Terbit: 3 Februari 2021 | Diperbarui: 4 Februari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Saliva test atau tes saliva adalah salah satu metode terbaru yang hampir memiliki keakuratan seperti swab test PCR. Tes ini terbilang lebih mudah dan tidak terlalu invasif dibanding metode-metode sebelumnya. Simak penjelasan selengkapnya.

Saliva Test, Metode Baru untuk Mendiagnosis Virus Corona

Akurasi Saliva Test untuk Mendeteksi Virus Corona

Menurut sebuah penelitian, pengujian berbasis air liur telah menunjukkan akurasi dalam mendeteksi infeksi virus Corona sebesar 83 persen. Sedangkan, untuk mengidentifikasi kasus negatif COVID-19, tingkat keakuratan sebesar 99 persen.

Kemudahan penggunaan dan kinerja diagnosis yang baik membuatnya dapat digunakan untuk meningkatkan jumlah tes. Hal ini membuat para peneliti menyarankan tes saliva sebagai alternatif.

Menurut Dr. Seema Kumar, medical director di Mytonomy, karena saliva test bisa dilakukan mandiri, hal tersebut dapat mengurangi pajanan virus Corona dan mengurangi beban laboratorium.

Menurutnya, tes saliva paling baik digunakan untuk seseorang yang memiliki gejala ringan atau diduga terpapar seseorang yang sudah terinfeksi COVID-19.

Sementara menurut Dr. Spencer Kroll, tes ini terbilang sangat sensitif karena dapat mendeteksi virus serta satu salinan per mikroliter air liur. Hal ini menunjukkan kesesuaian yang tinggi dengan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) untuk mendeteksi virus Corona

Namun, Kroll mengingatkan meskipun hasil pengujian air liur menyatakan Anda negatif, tidak sepenuhnya Anda terhindar dari infeksi SARS-CoV-2. Ia juga mengungkapkan, bahwa tes ini tidak boleh digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk keputusan manajemen keselamatan pasien.

Kroll menyarankan, jika hasil tes menunjukkan negatif, hal itu harus dikombinasikan dengan penilaian klinis, riwayat pasien, dan data epidemiologi. Senada dengan hal ini, Dr. Seema Kumar mengatakan, hasil tes diinterpretasikan dalam konteks gejala, pajanan yang mungkin/diketahui, dan prevalensi penyakit dalam masyarakat.

Meski saliva test menawarkan kemudahan karena bisa dilakukan sendiri, langkah terbaik adalah tes yang dilakukan oleh tenaga medis profesional.

Waspada Hasil Negatif Palsu

Penting untuk diketahui, saliva test tidak menjamin hasil 100 persen akurat. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) ada kemungkinan tes memberikan hasil negatif pada beberapa orang yang mengidap COVID-19, kondisi ini bisa disebut sebagai negatif palsu.

Oleh karena itu, diskusikan hasil tes dan semua gejala yang dialami dengan dokter untuk menentukan apakah Anda memerlukan tes lanjutan. Hasil tes COVID negatif palsu dapat disebabkan oleh faktor-faktor seperti waktu pengujian dan pengumpulan sampel.

Menurut Pakar Mikrobiologi Klinik Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (UGM), dr Titik Nuryastuti, MSi, PhD, SpMK (K), hasil tes negatif palsu terhadap virus Corona mungkin terjadi karena waktu pengambilan sampel dilakukan saat masa inkubasi virus (hari ke 2 sampai 14 setelah terpapar).

Pada periode ini, jumlah virus dalam tubuh rendah sehingga bisa memberikan hasil negatif dan berada di bawah ambang batas deteksi alat tes COVID-19.

Studi tambahan masih diperlukan untuk mengevaluasi peran pengujian air liur pada individu yang diduga mengidap COVID-19 berdasarkan riwayat perjalanan atau paparan, tetapi tidak menunjukkan gejala apa pun.

Baca Juga: Efek Samping Vaksin COVID-19 yang Bisa Terjadi pada Tubuh

Bagaimana Cara Kerja dan Prosedur Tes Saliva

Menurut Keyur P. Patel, M.D., Ph.D., partikel virus Corona terbukti ada di dalam air liur dan droplet, hal tersebut membuat tes ini menggunakan jenis analisis yang sama dengan metode tes yang mengambil sampel dari hidung dan tenggorokan.

Lantas, berapa banyak air liur yang dibutuhkan untuk tes ini? Patel mengungkapkan, hanya dibutuhkan kurang dari seperempat sendok teh. Caranya, seseorang diminta untuk membiarkan liur menggenang di dasar mulut selama beberapa detik, lalu mencondongkan tubuh ke depan dan membiarkannya menetes pada wadah yang sudah disiapkan.

Meludah adalah cara yang sebaiknya dihindari karena dapat menghasilkan aerosol. Sebelum melakukan tes, Anda juga sebaiknya tidak makan atau minum sekitar 30 menit. Hal ini berguna agar sampel bersih dan bebas dari kontaminan.

Penting untuk diketahui, mengumpulkan sampel dari seseorang seseorang dengan dugaan infeksi COVID-19 adalah prosedur yang cukup rumit. Tenaga medis harus menggunakan hazmat, sarung tangan, masker, dan peralatan lainnya.

Akan tetapi dengan tes COVID-19 saliva, tenaga medis tidak harus terlibat secara aktif atau dekat dengan seseorang yang diambil sampelnya.

Baca Juga: Perbedaan Tes COVID-19: Rapid, Swab Antigen, PCR

Perbandingan Biaya Tes COVID-19 Saliva dan Tes Lainnya

Saat ini, saliva test hanya tersedia di beberapa tempat terbatas. Di salah satu rumah sakit di Jakarta, tes ini dipatok dengan harga Rp 799.000.

Jika dibandingkan dengan beberapa jenis tes COVID-19 yang dikembangkan sebelumnya seperti swab test (PCR), rapid test antigen, dan rapid test antibodi. Tes saliva memiliki harga yang hampir sama dengan tes swab (PCR).

Metode PCR dilakukan dengan pengambilan sampel lendir (swab test) dari dalam hidung dan tenggorokan atau dengan mengambil sampel air liur (jarang digunakan). Tes PCR dapat memberi diagnosis secara akurat apakah seseorang telah terinfeksi virus SARS-CoV-2. Tes PCR sendiri juga merupakan gold standard penegakan diagnosis COVID-19.

Berdasarkan Surat Edaran nomor HK02.02/I/3713/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Real-time Polymerase Chain Reaction (RT-PCR). Kementerian Kesehatan menetapkan batas atas tarif tes PCR atau swab test maksimal Rp 900.000.

Sementara biaya untuk rapid test antibodi mulai dari Rp 125.000, sedangkan biaya rapid test antigen mulai dari Rp 499.000.  Alat uji antigen juga tergolong lebih terjangkau, lebih mudah penggunaannya sendiri, dan lebih cepat daripada tes PCR.

Pada akhirnya, meski saliva test adalah metode terbaru yang bisa digunakan untuk membantu diagnosis, sebagian besar studi mempunyai keterbatasan penerapan diagnosis COVID-19, seperti tidak adanya optimalisasi dan validasi protokol pengumpulan saliva, metode transportasi dan penyimpanan, serta pemeriksaan RNA virus yang terstandar.

 

  1. Demarco, Cynthia. 2020. Do COVID-19 saliva tests work?. https://www.mdanderson.org/cancerwise/do-covid-19-coronavirus-saliva-tests-work.h00-159384312.html. (Diakses pada 3 Februari 2021).
  2. Hanum, Zubaedah. 2020. Awas, Swab PCR Bisa Negatif Palsu karena Rendahnya Jumlah Virus!.  https://mediaindonesia.com/humaniora/368090/awas-swab-pcr-bisa-negatif-palsu-karena-rendahnya-jumlah-virus. (Diakses pada 3 Februari 2021).
  3. Pugle, Michelle. 2021. Noninvasive Saliva Tests for COVID-19 as Effective as Nose, Throat Swabs. https://www.healthline.com/health-news/noninvasive-saliva-tests-for-covid-19-as-effective-as-nose-throat-swabs. (Diakses pada 3 Februari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi