Cara Berhubungan Seks Jika Pasangan Mengidap Herpes

seks-dan-herpes-doktersehat

DokterSehat.Com – Herpes agak berbeda dengan penyakit lain yang sering dialami oleh pria atau wanita. Penyakit ini tidak akan bisa sembuh meski sudah diobati. Sekali terkena herpes, seseorang akan memilikinya seumur hidup. Yang bisa dilakukan oleh pengidap adalah menekan berbagai gejala yang muncul dan menjaga daya tahan tubuh agar virus menjadi dorman.

Gangguan Akibat Herpes

Herpes memicu banyak sekali gangguan pada tubuh. Salah satu gangguan yang umum terjadi adalah demam tinggi, rasa panas di area selangkangan, dan tubuh jadi lemas. Kondisi ini bisa berulang lebih dari tiga kali dalam satu tahun sehingga menjaga kondisi tubuh adalah yang utama.

Saat tubuh khusus area selangkangan menjadi panas, Anda akan merasa tidak panas. Apalagi rasa gatalnya sangat kuat dan bisa membuat pengidap tidak tahan untuk menggaruknya. Kalau mereka sampai menggaruknya virus akan menempel di kuku dan tangan dan bisa menular ke bagian tubuh lain atau ke orang lain.

Gangguan pada herpes umumnya muncul di sekitar kemaluan. Namun, ada kalanya herpes muncul di tempat lain. Apalagi penularan tidak selalu dengan aktivitas seks. Virus akan dengan mudah melakukan penyebaran dari satu tempat ke tempat yang lain.

Herpes dan Hubungan Seks

Herpes adalah salah satu penyakit yang sangat umum terjadi pada mereka yang aktif secara seksual. Meski penyakit ini tidak kumat setiap saat, kemunculannya akan tetap menjadi masalah yang besar. Apalagi saat melakukan seks, risiko terjadi penularan akan semakin besar dan sulit untuk dihindarkan.

Saat berhubungan seks, berbagai penyakit seksual termasuk herpes mudah sekali menular dan menyebabkan infeksi. Selain herpes ada juga penyakit lain seperti gonore, klamidia, HPV yang memicu kutil dan kanker, hingga yang sangat berbahaya HIV/AIDS.

Mengingat seks sangat penting untuk pasangan dan salah satu kebutuhan wajib, kita harus melakukanya dengan benar dan juga bijak. Meski pasangan memiliki herpes, kita harus melakukan seks dengan benar agar tidak ada risiko penularan yang sangat berbahaya pada pasangan.

Risiko Penularan Herpes di Kemaluan

Herpes kemaluan atau genitalis bisa menular dengan mudah melalui sentuhan tangan atau sentuhan antara kemaluan dengan kemaluan. Virus yang ada pada luka akibat herpes bisa dengan mudah menyebar dari satu tempat ke tempat lain dan hidup di sana. Kalau kondisi tubuh penerima virus selalu baik, herpes akan menjadi dorman hingga daya tahan menurun.

Penularan herpes hanya bisa terjadi karena sentuhan langsung antara pemilik virus dan orang yang masih belum terinfeksi. Virus ini tidak akan mudah menyebar di luar tubuh meski ada cairan atau bakteri yang menempel pada celana atau mungkin toilet. Di luar tubuh virus akan mudah mati dengan cepat.

Singkatnya, kita bisa tertular herpes di mana saja tanpa harus melakukan seks. Meski demikian, aktivitas seks menyumbang cukup besar penularan dari herpes itu sendiri. Oleh karena itu, hubungan badan harus dilakukan dengan benar dan tidak boleh sembarangan.

Melakukan Seks dengan Pengidap Herpes

Secara umum, penularan terbesar dari herpes genitalis adalah dengan aktivitas seks. Pasangan yang salah satunya memiliki penyakit ini lebih berisiko tertular dengan cepat. Untuk mengatasi dan mencegah penularan ini simak beberapa ulasan di bawah ini.

  1. Pastikan Kondisi Kesehatan dari Pasangan

Sebelum menikah ada baiknya Anda dan pasangan memeriksakan diri terkait dengan kesehatan yang dialami. Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyakit berbahaya pada tubuh seperti HIV, HPV, hingga herpes genitalis yang akan berdampak secara seksual dan psikologi.

Kalau salah satu dari pasangan memiliki herpes genitalis, tanyakan pada dokter apa yang akan terjadi dan bagaimana mengatasinya. Biasanya dokter akan memberikan saran tertentu agar seks bisa dilakukan dan minimal bisa mendapatkan kehamilan yang tepat dan aman.

Jangan menikah dengan modal saling percaya saja. Apalagi beberapa penyakit kelamin bisa menular tanpa seks sekalipun termasuk herpes dan HPV. Mengetahui kondisi pasangan akan membantu Anda dalam menjaga kesehatan.

  1. Gunakan Pelindung saat Bercinta

Penularan herpes genitalis bisa terjadi dengan kontak fisik secara langsung. Kontak fisik saat seks banyak terjadi karena penetrasi akan terjadi hingga seks oral juga akan dilakukan saat foreplay. Kalau pasangan memiliki herpes genitalis, ada baiknya untuk selalu menggunakan pengaman saat bercinta. Pria disarankan menggunakan kondom agar seks yang dijalani berjalan aman.

Penggunaan kondom akan menurunkan risiko kontak secara langsung. Pasangan juga lebih enjoy dengan seks yang dilakukan karena tidak was-was dengan penularan penyakit yang bisa terjadi secara instan.

  1. Tidak Bercinta saat Kambuh

Ada dua fase dalam hidup pengidap herpes. Pertama fase saat penyakit sedang kambuh dan kedua fase saat penyakit sedang dorman atau tertidur. Untuk menurunkan risiko penularan herpes, pasangan disarankan untuk bercinta saat sedang tidak kambuh atau kondisi badan sehat. Kalau sedang kambuh lebih baik menunda dahulu.

  1. Menjaga Kesehatan Secara Umum Setiap Hari

Virus herpes memang akan selalu ada di dalam tubuh dan susah sekali dihilangkan. Namun, pasangan bisa membuatnya untuk terus tertidur dengan menjaga kesehatan tubuh. Selama daya tahan bisa dijaga dengan baik, tidak akan ada gangguan pada tubuh dan kondisi herpes yang parah tidak akan terjadi.

Demikianlah beberapa ulasan tentang herpes dan cara melakukan seks yang aman untuk menurunkan risiko penularan. Semoga ulasan di atas bermanfaat untuk Anda agar kesehatan seksual selalu terjaga setiap saat.

 

 

Sumber:

  1. Web MD. Genital Herpes and Your Sex Life. https://www.webmd.com/genital-herpes/genital-herpes-sex-life. (Diakses 13 September 2019).
  2. Lindberg, Sara. 2018. How to Live and Date with Herpes. https://www.healthline.com/health/living-with-herpes. (Diakses 13 September 2019).
  3. Nall, Rachell. 2019. Does Everyone Have Herpes? And 12 Other FAQs About HSV-1 and HSV-2. https://www.healthline.com/health/does-everyone-have-herpes. (Diakses 13 September 2019).