Terbit: 14 September 2020 | Diperbarui: 4 Oktober 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sepsis neonatorum adalah infeksi darah yang umumnya terjadi pada bayi yang berusia kurang dari 90 hari. Kondisi ini sendiri dibagi menjadi dua klasifikasi yaitu sepsis awitan dini/early onset sepsis (terjadi pada minggu pertama kehidupan) dan sepsis paparan lambat/late onset sepsis (terjadi setelah usia 1 minggu sampai 3 bulan). Simak penjelasan selengkapnya mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengatasinya di bawah ini.

Sepsis Neonatorum: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Sepsis Neonatorum?

Ini adalah kondisi yang mengancam jiwa yang disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, atau jamur sistemik dalam 28 hari pertama kehidupan. Sepsis awitan dini berkembang dalam 2 sampai 3 hari pertama setelah lahir sedangkan sepsis paparan lambat berkembang dalam 3 sampai 7 hari setelah lahir.

Gejala Sepsis Neonatorum

Pada bayi yang baru lahir, sering kali kondisi ini sulit diidentifikasi. Gejala tergantung pada apa yang menyebabkan infeksi. Selain itu, gejala juga tergantung pada seberapa parah dan lokasi infeksi. Bayi yang baru lahir mungkin memiliki:

  • Tanda-tanda stres selama persalinan seperti detak jantung yang cepat
  • Perubahan suhu (sering demam)
  • Masalah pernapasan, seperti pernapasan yang sangat cepat
  • Masalah pencernaan seperti nafsu makan yang buruk
  • Pembengkakan hati
  • Masalah sistem saraf seperti mudah mengantuk
  • Muntah
  • Kulit dan bagian putih mata menguning (jaundice)

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera cari bantuan medis segera jika bayi menunjukkan gejala seperti di atas. Selain itu, perawatan juga harus dilakukan jika bayi Anda memiliki:

  • Pengukuran suhu dari anus di atas 38 derajat Celcius
  • Demam berlangsung lebih dari 1 hari
  • Kesulitan bernapas
  • Perubahan perilaku, seperti sangat mengantuk, rewel, atau tidak makan dengan baik

Penyebab Sepsis Neonatorum

Kondisi ini dapat disebabkan oleh bakteri seperti Escherichia coli (E. coli), Listeria, dan beberapa strain Streptococcus. Bakteri Streptococcus tipe B (GBS) telah menjadi penyebab utama kondisi ini. Virus herpes simpleks (HSV) juga dapat menyebabkan infeksi parah pada bayi baru lahir, kondisi ini paling sering terjadi ketika seorang ibu terinfeksi.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Berikut adalah beberapa faktor yang meningkatkan risiko bayi terkena sepsis awitan dini, antara lain:

  • Kolonisasi GBS selama kehamilan
  • Kelahiran prematur
  • Ketuban pecah lebih dari 18 jam
  • Infeksi pada jaringan plasenta dan cairan ketuban (chorioamnionitis)

Sementara itu, bayi dengan sepsis paparan lambat bisa terinfeksi setelah melahirkan. Berikut ini beberapa hal yang dapat meningkatkan risiko bayi untuk terkena sepsis setelah melahirkan:

  • Memiliki kateter di pembuluh darah untuk waktu yang lama
  • Perawatan di rumah sakit untuk waktu yang lama

Selama persalinan, bayi yang baru lahir bisa terkena infeksi di jalan lahir. Sedangkan saat lahir, bayi bisa terkena infeksi di rumah sakit atau di rumah.

Faktor Risiko Sepsis Neonatorum

Berikut ini adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan bayi mengalami sepsis, antara lain:

  • Terlahir dengan berat badan lahir rendah
  • Bayi terlahir prematur yaitu sebelum 37 minggu
  • Kantung ketuban pecah lebih dari 18 jam sebelum kelahiran
  • Terdapat bakteri Streptococcus tipe B di vagina atau dubur
  • Bayi membutuhkan prosedur medis seperti kateter urine atau pemasangan kateter vena sentral

Baca Juga: 15 Cara Mencegah Bayi Lahir Prematur (Dilengkapi Penyebabnya)

Diagnosis Sepsis Neonatorum

Dikarenakan gejala dari kondisi ini memiliki kemiripan dengan kondisi kesehatan lain, hal itu membuat tes lainnya diperlukan untuk membuat diagnosis dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lain.

Beberapa tes yang bisa dilakukan, di antaranya:

  • Blood culture. Ini adalah cara utama mendiagnosis sepsis dan dilakukan untuk memeriksa bakteri di dalam darah.
  • Urine culture. Sama seperti halnya pemeriksaan darah, tes ini berguna untuk memeriksa apakah terdapat bakteri di kandung kemih.
  • Other cultures. Selain memeriksa darah dan urine, pemeriksaan juga bisa dilakukan di bagian tubuh yang lain, misalnya di luka.
  • Tes darah. Tes ini berguna memeriksa tanda-tanda infeksi dan kemungkinan efek sepsis pada ginjal, hati, dan sel darah.
  • Lumbar puncture. Tes ini dilakukan untuk memeriksa infeksi otak dan sumsum tulang belakang (meningitis). Sejumlah kecil cairan serebrospinal akan diuji.
  • Sinar-X atau tes pencitraan lainnya. Misalnya, rontgen dada digunakan untuk memeriksa infeksi paru-paru.

Pengobatan Sepsis Neonatorum

Pada dasarnya perawatan tergantung pada gejala yang muncul, usia, dan kesehatan bayi. Jika bayi berusia kurang dari 4 minggu mengalami demam atau tanda-tanda infeksi, biasanya dokter akan segera memberikan antibiotik intravena (IV) atau mungkin memerlukan waktu 24 hingga 72 jam untuk menunggu hasil lab.

Bayi akan mendapatkan antibiotik hingga 3 minggu jika bakteri ditemukan di dalam darah atau cairan tulang belakang. Perawatan akan lebih singkat jika tidak ditemukan bakteri.

Obat antivirus yang disebut acyclovir juga bisa digunakan untuk infeksi yang mungkin disebabkan oleh HSV. Bayi yang lebih tua dengan hasil lab normal dan hanya demam mungkin tidak diberikan antibiotik.

Sementara itu untuk bayi yang baru lahir dengan kondisi sepsis neonatorum, bayi harus tinggal di newborn intensive care unit (NICU) untuk mendapatkan pengawasan yang ketat. Selain antibiotik, ia akan mendapatkan cairan, obat-obatan lain, oksigen, nutrisi, dan bantuan pernapasan jika diperlukan.

Komplikasi Sepsis Neonatorum

Ini adalah kondisi yang bisa mengancam jiwa bayi yang baru lahir karena bisa memengaruhi seluruh sistem tubuh. Kondisi ini lebih sering memengaruhi lebih dari satu sistem pada waktu yang bersamaan

Pencegahan Sepsis Neonatorum

Pada dasarnya kondisi ini tidak dapat sepenuhnya dicegah, akan tetapi Anda bisa menurunkan risikonya. Perawatan prenatal rutin dapat menangani banyak masalah yang membuat bayi baru lahir berisiko mengalami sepsis.

Wanita hamil mungkin membutuhkan antibiotik untuk pencegahan jika mereka memiliki:

  • Korioamnionitis, biasanya dipicu dari keputihan yang berlebih
  • Kolonisasi bakteri Streptococcus tipe B
  • Pernah melahirkan bayi dengan sepsis yang disebabkan oleh bakteri

Hal-hal lain yang dapat membantu mencegah sepsis antara lain:

  • Selalu menjaga kebersihan diri
  • Mencegah dan mengobati infeksi, termasuk herpes simplex virus (HSV)
  • Melahirkan bayi dalam waktu 12 sampai 24 jam setelah ketuban pecah

 

  1. Anonim. Neonatal sepsis. https://medlineplus.gov/ency/article/007303.htm. (Diakses pada 14 September 2020).
  2. Anonim. Sepsis in the Newborn. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=sepsis-90-P02410. (Diakses pada 14 September 2020).
  3. Anonim. Neonatal Sepsis. https://www.winchesterhospital.org/health-library/article?id=102748. (Diakses pada 14 September 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi