Terbit: 18 Agustus 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Gejala utamanya adalah ruam kemerahan di wajah atau di seluruh tubuh. Simak informasi selengkapnya mulai dari definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan lainnya di bawah ini!

Rubella (Campak Jerman): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Apa Itu Rubella?

Rubella adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus. Penyakit yang juga disebut campak Jerman ini menimbulkan gejala berupa ruam merah dan suhu badan tinggi. Meskipun mirip, campak Jerman dan campak pada dasarnya berbeda dari virus penyebabnya.

Sebagian besar penderita penyakit ini memiliki gejala ringan atau bahkan tanpa gejala. Namun, akan sangat berdampak serius bagi janin dari ibu hamil yang terinfeksi, termasuk keguguran atau bayi lahir cacat seperti kelainan jantung, kerusakan otak, dan tuli.

Penyakit rubella sering terjadi pada anak-anak, namun juga dapat terjadi pada orang dewasa. Sejak diperkenalkannya program vaksinasi pada 1980-an, penyakit ini telah hampir seluruhnya diberantas. Namun, masih umum di berbagai belahan dunia lainnya.

Tanda dan Gejala Rubella

Tanda dan gejalanya sering kali sulit untuk diperhatikan, terutama pada anak-anak. Biasanya, gejala muncul antara 2 atau 3 minggu setelah terpapar virus. Gejala dapat berlangsung sekitar 1 sampai 5 hari.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Berikut ini sejumlah tanda dan gejala rubella:

  • Demam ringan dengan suhu 38.9 derajat Celsius atau lebih rendah.
  • Ruam merah muda yang dimulai di wajah dan kemudian menyebar ke badan, lengan, dan kaki.
  • Pembengkakan kelenjar getah bening di belakang telinga dan leher.
  • Kepala pusing.
  • Batuk.
  • Hidung tersumbat atau meler.
  • Mata merah (konjungtivitis) dan meradang.
  • Nyeri sendi, terutama pada wanita muda.

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Segera hubungi dokter jika Anda atau anak merasa tertular dan memiliki tanda atau gejala yang telah disebutkan di atas, untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat.

Jika berencana untuk hamil, sebaiknya periksa catatan vaksinasi untuk memastikan Anda telah menerima vaksin MMR (measles, mumps, rubella). Jika sudah hamil dan memiliki penyakit ini, terutama selama trimester pertama, virus dapat menyebabkan kematian atau cacat lahir yang serius.

Selama kehamilan, campak Jerman adalah penyakit yang paling sering menyebabkan tuli bawaan. Untuk itu, langkah yang terbaik adalah mendapatkan vaksin sebelum kehamilan.

Penyebab Rubella 

Rubella adalah penyakit yang disebabkan oleh virus akibat tertular dari satu orang ke orang lain. Virus dapat menyebar melalui udara ketika orang yang terinfeksi batuk atau bersin, atau melalui kontak langsung dengan peralatan yang digunakan penderita seperti alat bantu pernapasan bahkan hanya sekadar sentuhan.

Selain itu, aliran darah dari seorang ibu hamil ke janin juga dapat menjadi penyebab rubella sebelum kelahiran. Inilah alasan mengapa ibu hamil harus memeriksakan ke dokter kandungan secara rutin.

Orang yang telah terinfeksi virus dapat menular selama 1-2 minggu sebelum timbulnya ruam sekitar 1 atau 2 minggu setelah ruam menghilang. Orang yang terinfeksi dapat menularkan penyakit sebelum menyadari bahwa ia telah mengidap penyakit ini.

Faktor Risiko Rubella

Berikut beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena vampak Jerman:

  • Tinggal di negara yang tidak memiliki vaksin MMR secara rutin.
  • Bayi dan balita yang belum mendapatkan vaksin.
  • Ibu hamil yang belum pernah mendapatkan vaksin.

Baca Juga: Campak: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan & Pencegahan

Diagnosis Rubella

Ruam kemerahan akibat penyakit ini mungkin terlihat seperti kebanyakan ruam karena virus lainnya. Oleh sebab itu, dokter biasanya akan memastikan penyakit dengan tes laboratorium.

Dokter dapat mengambil sampel kultur virus atau tes darah yang dapat mendeteksi keberadaan berbagai jenis antibodi campak Jerman dalam darah.

Antibodi adalah protein yang mengenali dan menghancurkan zat berbahaya, seperti virus dan bakteri. Hasil tes dapat menunjukkan apakah Anda memiliki virus atau kebal terhadapnya.

Pengobatan Rubella

Rubella adalah penyakit yang memiliki gejala relatif ringan dan tidak ada pengobatan khusus. Gejala biasanya akan mereda dalam waktu 7-10 hari dan tidak perlu mengobati ruamnya karena akan menghilang seiring berjalannya waktu.

Adapun perawatan untuk penyakit rubella termasuk:

  • Obat-obatan. Menggunakan parasetamol atau ibuprofen untuk mengurangi demam, meringankan rasa sakit, dan nyeri. Obat ini diberikan sesuai usia dan aman digunakan untuk anak-anak.
  • Perbanyak minum cairan. Minum cairan yang banyak untuk mencegah tubuh mengalami dehidrasi.
  • Istirahat di rumah. Selain untuk pemulihan, tidak pergi ke kantor atau sekolah meskipun gejalanya ringan, ini untuk mencegah penularan virus rubella ke orang lain.
  • Antibodi untuk ibu hamil. Jika campak Jerman terjadi pada ibu hamil, segera menghubungi dokter. Dokter mungkin akan mengobati Anda dengan antibodi yang disebut hyperimmune globulin untuk melawan virus. Bayi yang terlahir dengan penyakit rubella bawaan akan membutuhkan perawatan dari tim spesialis.

Jangan memberikan aspirin kepada anak atau remaja karena berisiko menyebabkan sindrom Reye, merupakan kondisi langka namun serius.

Komplikasi Rubella

Wanita yang terkena virus rubella berisiko mengalami artritis, kondisi ini jarang terjadi pada anak-anak dan pria. Meskipun jarang terjadi, penyakit ini dapat menyebabkan masalah serius seperti infeksi otak dan masalah pendarahan.

Komplikasi paling serius adalah bahaya yang ditimbulkan pada wanita hamil. Jika wanita hamil tidak divaksinasi terinfeksi virus campak Jerman kemungkinan mengalami keguguran atau bayi bisa mati setelah lahir.

Selain itu, ibu hamil dapat menularkan virus rubella ke janin dalam kandungan yang dapat mengalami cacat lahir serius, di antaranya:

  • Cacat jantung bawaan.
  • Pertumbuhan anak terhambat.
  • Kehilangan pendengaran (tuli) dan penglihatan (katarak).
  • Cacat intelektual.
  • Diabetes.
  • Masala tiroid.
  • Kerusakan hati atau limpa.

Cacat lahir yang serius lebih sering terjadi jika seorang wanita terinfeksi pada awal kehamilannya, terutama trimester pertama.

Baca Juga: MMR: Vaksin Measles (Campak), Mumps (gondong), dan Rubella

Pencegahan Rubella 

Sebagian besar vaksinasi adalah cara yang aman dan efektif untuk mencegah campak Jerman. Vaksin ini biasanya dikombinasikan dengan vaksin untuk campak dan gondongan serta varicella, virus penyebab cacar air.

Vaksin biasanya diberikan pada anak-anak berusia antara 12 dan 15 bulan. Suntikan penguat kembali diberikan ketika anak-anak berusia antara 4 dan 6. Vaksin mengandung virus dalam dosis kecil, kemungkinan menimbulkan efek samping berupa demam ringan dan ruam.

Jika tidak tahu apakah Anda telah mendapatkan vaksin untuk campak Jerman, jadi sangat penting untuk menguji kekebalan tubuh, terutama jika terkait dengan hal-hal berikut:

  • Wanita dalam usia subur dan tidak hamil.
  • Pergi ke sekolah.
  • Bekerja di fasilitas medis atau sekolah.
  • Berencana bepergian ke negara yang tidak memberikan imunisasi penyakit ini.

Meskipun vaksin campak Jerman sering kali tidak berbahaya, virus dalam suntikan dapat menyebabkan reaksi tidak baik pada beberapa orang. Anda tidak boleh divaksinasi jika sedang memiliki sistem kekebalan lemah akibat penyakit lain, sedang hamil, atau berencana untuk hamil dalam sebulan ke depan.

 

  1. Anonim. 2020. Rubella. https://www.webmd.com/a-to-z-guides/what-is-rubella#1. (Diakses pada 18 Agustus 2020)
  2. Anonim. 2017. Rubella (German Measles, Three-Day Measles). https://www.cdc.gov/rubella/index.html. (Diakses pada 18 Agustus 2020)
  3. Healthline Editorial. 2012. German Measles (Rubella). https://www.healthline.com/health/rubella. (Diakses pada 18 Agustus 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2020. Rubella. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/rubella/symptoms-causes/syc-20377310. (Diakses pada 18 Agustus 2020)
  5. Newman, Tim. 2019. Why is it important to avoid rubella, or German measles?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/164504. (Diakses pada 18 Agustus 2020)


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi