5 Risiko Hamil di Usia Remaja yang Patut Diwaspadai

hamil-usia-remaja-doktersehat

DokterSehat.Com – Peraturan atau hukum di Indonesia sudah memperbolehkan wanita berusia 16 tahun untuk menikah. Meski demikian, hamil dengan usia di bawah 20 tahun sangat berisiko sebabkan banyak gangguan pada calon ibu yang masih remaja. Gangguan ini saja terjadi pada tubuh atau fisik dan psikis.

Dengan risiko yang cukup besar ini, wanita diminta untuk menunda kehamilan dahulu agar usianya cukup. Begitu berusia 20 tahun, kehamilan bisa diusahakan. Berikut beberapa alasan yang mendasari kenapa remaja wanita yang belum terlalu cukup umur sangat berisiko kalau hamil dan akhirnya melakukan persalinan.

  1. Keguguran

Wanita memang mengalami puber saat usianya memasuki 11 atau 12 tahun. Organ di dalam tubuhnya susah mulai bekerja sebagaimana mestinya. Ovarium menghasilkan sel telur dan rahim sudah menghasilkan endometrium yang nantinya luruh menjadi darah menstruasi. Siklus yang berulang-ulang ini menandakan wanita sudah dewasa.

Meski organ reproduksinya sudah mulai berjalan dengan lancar, kematangannya masih terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Kalau kematangan ini tidak diperhatikan dan wanita hamil di usia yang masih muda, kemungkinan terjadi keguguran cukup tinggi. Dinding rahim belum kuat

  1. Kelahiran prematur dan cacat bawaan

Hamil dengan usia masih terlalu muda bisa menyebabkan wanita melakukan persalinan secara prematur. Bayi dengan usia 7 atau 8 bulan yang belum siap dilahirkan harus segera keluar dari rahim karena wanita tidak kuat lagi menahannya. Dinding rahim juga tidak kuat dengan bobot bayi yang besar.

Bayi yang lahir prematur juga akan mengalami bobot yang terlalu rendah. Kondisi ini membuat bayi yang dilahirkan rawan sekali tidak tumbuh sempurna hingga mengalami kematian. Beberapa wanita yang sempat mengonsumsi obat tertentu untuk menggugurkan kandungan biasanya memiliki bayi dengan kondisi cacat bawaan yang parah.

  1. Gangguan pada vagina

Saat melahirkan, bayi akan keluar dari rahim ke serviks hingga akhirnya keluar melalui liang vagina. Kondisi ini menyebabkan luka di vagina menjadi terlalu besar. Area perineum akan mengalami luka yang cukup besar sehingga jahitan yang dialami juga besar danĀ  bisa menurunkan estetik dari vagina.

Selain gangguan pada area vulva, kerusakan di area serviks dan sekitarnya juga menyebabkan gangguan yang besar. Wanita dengan usia di atas 20 tahun mungkin juga akan mengalami luka robek di vagina. Namun, fungsi organnya sudah maksimal sehingga kemungkinan penyembuhan juga lebih besar.

  1. Perdarahan dan anemia

Remaja wanita yang sedang hamil biasanya mengalami gangguan anemia yang cukup parah. Terbaginya darah ibu dengan bayi dan kebutuhan zat besi yang besar bisa menyebabkan wanita mengalami lemas terlalu besar. Bahkan, beberapa kasus bisa menyebabkan pingsan.

Selain anemia yang menyebabkan rasa lemas terlalu besar. Pada saat melakukan persalinan, wanita juga akan mengalami perdarahan. Kontraksi dari rahim yang belum sempurna rawan sebabkan perdarahan akut dan berujung pada kematian dari ibu yang melakukan persalinan.

  1. Depresi

Remaja yang bersil melakukan persalinan tidak hanya akan mengalami cacat atau luka pada vagina saja. Wanita juga akan mengalami depresi yang cukup akut. Depresi ini muncul pasca persalinan dalam bentuk baby blue atau gangguan lainnya.

Secara fisik, remaja mungkin bisa melahirkan dengan baik. Namun, secara mental tidak semua remaja sudah siap menjadi ibu. Hamil yang muncul akibat seks pranikah juga bisa menjadi penyebab depresi ini.

Mengingat gangguan atau risiko hamil pada remaja cukup tinggi. Ada baiknya untuk mengerem pernikahan dahulu atau tidak melakukan seks pranikah yang tidak aman dan berisiko.