebih warga Singapura dengan usia 45 hingga 74 tahun dilibatkan dari tahun 1993 hingga 1998.

Dalam penelitian ini, dihasilkan fakta bahwa mereka mengonsumsi 165 jenis makanan dalam kurun waktu tersebut. Dari jumlah tersebut, 33 jenis di antaranya adalah daging. Setelah dicek dengan berbagai faktor lainnya seperti kebiasaan merokok, indeks massa tubuh, kegiatan olahraga, tekanan darah, dan pola makan sehari-hari, dihasilkan fakta bahwa 5.207 partisipan mengidap diabetes di akhir masa penelitian akibat rutin mengonsumsi daging-dagingan.

Salah satu peneliti yang terlibat, Prof. Koh Woon Puay menyebut masyarakat Singapura rata-rata makan daging 97 gram setiap hari. Masalahnya adalah di dalam daging terdapat kandungan heme iron yang terkait dengan risiko diabetes.

Di dalam daging merah seperti daging sapi dan daging kambing, terdapat kandungan heme iron yang lebih tinggi. Hal ini bisa menyebabkan penumpukan zat besi di pankreas, organ yang memililki fungsi memproduksi insulin yang berperan dalam mengendalikan kadar gula darah. Jika sampai kadar gula darah mengalami kekacauan, maka hal ini tentu akan menyebabkan datangnya diabetes.

Selain itu, di dalam daging merah juga tinggi kandungan lainnya yang bisa ikut mempengaruhi risiko diabetes seperti lemak jenuh, nitrit, dan lemak jenuh yang cukup tinggi.

Dampak Berlebihan Makan Daging

Selain bisa meningkatkan risiko diabetes, pakar kesehatan menyebut ada beberapa dampak kesehatan lain yang bisa didapatkan jika kita berlebihan makan daging.

Berikut adalah dampak-dampak tersebut.

  1. Bisa Memicu Sembelit

Daging tinggi kandungan lemak yang bisa membuat pencernaan berjalan dengan lebih lambat. Hal ini tentu akan membuat risiko terkena sembelit atau susah buang air besar akan meningkat. Apalagi jika kita tidak mengimbanginya dengan asupan makanan berserat.

  1. Bisa Memicu Dehidrasi

Terlalu banyak makan makanan berprotein tinggi akan membuat ginjal memproduksi air kencing lebih banyak dari biasanya. Hal ini tentu akan membuat kita lebih rentan terkena dehidrasi.

  1. Memicu Masalah Bau Badan

Terlalu sering makan daging dan jarang makan sayur dan buah-buahan akan membuat kita lebih rentan terkena masalah bau badan.

  1. Bisa Meningkatkan Risiko Sakit Kepala

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, terlalu sering makan daging akan menyebabkan dehidrasi dan akhirnya berimbas pada munculnya sensasi pusing atau sakit kepala. Hal ini tentu akan membuat kita tidak bisa beraktivitas dengan normal.

  1. Menurunnya Kepadatan Tulang

Konsumsi daging berlebihan akan merangsang produksi urine dengan lebih banyak yang akhirnya berimbas pada keluarnya kalsium dari dalam tubuh. Hal ini tentu akan mempengaruhi kepadatan dan kekuatan tulang dengan signifikan.

 

Sumber:

  1. Chong, Clara. 2017. A serving of meat a day raises risk of diabetes. straitstimes.com/singapore/health/a-serving-of-meat-a-day-raises-risk-of-diabetes. (Diakses pada 14 November 2019).