Apakah Seks Anal Pasti Berisiko Sebabkan HIV?

doktersehat risiko seks anal

DokterSehat.Com – Seks anal adalah sesuatu yang masih dianggap tabu oleh sebagian besar masyarakat dunia, termasuk Indonesia. Seks anal selalu dikaitkan dengan perilaku homoseksual atau biseksual. Padalah, seks anal juga banyak dilakukan oleh pasangan heteroseksual sebagai salah satu bagian dari fantasi seksual mereka.

Nah, terlepas dari berbagai kontroversinya ada beberapa hal yang harus kita ketahui dari seks anal. Apakah seks jenis ini pasti berbahaya dan berisiko untuk kesehatan pria dan wanita? Apakah seks ini pasti menularkan HIV dengan mudah? Lantas, adakah cara yang bisa dilakukan oleh pasangan agar seks jenis ini aman?

Risiko seks anal yang besar

Tidak bisa dimungkiri lagi kalau seks anal sangat berisiko bisa menularkan penyakit menular seksual khususnya HIV. Hal ini bisa terjadi karena permukaan dari anus cukup sensitif dan tipis. Kalau pria melakukan penetrasi, kemungkinan terjadi luka akan sangat besar. Kalau luka di dalam anus terbentuk, kemungkinan terjadi penularan virus cukup tinggi.

Kalau seks dilakukan secara vaginal, luka di dalam vagina mungkin saja bisa tertentu. Namun, risikonya cukup kecil dan masih besar risiko yang disebabkan oleh seks anal. Bahkan risiko penularan bisa 13 kali lebih besar kalau melakukan seks anal tanpa kondom dan 20 kali lebih besar kalau pasangannya terbukti HIV positif.

Jadi, seks anal yang tidak sehat memang harus dihindari. Kalau pun ingin dilakukan harus dengan hati-hati dan memastikan pasangan dalam kondisi sama-sama sehat.

Semua jenis seks berisiko

Semua jenis seks berisiko menularkan penyakit menular seksual. Seks anal memang yang paling berisiko karena bisa menyebabkan luka di dalam tubuh. Namun, seks vaginal dan oral pun juga bisa menularkan penyakit itu dengan mudah kalau tidak dilakukan dengan aman.

Kita ambil contoh sederhana saja pada perilaku seks vaginal. Beberapa pasangan yang belum menikah selalu menganggap seks ini aman asal tidak ejakulasi di dalam. Cairan kelamin yang mengandung virus tidak hanya air mani saja. Cairan pelumas yang diproduksi wanita dan cairan pelumas yang diproduksi pria juga mengandung.

Jadi, kalau ada yang bilang asal tidak mengalami ejakulasi di dalam tidak akan masalah adalah salah. Peluang penularan penyakit tetap ada. Bahkan pada pasangan heteroseksual yang tidak acuh dengan pengaman bisa melejit tinggi.

Terakhir pada perilaku seks oral. Selama ini seks oral selalu dianggap paling aman sehingga pasangan dengan berbagai orientasi seks melakukannya begitu saja. Beberapa penyakit seperti klamidia, gonore, dan kutil kelamin bisa menular dengan mudah melalui seks oral yang tidak aman dengan tingkat risiko yang berbeda-beda.

Cara menurunkan risiko seks

Agar risiko seks bisa diturunkan dan penyakit tidak bisa menular begitu saja khususnya saat seks anal, ada beberapa hal yang harus dilakukan. Berikut beberapa poin yang harus diperhatikan.

  • Selalu menggunakan kondom untuk melakukan setiap aktivitas seks yang berisiko. Kondom harus dipakai meski hanya melakukan seks oral saja.
  • Tidak berganti-ganti pasangan. Seks dengan kondom mungkin aman, bahkan untuk seks jenis anal sekali pun. Namun, untuk seks oral, kemungkinan terkena infeksi HPV tetap ada. Virus ini juga hidup di area skrotum pria.
  • Selalu membersihkan diri sebelum dan sesudah bercinta.
  • Rutin memeriksakan diri khususnya yang terkait penyakit menular seksual kalau seseorang sering melakukan seks secara casual dengan beberapa orang yang berbeda.

Inilah beberapa hal yang harus diperhatikan oleh masyarakat tentang seks anal dan aneka risiko penyakit menular seksual dari berbagai bentuk aktivitas ranjang. Semoga bermanfaat!