Terbit: 25 Januari 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Darah keluar setelah berhubungan seks adalah keadaan yang tidak biasa terjadi. Kondisi ini bisa terjadi karena hal yang ringan hingga sesuatu yang serius dan membutuhkan penanganan dengan segera. Lantas, bagaimana jika berhubungan setelah haid dan keluar darah, apakah hal ini sesuatu yang membahayakan? Cek penjelasannya di bawah ini.

Perdarahan Setelah Hubungan Seksual Meski Haid Sudah Selesai, Berbahaya?

Perdarahan pada Saat Berhubungan Seksual

Sebelum menjelaskan mengenai berhubungan setelah haid dan keluar darah, hal lain yang penting untuk diketahui adalah perdarahan vagina bisa terjadi di segala usia, namun lebih sering terjadi pada wanita muda yang belum menopause, dan sumber perdarahan biasanya berawal dari leher rahim.

Sementara pada wanita yang mengalami menopause, sumber perdarahan bisa berasal dari serviks, rahim, labia dan uretra. Berikut ini adalah beberapa penyebab berhubungan setelah haid dan keluar darah, di antaranya:

1. Infeksi Menular Seksual

Berhubungan setelah haid dan keluar darah mungkin bisa disebabkan oleh adanya suatu penyakit infeksi yaitu klamidia atau gonore. Peradangan yang disebabkan oleh infeksi ini dapat menyebabkan pembuluh darah membengkak dan pecah lebih mudah. Tingkat keparahan perdarahan sering dikaitkan dengan keparahan infeksi.

Penyebab infeksi lainnya adalah trikomoniasis. Keputihan dan perdarahan serviks adalah dua karakteristik yang paling umum terjadi. Seperti halnya klamidia dan gonore, infeksi bakteri penyebab trikomoniasis mudah diobati dengan antibiotik.

Penyakit menular seksual lainnya seperti sifilis dan herpes genital dapat menyebabkan lesi ulseratif terbuka, sehingga rentan terhadap perdarahan jika teriritasi. Luka bisa berkembang di dalam maupun di luar vagina. Dalam kasus sifilis, sering kali gejala muncul tanpa disadari dan tanpa rasa sakit.

2. Genitourinary Syndrome of Menopause (GSM)

GSM sebelumnya dikenal sebagai atrofi vagina. Kondisi ini umum terjadi pada wanita perimenopause dan menopause, atau wanita yang indung telurnya sudah diangkat.

Seiring bertambahnya usia, terutama ketika periode menstruasi Anda berhenti, tubuh akan menghasilkan lebih sedikit estrogen. Estrogen adalah hormon wanita yang bertanggung jawab untuk mengatur sistem reproduksi.

Ketika kadar estrogen lebih rendah, beberapa hal bisa terjadi pada vagina. Tubuh akan menghasilkan lebih sedikit pelumasan vagina, sehingga vagina bisa menjadi kering dan meradang. Kadar estrogen yang lebih rendah juga mengurangi elastisitas vagina, jaringan vagina menjadi lebih tipis dan menyusut. Kondisi ini menyebabkan ketidaknyamanan, rasa sakit, dan perdarahan saat berhubungan seks.

3. Vagina Kering

Berhubungan setelah haid menyebabkan keluar darah berikutnya mungkin bisa disebabkan oleh vagina yang kering. Selain GSM, vagina kering dapat disebabkan oleh beberapa faktor lain, seperti:

  • Sedang menyusui.
  • Usai menjalani persalinan.
  • Konsumsi obat-obatan tertentu seperti obat asma, obat antidepresan, dan obat antiestrogen.
  • Sedang menjalani kemoterapi dan terapi radiasi
  • Melakukan hubungan intim sebelum mendapat rangsangan penuh
  • Paparan bahan kimia.
  • Sindrom Sjögren, penyakit radang sistem kekebalan tubuh yang mengurangi kelembapan yang dihasilkan oleh kelenjar dalam tubuh.

Kondisi ini mungkin menjadi jawaban atas pertanyaan beberapa orang kenapa setelah haid berhubungan terasa sakit.

4. Polip Rahim

Jaringan pertumbuhan yang tidak normal pada dinding rahim atau endometrium disebut sebagai polip rahim. Kondisi ini mungkin bisa menjadi penyebab berhubungan setelah haid keluar darah.

Polip rahim cenderung berkembang pada wanita berusia 40 sampai 50 an yang memiliki banyak kehamilan. Polip ini biasanya berwarna merah atau ungu dengan struktur seperti tabung yang penuh dengan kapiler dan mudah berdarah saat disentuh.

Sementara itu polip uterus kecil memiliki ciri benjolan lunak yang menonjol dari dalam rahim. Polip jenis ini cenderung mengalami perdarahan sebelum haid, setelah menopause, dan saat berhubungan seks. Polip ini cenderung berkembang pada wanita antara usia 36 sampai 55.

Meski begitu, sebagian besar polip rahim bersifat jinak, tetapi beberapa dapat berkembang menjadi kanker seiring waktu. Polip kadang-kadang akan hilang secara spontan, tetapi operasi pengangkatan mungkin diperlukan dalam beberapa kasus.

5. Erosi Serviks

Erosi serviks adalah kondisi non-kanker di mana sel-sel yang biasanya melapisi bagian dalam serviks menonjol keluar melalui pembukaan serviks.

Ketika ini terjadi, pembesaran abnormal jaringan serviks dapat menyebabkan pembuluh darah yang sudah rapuh membesar dan meradang. Akibatnya, perdarahan sering terjadi karena hubungan seksual, penggunaan tampon, atau penyisipan spekulum selama pemeriksaan panggul.

Erosi serviks umumnya terjadi pada wanita yang menggunakan pil KB dan wanita hamil yang kondisi serviksnya lebih lunak dari biasanya. Kondisi ini umumnya tidak memerlukan perawatan kecuali ada keputihan atau perdarahan vagina yang berlebihan.

6. Vaginitis

Wanita pascamenopause akan sering berdarah–saat atau setelah berhubungan seks karena menurunnya kadar estrogen. Menurunnya kadar estrogen menyebabkan dinding vagina menipis dan menghasilkan pelumas yang lebih sedikit.

Sementara wanita muda yang mengalami vaginitis, biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri atau ragi.

7. Trauma

Selain sering dikaitkan dengan infeksi atau kelainan rahim, berhubungan setelah haid dan keluar darah juga dapat terjadi akibat trauma langsung pada jaringan. Hal ini bisa terjadi karena aktivitas seksual yang kuat bisa menyebabkan luka atau robekan.

Trauma lebih sering terjadi pada vagina yang kering, seperti yang terjadi selama menopause atau menyusui, dan douching yang berlebihan. Selain itu, beberapa jenis alat kontrasepsi IUD dapat menyebabkan menstruasi yang lebih berat.

8. Kanker

Berhubungan setelah haid dan keluar darah adalah suatu tanda kemungkinan adanya kanker serviks dan rahim. Selain itu, perdarahan yang terjadi pascamenopause juga bisa menjadi gejala kanker rahim.

Berhubungan Intim Setelah Haid dan Kehamilan

Setelah mendapat penjelasan mengenai berhubungan setelah haid dan keluar darah, hal penting lainnya yang cukup sering ditanyakan masyarakat apakah langsung berhubungan setelah haid bisa menyebabkan kehamilan?

Bahkan setelah haid, pembuahan sel telur bisa terjadi dengan cepat dan mudah. Pada wanita yang memiliki siklus haid pendek atau sekitar 21-24 hari saja, sel telur akan diproduksi lebih dini.

Setelah menstruasi selesai, sel telur akan dilepaskan dan saat hubungan seksual dilakukan maka besar kemungkinan terjadinya pembuahan, meski begitu cara ini tidak menjamin kehamilan.

Penting untuk diingat bahwa sperma terkadang dapat bertahan hidup hingga 7 hari setelah Anda berhubungan seks. Hal ini memungkinkan Anda bisa hamil dengan segera setelah menstruasi selesai apabila wanita berovulasi lebih awal, terutama jika Anda memiliki siklus menstruasi pendek.

 

  1. Cornforth, Tracee. 2019. Vaginal Bleeding During or After Sex. https://www.verywellhealth.com/top-causes-of-vaginal-bleeding-after-sex-3520909. (Diakses pada 25 September 2019).
  2. Morris, Susan York. 2017. What Causes Bleeding After Sex?. https://www.healthline.com/health/womens-health/bleeding-after-sex. (Diakses pada 25 September 2019).
  3. Stöppler, Melissa Conrad, MD. Vaginal Bleeding (Abnormal Vaginal Bleeding Between Periods). https://www.emedicinehealth.com/vaginal_bleeding/article_em.htm#what_causes_uterine_bleeding_during_menopause. (Diakses pada 25 September 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi