Terbit: 21 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Sarkoma Kaposi adalah kanker yang berkembang dari sel yang melalui getah bening atau pembuluh darah. Hal ini menyebabkan tumbuhnya jaringan abnormal pada kulit, kelenjar getah bening, organ bagian dalam, selaput lendir pada mulut, hidung, dan tenggorokan. Penyakit Sarkoma sering menyerang orang dengan penyakit imun, seperti HIV/AIDS.

Sarkoma Kaposi: Penyebab, Gejala, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Sarkoma Kaposi?

Biasanya sarkoma Kaposi muncul sebagai tumor pada kulit atau benjolan di permukaan mukosa seperti benjolan dalam mulut, tapi tumor juga dapat berkembang di bagian tubuh yang lain seperti di kelenjar getah bening, paru-paru, atau saluran pencernaan.

Sel abnormal yang disebabkan oleh sarkoma membentuk bercak ungu, merah, atau cokelat pada kulit. Daerah yang terkena ini disebut lesi. Lesi kulit sarkoma Kaposi paling sering muncul pada kaki atau wajah. Lesi kulit tersebut dapat terlihat buruk, tapi biasanya tidak menimbulkan gejala. Beberapa lesi pada kaki atau di daerah selangkangan dapat menyebabkan tungkai dan kaki membengkak serta nyeri.

Penyebab Sarkoma Kaposi

Sarkoma Kaposi disebabkan oleh virus herpes HHV-8 atau disebut Kaposi sarcoma-associated herpesvirus (KSHV) . Virus ini menyebar terutama melalui:

  • Air liur.
  • Kontak seksual.
  • Hubungan antara ibu dan anak.

Seseorang dengan sistem kekebalan tubuh yang baik dapat membawa virus tanpa masalah atau tanpa gejala. Akan tetapi, hal itu memicu kanker pada orang dengan sistem kekebalan yang melemah.

Penyakit Sarkoma memengaruhi delapan kali lebih banyak pria daripada wanita. Di antara orang-orang yang memiliki HIV, pria yang berhubungan seks dengan pria lebih mungkin untuk memiliki virus dan mendapatkan penyakit sarkoma.

Sarkoma Kaposi dan HIV

Karena orang dengan HIV memiliki sistem kekebalan yang lemah, mereka lebih mungkin mengembangkan kanker tertentu, termasuk sarkoma Kaposi. Sebagian besar kasus parah terjadi ketika seseorang menderita AIDS, tetapi lesi kulit dapat muncul lebih awal. Hal itu menandakan bahwa sistem kekebalan tubuh tidak dalam kekuatan penuh. Lesi kulit cenderung memburuk ketika Anda juga memiliki infeksi lain.

Faktor Risiko

Berikut ini adalah faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit sarkoma:

  • Sindrom yang diturunkan. Risiko penyakit sarkoma jaringan lunak dapat diwarisi dari orang tua. Sindrom genetik yang meningkatkan risiko seperti hereditary retinoblastoma, Li-Fraumeni syndrome, familial adenomatous polyposis, neurofibromatosis, tuberous sclerosis, dan Werner syndrome.
  • Paparan kimia. Terkena zat kimia tertentu seperti herbisida, arsenik dan dioksin, dapat meningkatkan risiko sarkoma jaringan lunak.
  • Paparan radiasi. Pengobatan radiasi untuk kanker lain dapat meningkatkan risiko sarkoma jaringan lunak.

Jenis Sarkoma Kaposi

Terdapat empat jenis sarkoma Kaposi yang wajib Anda tahu, di antaranya :

  • Epidemi / terkait AIDS. Ini adalah jenis paling umum di Amerika dan memengaruhi orang yang memiliki HIV.
  • Klasik. Jenis ini memengaruhi pria yang lebih tua dari keturunan Mediterania, Timur Tengah, atau Eropa Timur.
  • Endemis. Anak-anak dan remaja dari Afrika lebih berisiko mendapatkan sarkoma Kaposi jenis ini.
  • Imunosupresif. Jenis ini memengaruhi orang-orang yang memiliki transplantasi organ dan mengambil obat yang memperlambat sistem kekebalan tubuh mereka.

Baca Juga: 13 Gejala Kanker Usus Besar yang Harus Diwaspadai!

Gejala Sarkoma Kaposi

Tanda-tanda yang paling terlihat dari sarkoma Kaposi adalah lesi pada kulit seperti bercak-bercak, tidak menonjol, tidak nyeri, berwarna merah atau ungu pada orang dengan kulit putih dan bercak kebiruan, kecokelatan, atau hitam pada orang dengan kulit gelap.

Tidak seperti memar, bercak-bercak tersebut tidak menjadi putih saat Anda menekannya. Bercak-bercak tersebut tidak gatal, dan tidak berair. Bercak-bercak juga tersebut tidak mengancam nyawa.

Bercak-bercak baru dapat muncul setiap minggu dan bagi beberapa orang lesi ini berubah perlahan. Lesi ini dapat tumbuh menjadi benjolan atau bercak-bercak kecil yang berkumpul menjadi bercak yang lebih besar.

Ketika sarkoma menyebar ke tempat lain, kondisi tersebut bisa mengancam jiwa. Anda dapat mengalami:

  • Kesulitan makan atau menelan.
  • Kebotakan, muntah, sakit perut akibat pendarahan dan penyumbatan di dalam perut.
  • Bengkak parah di lengan, kaki, wajah, atau skrotum.
  • Batuk parah atau sesak napas.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Segera ke dokter jika Anda memiliki:

  • Benjolan yang bertambah besar atau menjadi nyeri.
  • Benjolan yang terletak jauh di dalam otot.
  • Pengulangan benjolan yang telah dihilangkan.

Diagnosis Sarkoma Kaposi

Dokter dapat mendiagnosis sarkoma Kaposi hanya dengan melihat tampilan kulit. Guna mengonfirmasi itu, dokter dapat mengambil sampel jaringan dari suatu tempat dan melihatnya di bawah mikroskop. Tes lain yang mungkin dilakukan termasuk:

  • Tes Darah Samar Feses

Tes ini dilakukan untuk mencari darah di tinja. Pada beberapa kasus, sarkoma Kaposi bisa melukai saluran pencernaan.

  • Endoskopi atau Kolonoskopi

Jika Anda memiliki masalah perut, dokter mungkin ingin melihat kondisi usus dengan bantuan selang khusus yang disebut endoskopi dan kolonoskopi.

  • Bronkoskopi

Jika Anda mengalami kesulitan bernapas, prosedur ini bisa dilakukan. Bronkoskopi adalah sebuah prosedur dengan memasukkan selang lembut dan kecil ke dalam mulut atau hidung dengan tujuan untuk melihat ke dalam saluran pernapasan.

  • Tes Pencitraan

CT scan atau X-ray dapat mengetahui apakah kanker telah menyebar ke paru-paru, kelenjar getah bening, atau bagian lain dari tubuh Anda.

Pengobatan Sarkoma Kaposi

Pengobatan tergantung pada berapa banyak lesi yang dimiliki dan seberapa besar lesi dan di mana lesi tersebut berada di dalam tubuh, serta seberapa baik sistem kekebalan tubuh bekerja.

Dalam banyak kasus, obat HIV yang disebut ART (terapi antiretroviral) adalah cara terbaik untuk mengobati sarkoma Kaposi yang aktif. ART juga dapat menghilangkan lesi kulit.

Jika Anda memiliki beberapa bercak karena sarkoma Kaposi, Anda bisa menghilangkannya. Namun menghapus bercak tidak menyembuhkan karena hanya membuat kulit terlihat lebih baik. Dokter bisa memotong jaringan atau membekukan untuk menghilangkannya. Selain itu, radiasi juga membunuh sel kanker atau mencegahnya tumbuh.

Sementara itu, jika Anda memiliki banyak lesi atau virus memengaruhi banyak area tubuh, Anda mungkin mendapatkan terapi radiasi. Cara ini berguna untuk membunuh sel-sel kanker atau membuatnya tidak tumbuh.

Apabila sarkoma telah menyebar, Anda memerlukan obat-obatan yang berpengaruh untuk seluruh tubuh guna membunuh kanker. Obat kemoterapi untuk sarkoma kaposi meliputi:

  • Doxorubicin.
  • Paclitaxel.
  • Vinblastine.

Kemoterapi bisa memiliki efek samping, termasuk rambut rontok, muntah, dan kelelahan. Jika Anda HIV-positif, Anda juga perlu mempertimbangkan bahwa kemoterapi dapat menurunkan kadar platelet dan sel darah putih, serta meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.

Jenis pengobatan obat lain, yang disebut terapi biologis, bekerja dengan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Dokter mungkin meresepkan interferon alfa (Intron A) jika jumlah CD4 (jenis sel kekebalan tubuh) di atas 200 dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang cukup sehat.

Komplikasi Sarkoma Kaposi

Komplikasi yang paling umum dari penyakit sarkoma adalah secondary malignancy dan secondary infections. Secara khusus, secondary infections terjadi pada kelompok penderita penyakit sarkoma yang menderita AIDS. Sementara itu, pada pasien dengan sarkoma Kaposi klasik, limfoma berkembang sekitar 35%, biasanya setelah beberapa tahun.

Sarkoma Kaposi dapat menghasilkan masalah klinis termasuk edema (pembengkakan di bagian tubuh tertentu) dari gangguan sistem limfatik (kadang-kadang menyebabkan rasa sakit), kesulitan bernapas, kerapuhan kulit, atau infeksi kulit yang terlokalisir. Pada kasus lain, ketika penderita menjalani terapi antiretroviral, immune reconstitution inflammatory syndrome dilaporkan  lebih besar terjadi.

Pencegahan Sarkoma Kaposi

Hingga kini belum ada obat yang mampu melindungi tubuh dari penyakit sarkoma. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah menghindari hal-hal yang membuat Anda berisiko lebih tinggi terhadap HIV, seperti melakukan hubungan seks tanpa kondom atau menggunakan jarum suntik bergantian. Obat yang disebut pre-exposure prophylaxis (PrEP) juga dapat membuat Anda lebih kecil kemungkinannya terkena HIV.

Sementara jika Anda sudah memiliki HIV, tes lanjutan diperlukan untuk mengetahui apakah Anda memiliki HHV-8. Terapi antiretroviral menurunkan risiko timbulnya sarkoma Kaposi. Jika Anda telah menjalani transplantasi organ, beberapa obat anti-rejection juga dapat menurunkan peluang Anda untuk mendapatkan penyakit sarkoma Kaposi.

 

 

  1. Anonim. Soft tissue sarcoma. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/soft-tissue-sarcoma/symptoms-causes/syc-20377725. (Diakses pada 21 Januari 2020).
  2. Anonim. Kaposi’s Sarcoma (KS). https://www.webmd.com/hiv-aids/guide/aids-hiv-opportunistic-infections-kaposis-sarcoma#1. (Diakses pada 21 Januari 2020).
  3. Schwartz, Robert A, MD, MPH. 2019. What are the possible complications of Kaposi sarcoma (KS)?. (Diakses pada 21 Januari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi