Terbit: 28 Juli 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Tahukah Anda apa itu retraktil testis? Ini merupakan salah satu masalah kesehatan yang menghantui kaum pria. Apakah retraktil testis berbahaya? Simak informasi selengkapnya mengenai kondisi ini mulai dari ciri-ciri, penyebab, hingga pengobatannya.

Retraktil Testis: Ciri-Ciri, Penyebab, Diagnosis, Pengobatan

Apa Itu Retraktil Testis?

Retraktil testis adalah suatu kondisi ketika testis tidak dapat menetap di dalam skrotum. Maksudnya, testis bergerak naik turun dari skrotum kemudian ke pangkal paha atau selangkangan. Akan tetapi, testis yang mengalami retraktil ini bisa ‘dikembalikan’ ke tempat seharusnya yakni skrotum dengan bantuan tangan.

Retraktil testis (retractile testicle) tidak sama dengan kasus testis tidak turun (undescended testicles). Pasalnya, testis telah berhasil turun ke skrotum. Hanya, ada kalanya testis sering berpindah ke selangkangan. Masalah kesehatan yang satu ini umumnya akan sembuh dengan sendirinya menjelang atau saat pubertas.

Kendati demikian, ada sekitar 5 persen anak laki-laki yang testisnya akan tetap berada di selangkangan. Kondisi ini dikenal sebagai ascending testicle dan mungkin harus mendapatkan penanganan medis lebih lanjut.

Ciri dan Gejala Retraktil Testis

Ciri atau gejala retraktil testis dapat dikenali dengan mudah, yakni berpindahnya testis dari skrotum menuju selangkangan. Kondisi ini bisa terjadi berulang kali. Testis yang naik ke selangkangan tersebut akan tetapi dapat dikembalikan lagi ke tempatnya dengan bantuan tangan. Namun, selang beberapa jam kemudian testis akan kembali naik ke selangkangan.

Pada beberapa kasus, testis yang naik ke selangkangan dapat kembali ke skrotum dengan sendirinya. Gejala lainnya yang bisa dirasakan yakni testis akan secara spontan naik ke selangkangan.

Retractile testis idealnya hanya terjadi di salah satu testis. Apabila Anda bertanya-tanya apakah kondisi ini akan menimbulkan rasa nyeri, maka jawabannya adalah tidak. Oleh sebab itu, kondisi ini kerap tidak disadari ole penderitanya. Penderita baru menyadari testisnya berpindah setelah melakukan pengecekan fisik secara langsung.

Berikut adalah rangkuman ciri dan gejala retraktil penis untuk Anda ketahui:

  • Testis naik ke pangkal paha, kemudian akan menetap sebelum dipindahkan kembali ke skrotum menggunakan tangan.
  • Testis naik ke pangkal paha secara spontan.
  • Testis dapat kembali ke skrotum dengan sendirinya.

Kapan Harus Periksa ke Dokter?

Pemeriksaan medis harus sudah dilakukan dari sebelum bayi dilahirkan. Hal ini bertujuan untuk memantau apakah perkembangan janin—khususnya testis—berjalan dengan baik. Selain itu, pemeriksaan rutin dari saat bayi baru lahir hingga memasuki masa kanak-kanak juga sebaiknya tetap diterapkan.

Penyebab Retraktil Testis

Biasanya dalam beberapa bulan terakhir kehamilan, testis bayi laki-laki akan turun ke skrotum. Penyebab retraksi testis adalah otot kremaster yang terlalu aktif. Otot tipis ini merupakan kantong di mana testis terletak. Ketika otot kremaster berkontraksi, ia menarik testis ke atas menuju selangkangan.

Respons seperti ini sebenarnya normal pada pria. Suhu dingin dan rasa cemas adalah dua faktor yang memicu apa yang dikenal sebagai refleks kremasterik, sehingga menyebabkan testis tertarik ke atas menuju pangkal paha. Kendati demikian, kontraksi yang berlebihan akan berujung pada retraksi testis.

Faktor Risiko Retraktil Testis

Belum dapat diketahui secara pasti apa yang menyebabkan refleks kremasterik tersebut menjadi sangat berlebihan. Akan tetapi, para ahli menduga ada sejumlah faktor di balik hal tersebut.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami retraktil ini adalah sebagai berikut:

  • Kelahiran prematur
  • Lahir dengan berat badan yang kurang dari ideal
  • Riwayat keluarga dengan kondisi yang sama
  • Kelainan pada kelamin
  • Down syndrome atau jenis cacat lahir lainnya yang memengaruhi proses tumbuh kembang
  • Ibu mengonsumsi alkohol atau rokok selama hamil

Kendati demikian, sejumlah faktor risiko di atas juga sifatnya belum pasti dan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut guna membuktikan keterkaitannya.

Diagnosis Retraktil Testis

Diagnosis retractile testis dilakukan dengan pemeriksaan fisik. Melalui pemeriksaan fisik, dokter dapat melihat apakah salah satu dari testis bayi berada di posisi yang tidak seharusnya.

Jika testis dapat dipindahkan ke skrotum dengan mudah dan tanpa rasa sakit, untuk kemudian testis tetap berada di tempatnya sampai beberapa waktu ke depan, dokter mungkin akan langsung mendiagnosis kondisi tersebut sebagai retraktil testis.

Akan tetapi, apabila testis dapat dipindahkan hanya sebagian ke skrotum, pun saat proses pemindahan pasien merasakan sakit, maka kemungkinan dokter akan mendiagnosis kondisi ini sebagai kriptorkidisme atau testis tidak turun.

Masalah kesehatan ini dapat didiagnosis pada saat bayi baru berusia tiga atau empat bulan. Namun, mungkin akan lebih mudah untuk mendiagnosis kondisi tersebut pada saat anak telah menginjak usia usia 5 atau 6 tahun.

Pengobatan Retraktil Testis

Pada kebanyakan kasus, retraktil testis tidak memerlukan penanganan medis secara khusus. Seperti yang sudah disinggung di awal, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya saat anak memasuki masa pubertas (bahkan bisa sebelumnya).

Kendati demikian, sampai testis turun ke skrotum secara permanen, ini adalah kondisi yang harus dipantau dan dievaluasi oleh dokter secara berkala. Jika retraktil menjadi ascended testicle, maka pembedahan mungkin diperlukan untuk memindahkan testis ke skrotum secara permanen. Prosedur ini disebut orchiopexy.

Selama prosedur, dokter bedah melepaskan testis dan tali sperma yang melekat (berfungsi untuk melindungi testis dari jaringan di sekitar pangkal paha). Kemudian, testis dipindahkan ke skrotum.

Anda juga sebaiknya meminta buah hati untuk memeriksa keadaan testisnya secara berkala guna memastikan jika masalah ini sudah benar-benar teratasi. Edukasi mengenai tubuh—khususnya area genital—pun menjadi penting untuk Anda terapkan pada anak.

Pencegahan Retraktil Testis

Mengingat penyebab dari masalah ini sendiri belum dapat diketahui secara pasti, maka tidak ada yang benar-benar bisa dilakukan guna mencegahnya. Namun, Anda bisa melakukan deteksi dini mengenai segala kemungkinan dengan cara rutin melakukan pemeriksaan kehamilan.

Selain itu, Anda juga bisa menghindari faktor-faktor risiko yang masih bisa nonpaten seperti merokok dan minum alkohol agar setidaknya bisa meminimalisir risiko tersebut.

 

  1. Anonim. Retractil Testicle. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/retractile-testicle/symptoms-causes/syc-20377197 (Diakses pada 28 Juli 2020)
  2. Anonim. Retractile Testicle. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/16601-retractile-testicle (Diakses pada 28 Juli 2020)
  3. Roland, J. 2018. What is Testicular Retraction. https://www.healthline.com/health/mens-health/testicular-retraction#diagnosis (Diakses pada 28 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi