Terbit: 2 Desember 2020 | Diperbarui: 3 Desember 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Septoplasty adalah tindakan medis berkaitan dengan adanya masalah pada tulang rawan hidung (septum). Ketahui lebih lanjut mengenai prosedur ini mulai dari tujuan, prosedur pelaksanaan, hingga risikonya.

Septoplasty: Tujuan, Prosedur, Risiko, dll

Apa Itu Septoplasty?

Septoplasty adalah tindakan medis berupa operasi bedah yang dimaksudkan untuk memperbaiki—tepatnya meluruskan—tulang rawan pemisah antara dua rongga hidung  yang disebut sebagai septum. Ini menjadi penting karena tulang rawan yang bengkok dapat menghalangi salah satu lubang hidung sehingga berdampak pada terhambatnya aliran udara.

Selama septoplasty, dokter akan terlebih dahulu memotong dan mengangkat bagian dari septum hidung yang membengkok. Setelah itu, barulah dilakukan restrukturasi tulang rawan hingga akhirnya tulang tersebut berada pada posisi yang seharusnya yakni di tengah-tengah hidung. Dengan begitu, aliran udara pun kembali lancar.

Tujuan Septoplasty

Tujuan melakukan septoplasty adalah untuk mengatasi tulang rawan hidung yang bengkok (nasal septum deviation). Septum yang bengkok mungkin merupakan kondisi umum. Akan tetapi, pada beberapa kasus pembengkokan ini sampai menghalangi salah satu rongga hidung hingga kemudian menghambat aliran udara.

Jika Anda mengalami gejala berupa kesulitan bernapas melalui hidung berdampak pada terganggunya aktivitas, hal ini kemungkinan disebabkan oleh adanya deviasi pada tulang rawan hidung, dan septoplasti mungkin menjadi solusi terbaik guna mengatasi hal tersebut.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Selain untuk memperbaiki septum hidung, ada kalanya operasi ini juga diterapkan untuk:

  • Penanganan masalah sinus
  • Pengangkatan tumor pdaa hidung

Kapan Melakukan Septoplasty?

Kapan melakukan septoplasty? Prosedur bedah ini sebaiknya Anda jalani ketika dirasa sudah mulai mengalami kesulitan bernapas akibat rongga hidung yang menyempit.

Operasi mungkin belum terlalu diperlukan apabila pembengkokan yang terjadi masih terbilang wajar dan tidak sampai membuat Anda kesulitan bernapas hingga terpaksa harus bernapas melalui mulut. Oleh sebab itu, konsultasikan hal ini terlebih dahulu dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

Baca Juga: Operasi Hidung: Jenis, Prosedur, Risiko, dan Biaya

Sebelum Septoplasty

Sebelum menjalani prosedur bedah yang satu ini, dokter akan terlebih dahulu melakukan pemeriksaan terhadap calon pasien. Ini untuk menentukan apakah memang pasien perlu untuk menjalani septoplasty atau tidak.

Ada beberapa tahapan pemeriksaan praseptoplasty, yaitu:

  • Anamnesis
  • Pemeriksaan fisik
  • Pemindaian bagian dalam hidung

1. Anamnesis

Pertama-tama, dokter akan terlebih dahulu mengajukan sejumlah pertanyaan kepada pasien. Selain menanyakan perihal keluhan, dokter juga ingin mengetahui riwayat medis dan hal-hal terkait lainnya, termasuk obat-obatan yang sedang pasien konsumsi.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah itu, dokter akan melalukan pemeriksaan fisik secara langsung. Dokter akan menganalisis bentuk hidung pasien guna mencari tahu seberapa parah deviasi tulang rawan yang terjadi. 

3. Pemindaian Bagian dalam Hidung

Pemeriksaan penunjang juga dibutuhkan untuk mengetahui kondisi tulang rawan hidung pasien secara menyeluruh. Dalam hal ini, dokter akan menerapkan prosedur pemindaian bagian dalam hidung dengan medium X-Ray.

Melalui X-Ray, dokter bisa mendapat gambaran tulang rawan secara utuh. Ini berguna untuk menentukan langkah selanjutnya yang harus diambil. Jika hasil pemindaian X-Ray memang menunjukkan adanya deviasi yang signifikan, dokter akan segera mempersiapkan tindakan septoplasti ini.

Pelaksanaan Septoplasty

Terkait dengan pelaksanaan septoplasty, ada beberapa hal yang perlu Anda perhatikan. Berikut adalah penjelasannya.

1. Persiapan Sebelum Septoplasty

Sebelum melakukan tindakan medis ini, ada sejumlah persiapan yang harus Anda ketahui, yaitu:

  • Dokter akan terlebih dahulu menjelaskan tentang prosedur bedah ini, mulai dari manfaat, prosedur pelaksanaan, hingga risiko efek samping pascaoperasi.
  • Apabila pada saat yang bersamaan Anda sedang mengonsumsi obat-obatan seperti aspirin, ibuprofen, dan pengencer darah, dokter kemungkinan akan menyarankan penghentian penggunaan obat-obatan tersebut untuk sementara waktu.
  • Tidak makan dan minum lewat tengah malam pada malam sebelum menjalani prosedur bedah ini. Hal tersebut guna mencegah gejala muntah karena kemungkinan Anda akan diberikan bius umum (general anesthesia) yang membuat tertidur selama operasi berlangsung.
  • Sebaiknya tidak mengendarai kendaraan saat menuju rumah sakit atu fasilitas kesehatan lainnya untuk menjalani prosedur ini. Pasalnya, sehabis operasi Anda mungkin akan merasakan kantuk. Mintalah orang terdekat untuk menemani Anda.

2. Prosedur Pelaksanaan Septoplasty

Berikut ini adalah prosedur pelaksanaan septoplasti pada umumnya:

  • Pertama-tama, dokter akan memfoto hidung Anda terlebih dahulu. Foto tersebut nantinya berguna untuk melihat perubahan yang terjadi setelah melakukan operasi ini.
  • Septoplasty membutuhkan waktu kurang lebih 30 hingga 90 menit untuk bisa terselesaikan, tergantung pada kompleksitasnya. Anda akan berada mendapatkan bius lokal atau total, tergantung pada keputusan dokter dengan memerhatikan kondisi tubuh.
  • Dokter bedah akan membuat sayatan di salah satu sisi hidung untuk mengakses septum. Kemudian, dokter akan mengangkat selaput lendir yang merupakan penutup pelindung septum.
  • Setelah itu, septum yang menyimpang dipindahkan ke posisi yang benar. Semua penghalang seperti potongan tulang atau tulang rawan ekstra akan dibuang.
  • Terakhir, dokter akan menempatkan kembali selaput lendir pada posisi semula.

Dokter akan membungkus hidung dengan kapas guna mempertahankan posisi tulang dan membran pada tempatnya. Namun dalam beberapa kasus, hal ini membutuhkan semacam jahitan.  

Bagaimana Setelah Septoplasty Dilakukan?

Setelah operasi selesai, maka tidak butuh waktu lama sampai pernapasan kembali lancar. Menurut laporan, 85 persen pasien langsung merasakan pernapasannya mengalami peningkatan sesaat pascaoperasi. Sementara luka bekas operasi akan membaik dalam kurun waktu beberapa hari hingga minggu ke depan.

Khusus untuk tulang rawan dan jaringan hidung, kiranya butuh waktu sekitar 1 tahun sampai benar-benar terbentuk sempurna. Dokter biasanya akan tetap meminta pasien untuk melakukan kontrol medis secara berkala untuk memantau perkembangannya.

Tips Pemulihan Pascaseptoplasty

Selama masa pemulihan, Anda mungkin akan sering merasakan nyeri pada area hidung. Hal ini merupakan suatu kewajaran. Oleh sebab itu, dokter juga akan memberikan resep obat pereda nyeri. Selain itu, lakukan juga sejumlah tips berikut ini guna menunjang proses pemulihan:

  • Hindari menghembuskan napas melalui hidung secara intens selama 2-3 hari.
  • Tidak merokok dan minum minuman beralkohol.
  • Tidur dengan posisi kepala lebih tinggi dari tubuh.
  • Hindari aktivitas terlebih dahulu dan perbanyak istirahat.
  • Gunakan pakaian yang longgar atau berkancing guna menghindari gesekan dengan hidung.

Risiko Septoplasty

Berbicara tentang risiko dari prosedur septoplasty ini, tentunya ada kendati sangat jarang terjadi. Risiko tersebut meliputi:

  • Perdarahan
  • Perforasi pada septum
  • Bentuk hidung sedikit mengalami perubahan
  • Berkurangnya kemampuan mencium bau
  • Warna kulit hidung berubah

Biaya Septoplasty

Biaya operasi ini mungkin berbeda-beda pada tiap fasilitas kesehatan tergantung dari kesiapan alat dan tenaga medisnya. Pastikan untuk memilih fasilitas kesehatan yang sudah memiliki reputasi baik dalam menerapkan tindakan medis seperti ini.

 

  1. Anonim. Septoplasty. https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/septoplasty/about/pac-20384670 (accessed on 2 December 2020)
  2. Mehta,F. 2019. What you need to know about septoplasty. https://www.medicalnewstoday.com/articles/312672#what-to-expect (accessed on 2 December 2020)
  3. Roth, E. 2018. Septoplasty. https://www.healthline.com/health/septoplasty (accessed on 2 December 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi