Terbit: 16 Januari 2020 | Diperbarui: 19 Mei 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Ruam popok adalah bentuk umum dari kulit meradang (dermatitis) yang membuat kulit menjadi merah. Kondisi ini juga sering dikaitkan dengan popok yang basah atau jarang diganti, hingga sensitivitas kulit. Kondisi ini bisa dialami oleh siapapun yang rutin menggunakan popok dan biasanya sembuh dengan perawatan di rumah.

Ruam Popok: Penyebab, Gejala, dan Cara Mengatasi

Di Indonesia angka kejadian ruam popok telah mencapai 7-35% yang menimpa bayi laki-laki dan perempuan berusia dibawah tiga tahun. Lantas, bagaimana cara mengatasi ruam popok? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Penyebab Ruam Ropok

Sebelum menjelaskan mengenai cara mengatasi ruam popok, hal penting yang harus Anda ketahui hal-hal apa saja yang menyebabkan kondisi ini. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang bisa menimbulkan ruam pada bayi, di antaranya:

  • Gesekan

Pada banyak kasus, kondisi ini bisa disebabkan oleh gesekan yang terjadi ketika kulit bayi yang sensitif mengalami gesekan dengan popok basah. Hal ini menghasilkan ruam merah mengkilap pada daerah yang terkena.

  • Iritasi

Kulit di bawah popok akan merah karena iritasi dari tinja, air seni, atau bahan pembersih. Ruam muncul di daerah di mana popok menempel dan biasanya jarang terlihat pada lipatan kulit.

  • Infeksi Jamur Candida

Ruam popok dari infeksi jamur candida ini biasanya tampak merah terang dan sedikit menonjol serta sering terjadi setelah penggunaan antibiotik yang lama.

Candida adalah jamur yang biasanya ditemukan di tempat-tempat lembap dan hangat seperti di mulut dan lipatan tubuh. Jamur candida ini adalah organisme yang sama yang menyebabkan sariawan.

  • Reaksi Alergi

Ruam yang terjadi kadang mungkin merupakan reaksi alergi terhadap popok, deterjen, sabun, lotion, atau karet di celana.

  • Seborrhea

Ruam popok yang di sebabkan seborrhea biasanya akan berwarna kuning mengkilap, sedikit berminyak, dan dapat dilihat di daerah lain dari tubuh, seperti wajah, kepala, dan leher.

Gejala Ruam Popok

Gejala ruam popok bervariasi tergantung pada penyebabnya. Berikut adalah beberapa gejala yang bisa Anda kenali, di antaranya:

  • Contact Diaper Dermatitis

Kulit yang teriritasi dari urine dan feses akan terlihat merah dan mengkilap. Kulit pada bokong, paha, perut, dan pinggang mungkin terpengaruh. Lipatan kulit biasanya tidak terpengaruh.

  • Candida Diaper Dermatitis

Kulit berwarna merah tua dengan bercak di luar area popok. Seorang bayi juga mungkin memiliki infeksi jamur di mulut (sariawan). Lipatan paha dan di area popok biasanya terpengaruh.

  • Seborrheic Diaper Dermatitis

Kulit berwarna merah dengan bercak kuning, berminyak dan memengaruhi lipatan kulit. Kondisi ini biasanya juga memengaruhi wajah, kulit kepala, atau leher secara bersamaan.

Pada akhirnya, karena gejala ruam popok bisa seperti kondisi kesehatan lainnya, pastikan membawa anak Anda berkunjung ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika kulit bayi tidak membaik setelah beberapa hari dirawat di rumah, konsultasi dengan dokter. Terkadang, Anda memerlukan memerlukan obat resep untuk mengatasi ruam popok.

Segera periksakan ke dokter jika ruam menunjukkan:

  • Berdarah dan muncul gatal.
  • Menyebabkan rasa terbakar atau sakit saat buang air kecil atau buang air besar.
  • Disertai demam.

Diagnosis Ruam Popok

Diagnosis biasanya didasarkan pada riwayat dan pemeriksaan fisik ruam serta tidak diperlukan pengujian laboratorium. Jika ruam muncul disebabkan oleh reaksi alergi, dokter mungkin melakukan tes kulit untuk menentukan agen penyebab alergi tertentu.

Pengobatan Ruam Popok

Cara mengatasi ruam popok yang utama adalah menjaga area popok tetap bersih dan kering. Namun jika ruam pada bayi tetap ada meski sudah mendapatkan perawatan di rumah, dokter mungkin meresepkan:

  • Krim hidrokortison (steroid) ringan.
  • Krim antijamur, jika bayi memiliki infeksi jamur.
  • Antibiotik topikal atau oral, jika bayi memiliki infeksi bakteri.

Perlu diketahui, gunakan krim atau salep dengan steroid jika dokter anak atau dokter kulit anak menganjurkannya. Penggunaan stereoid terlalu sering dapat menyebabkan masalah tambahan.

Penanganan Rumahan

Cara mengatasi ruam popok berikut dapat membantu mengurangi atau mempersingkat durasi ruam, antara lain:

  • Popok harus diganti lebih sering daripada biasanya.
  • Kulit harus dicuci dengan sabun yang sangat lembut dan harus kering.
  • Hindari penggosokan keras karena dapat menyebabkan iritasi kulit lebih lanjut.
  • Pertimbangkan menggunakan air matang untuk membersihkan kulit.
  • Jika ruam disebabkan oleh kontak atau dermatitis alergi, hentikan penggunaan sabun atau deterjen baru yang mungkin menyebabkan ruam.
  • Jika ruam tampaknya disebabkan oleh candidiadis, pengobatan bisa dilakukan dengan krim antijamur topikal yang dijual bebas.
  • Steroid topikal dapat digunakan untuk ruam  yang disebabkan oleh penyebab alergi, atopik, atau seboroik—tetapi tidak boleh digunakan untuk infeksi jamur.
  • Zinc oxide efektif untuk mencegah terjadinya ruam popok

Perawatan Medis

  • Jika anak (atau orang dewasa) tampaknya memiliki candidiasis, dokter dapat merekomendasikan krim atau obat antijamur.
  • Jika anak menderita impetigo (infeksi bakteri), antibiotik dapat diresepkan.
  • Dokter mungkin merekomendasikan krim steroid topikal ringan atau salep jika ruam tidak tampak infeksi jamur.

Pencegahan Ruam Popok

Beberapa cara sederhana bisa membantu mengurangi timbulnya ruam popok pada kulit bayi. Pencegahan adalah cara yang paling efektif untuk terhindar dari kondisi ini, berikut caranya:

    • Meski popok sudah dirancang mampu menyerap dan dapat menjaga kelembapan yang berlebihan dari kulit, namun masih lebih baik mengganti popok tiap beberapa jam untuk mencegah urine atau tinja bersentuhan dengan kulit bayi.
    • Sebelum memakai popok baru, pastikan bahwa kulit kering dan bersih setelah dibasuh dengan air hangat.
  • Mencuci tangan rutin adalah suatu keharusan untuk membantu mencegah infeksi apapun di kulit bayi.
  • Bila memungkinkan, biarkan beberapa saat bayi Anda tanpa popok. Ini adalah cara alami untuk membiarkan kulit menjadi kering. Untuk menghindari cedera, cobalah membiarkan bayi bermain di atas handuk kering.
  • Jika bayi sering terkena ruam, oleskan salep saat mengganti popok untuk mencegah iritasi kulit.
  • Jika Anda menggunakan tisu bayi, pilih merek yang bebas alkohol dan pewangi. Tisu bayi tidak dianjurkan jika kulit menjadi iritasi atau mengembangkan luka terbuka. Jika ruam tampaknya tidak membaik, tisu bayi berpotensi dihentikan, karena beberapa tisu bayi dapat menyebabkan reaksi alergi pada kulit.

 

  1. Diaper Rash. https://www.webmd.com/children/diaper-rash#1. (Diakses pada 16 Desember 2019).
  2. Diaper rash. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/diaper-rash/symptoms-causes/syc-20371636. (Diakses pada 16 Desember 2019).
  3. Diaper Dermatitis. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/diaper-dermatitis. (Diakses pada 16 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi