Manfaat dan Risiko Induksi Persalinan pada Ibu dan Bayi

induksi-persalinan-doktersehat

DokterSehat.Com – Normalnya ibu hamil akan melakukan persalinan setelah melewati bulan ke-9 dari kehamilannya. Sayangnya, tidak semua wanita bisa mengalami ini secara normal, bahkan bayi masih belum ada tanda-tanda akan keluar. Nah, kondisi seperti ini biasanya sangat berisiko sehingga induksi persalinan harus dilakukan.

Dengan melakukan induksi persalinan ini, kontraksi pada rahim akan dipicu. Kalau kontraksi sudah bisa muncul berkali-kali, kemungkinan wanita melakukan persalinan akan menjadi lebih besar. Berikut manfaat dari induksi selengkapnya serta beberapa risiko yang masih dimiliki.

Manfaat induksi persalinan pada wanita

Manfaat dari induksi persalinan cukup banyak baik pada ibu atau janin yang masih ada di dalam kandungannya. Berikut beberapa hal yang bisa didapatkan dari induksi untuk merangsang kontraksi rahim.

  1. Menurunkan risiko gangguan pada janin

Janin yang sudah berusia 39 minggu bisa segera diberikan induksi kalau ada kemungkinan terjadi komplikasi. Kondisi ini bisa muncul kalau ibu dari bati memiliki beberapa penyakit seperti diabetes, preeklampsia, lupus, dan gangguan ginjal. Kondisi ini bisa menyebabkan gangguan pada janin kalau tidak segera dilahirkan.

  1. Menurunkan risiko gangguan pada ibu

Beberapa wanita tidak akan mengalami gangguan saat hamil. Namun, beberapa wanita mengalami gangguan sehingga melanjutkan mengandung bisa membuat mereka mengalami komplikasi yang mengancam nyawa. Oleh karena itu, induksi persalinan diperkenalkan agar janin segera keluar dari rahim dan tidak menyebabkan masalah pada ibu.

  1. Menyesuaikan dengan kondisi lokasi

Ada kalanya ibu hamil berada di kawasan yang agak terpencil dan jauh dengan fasilitas kesehatan. Selain itu, di lingkungan itu juga tidak ada bidan yang bisa siap siaga kalau persalinan akan terjadi. Nah, dengan kondisi ini membiarkan ibu tidak segera melakukan persalinan akan berisiko cukup besar.

Saat usia kandungan mencapai 39 minggu ke atas, induksi bisa segera diberikan. Dengan melakukan itu wanita bisa segera melakukan persalinan. Kalau pun wanita harus ke kota, kemungkinan untuk menunggu persalinan tidak akan lama.

  1. Menurunkan risiko komplikasi persalinan

Persalinan yang telat juga menimbulkan komplikasi pada anak dan ibunya. Oleh karena itu persalinan harus segera diinduksi agar janin tidak berisiko mengalami kematian pun ibu juga demikian. Risiko ini sebenarnya bisa diturunkan kalau kondisi ibu dan janin sama-sama sehat. Selain itu, gaya hidup sehat selama melakukan persalinan juga menurunkan risiko komplikasi.

  1. Mempercepat persalinan saat janin terlalu lama di rahim

Induksi persalinan adalah salah satu cara untuk mempercepat persalinan pada janin yang sudah terlanjur lama di dalam rahim. Umumnya induksi harus dilakukan kalau janin yang ada di dalam rahim sudah berusia 42 minggu. Pada usia ini plasenta tidak akan bisa berfungsi dengan baik dan ada kemungkinan terjadi gangguan pada janin.

Menghindari risiko kematian pada janin, induksi harus dilalukan dengan cepat dan berkelanjutan. Kalau pada proses induksi tidak ada respons, kemungkinan besar harus dilakukan operasi Caesar. Dengan operasi ini janin bisa segera dikeluarkan sehingga keduanya, baik ibu dan bayi bisa sehat.

Efek samping induksi persalinan pada wanita

Induksi persalinan memang bermanfaat untuk ibu dan janin. Namun, pada kondisi tertentu, induksi juga memberikan efek samping. Kita tidak boleh mengabaikan efek samping ini agar bisa berjaga-jaga sejak awal.

  1. Bisa menimbulkan masalah kesehatan pada bayi

Induksi persalinan biasanya dilakukan sebelum bayi benar-benar tumbuh dengan sempurna karena ada masalah pada ibu atau janin itu sendiri. Akibat dari usia yang belum matang ini beberapa organ dari bayi belum tumbuh dengan sempurna termasuk organ pernapasannya. Kondisi ini memicu gangguan termasuk munculnya penyakit kuning.

Penyakit kuning ini bisa disembuhkan dengan baik. Namun, bayi harus berada di dalam pengawasan yang intensif di rumah sakit. Kalau tidak mendapatkan perawatan intensif bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

  1. Berisiko melahirkan secara Caesar

Induksi persalinan akan menyebabkan kontraksi yang hebat di rahim. Kondisi ini memicu air ketuban pecah dengan cepat. Sayangnya proses ini terkadang tidak sesuai dengan harapan sehingga persalinan secara Caesar harus dilakukan agar tidak terjadi gangguan pada janin dan ibu.

Kalau memang sejak awal tidak mampu melakukan persalinan secara normal, lebih baik langsung melakukan operasi Caesar. Dengan begitu, risiko pada janin dan ibu tidak akan berlipat-lipat danĀ  memicu masalah baru.

  1. Muncul perdarahan pada ibu

Wanita yang melahirkan memang akan mengalami perdarahan saat masa nifas. Namun, perdarahan ini termasuk normal dan akan berhenti seiring dengan berjalannya waktu. Pada wanita yang melakukan induksi persalinan, kondisi ini akan cukup panjang dan perdarahan cukup banyak akan terjadi.

Kalau perdarahan yang keluar bisa segera diatasi mungkin tidak akan menyebabkan masalah. Namun, kalau terus keluar meski sudah beberapa minggu, segera lakukan pemeriksaan agar gangguannya bisa segera diatasi.

  1. Bayi berisiko alami infeksi

Saat terjadi induksi, ketuban akan pecah. Sementara itu, bayi masih berada di dalam rahim dan tidak kunjung keluar. Kondisi ini menyebabkan infeksi bisa terjadi pada bayi. Infeksi ini biasanya menyerang saluran pernapasan dan pencernaan.

  1. Rahim bisa robek

Kontraksi yang berlebihan pada rahim akan membuat organ ini mengalami luka dan akhirnya robek. Rahim yang robek harus segera dijahit kembali atau minimal disembuhkan agar tidak terjadi kerusakan dan mengganggu kehamilan selanjutnya.

Ada atau tidaknya induksi yang diterima oleh wanita nantinya ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Pertama adalah kesehatan dari janin itu sendiri di dalam rahim. Penuhi gizinya agar pertumbuhannya sempurna dan kemungkinan terjadi persalinan tanpa induksi akan besar.