Terbit: 10 Juli 2020 | Diperbarui: 12 Juli 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Sempat ditarik dari peredaran, Ranitidin kini sudah bisa kembali diperjualbelikan. Apa itu obat Ranitidin? Simak informasi selengkapnya mengenai obat ini mulai dari fungsi, kontraindikasi, efek samping, dan lainnya berikut ini!

obat-ranitidin-doktersehat

Rangkuman Informasi Obat Ranitidin

Nama obat Ranitidin
Merek dagang Acran, Anitid, Conranin, Curadyn, Fordin, Gastridin, Graseric, Hexer, Hufadine, Indoran, Rancus 150, Ranilex, Ranin, Ranivell, Ranticid, Rantin, Ratinal, Scanarin, Tricker, Tyran, Ulceranin, Ultiran, Wiacid, Xeradin, Yekaradin, Zantac, Zantadin, Zantifar, Zenti, Zumaran.
Golongan obat H2 Blocker
Kategori obat Obat keras
Tingkat keamanan obat bagi ibu hamil dan menyusui menurut FDA B
Fungsi obat Mengatasi kelebihan asam lambung pada kasus:

  • Tukak lambung
  • GERD
  • Esofagitis
  • Dispepsia (maag)
  • Ulkus duodenal
  • Ulkus profilaksis
 Kontraindikasi obat Penggunaan obat tidak diperkenankan atau membutuhkan pengawasan khusus apabila:

  • Hipersensitivitas kandungan obat
  • Riwayat porfiria akut
  • Gangguan fungsi paru-paru
  • Gangguan irama jantung
  • Diabetes
  • Gangguan fungsi ginjal
  • Gangguan fungsi hati (liver)
 Dosis obat Sesuai petunjuk dokter
 Sediaan obat
  • Cairan intravena (IV)
  • Cairan infus
  • Tablet oral

 

Ranitidin Obat Apa?

Ranitidin adalah obat golongan H2 Blocker yang diformulasikan khusus untuk mengatasi penyakit terkait dengan lambung. Beberapa jenis penyakit lambung yang bisa diobati dengan obat ini antara lain refluks asam lambung atau gastroesophageal reflux disease (GERD), tukak lambung, hingga ulkus duodenal.

Obat ini sempat menimbulkan polemik dikarenakan adanya temuan zat N-Nitrosodimethylamine (NDMA) yang ditengarai dapat memicu kanker. Imbasnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan RI (BPOM RI) melarang peredaran obat Ranitidin.

Akan tetapi, kabar terakhir menyebutkan bahwa BPOM sudah mencabut larangan tersebut. Artinya, obat ini sudah dikatakan aman dan bisa kembali digunakan sesuai dengan fungsinya.

Merek Dagang Obat Ranitidin

Obat ini tersedia dalam berbagai merek dagang, yaitu:

  • Acran
  • Anitid
  • Conranin
  • Curadyn
  • Fordin
  • Gastridin
  • Graseric
  • Hexer
  • Hufadine
  • Indoran
  • Rancus 150
  • Ranile
  • Ranin
  • Ranivell
  • Ranticid
  • Rantin
  • Ratinal
  • Scanarin
  • Tricker
  • Tyran
  • Ulceranin
  • Ultiran
  • Wiacid
  • Xeradin
  • Yekaradin
  • Zantac
  • Zantadin
  • Zantifar
  • Zenti
  • Zumaran

Fungsi Obat Ranitidin

Seperti yang sudah disebutkan, fungsi obat Ranitidin adalah untuk mengatasi berbagai permasalahan pada lambung. Penyakit lambung yang bisa diatas dengan obat ini adalah sebagai berikut:

  • GERD
  • Tukak lambung
  • Esofagitis erosif
  • Sindrom Zollinger-Ellison
  • Ulseratif Profilaksis
  • Ulkus Duodenal
  • Ulkus Gastris
  • Dispepsia
  • Hipersekresi abnormal
  • Perdarahan lambung

Selain kondisi-kondisi di atas, obat ini mungkin masih memiliki fungsi lainnya terkait dengan penyakit lambung. Pastikan untuk menggunakan obat ini sesuai dengan peruntukannya. Penggunaan obat yang tidak sesuai bisa menimbulkan reaksi yang berbahaya bagi tubuh.

Peringatan dan Perhatian Obat Ranitidin

Peringatan! Perhatikan sejumlah keterangan berikut sebelum menggunakan obat ini.

1. Kontraindikasi Obat Ranitidin

Penggunaan obat tidak disarankan pada orang-orang dengan sejumlah kondisi. Pasalnya, hal ini dapat menurunkan efektivitas obat atau bahkan menimbulkan reaksi-reaksi yang bisa saja membahayakan tubuh.

Kondisi-kondisi yang dimaksud meliputi:

  • Hipersensitivitas kandungan obat
  • Riwayat porifiria akut
  • Gangguan fungsi paru-paru
  • Gangguan irama jantung
  • Diabetes
  • Gangguan fungsi ginjal
  • Gangguan fungsi hati (liver)

2. Peringatan dan Perhatian Obat Ranitidin Lainnya

Peringatan dan perhatian lainnya yang harus diketahui sebelum mengonsumsi obat ini adalah sebagai berikut:

  • Jangan mengonsumsi obat apabila Anda juga sedang mengonsumsi obat-obatan yang berinteraksi dengan obat ini.
  • Hentikan penggunaan obat jika dirasa mengalami sejumlah efek samping seperti reaksi alergi, mual, sakit kepala, dan gejala efek samping lainnya yang mungkin muncul pasca mengonsumsinya.
  • Jika gejala efek samping tak kunjung mereda dalam waktu yang cukup lama, segera periksakan diri ke dokter.
  • Beritahu dokter apabila Anda sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu, memiliki alergi obat, atau memiliki riwayat suatu penyakit.
  • Berkonsultasilah terlebih dahulu dengan dokter sebelum mengonsumsi obat ini apabila sedang hamil dan menyusui.

Apakah Obat Ranitidin Aman bagi Ibu Hamil dan Menyusui?

Menurut Unites States Food and Drug Administration (USFDA), obat ini masuk ke dalam kategori B untuk tingkat keamanan penggunaan bagi wanita hamil dan menyusui.

Kategori B merujuk pada jenis obat-obatan yang setelah melalui uji coba dengan objek hewan, tidak ditemukan adanya efek negatif. Akan tetapi, belum ada penelitian lebih lanjut yang menjelaskan apakah hal ini juga berlaku untuk manusia.

Oleh sebab itu, penggunaan obat pada wanita hamil dan menyusui sebaiknya mengikuti anjuran dari dokter.

Interaksi Obat Ranitidin

Obat ini akan berinteraksi jika digunakan bersamaan dengan sejumlah jenis obat-obatan tertentu. Interaksi yang terjadi berdampak pada menurunnya efektivitas kinerja obat maupun menimbulkan reaksi-reaksi tertentu pada tubuh.

Obat-obatan yang dimaksud antara lain sebagai berikut:

  • Amphetamine
  • Aspirin
  • Ciprofloxacin
  • Famotidine
  • Ibuprofen
  • Atorvastatin
  • Pregabalin
  • Omeprazole
  • Alprazolam
  • Cetirizine

Selain obat-obatan di atas, mungkin masih ada jenis obat lainnya yang akan berinteraksi dengan obat ini. Sampaikan pada dokter apabila Anda juga sedang mengonsumsi obat-obatan tersebut maupun obat-obatan lainnya agar dicarikan obat pengganti yang lebih aman untuk dikonsumsi.

Efek Samping Obat Ranitidin

Penggunaan obat kemungkinan akan menimbulkan gejala efek samping. Gejala efek samping Ranitidin yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare
  • Gangguan penglihatan
  • Kebingungan
  • Sulit tidur
  • Ruam pada kulit
  • Kepala pusing

Gejala efek samping di atas merupakan suatu kewajaran dan biasanya akan mereda setelah beberapa saat. Kendati demikian, Anda disarankan untuk segera mengunjungi dokter apabila gejala yang dirasakan tak kunjung mereda setelah beberapa lama guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Dokter akan menentukan apakah kemunculan gejala tersebut terkait dengan penggunaan obat atau bukan. Jika ya, dokter bisa menyarankan Anda untuk menghentikan penggunaan obat dan mencarikan obat alternatif pengganti ranitidin yang lebih aman untuk dikonsumsi.

Dosis Obat Ranitidin

Melihat dari peruntukannya, Ranitidin masuk ke dalam kategori obat keras. Penggunaan obat harus dengan resep dokter.

Berikut ini adalah informasi mengenai aturan dosis obat yang perlu Anda ketahui.

1. Sediaan Obat Ranitidin

Ranitidin tersedia dalam bentuk tablet oral dan cairan injeksi maupun infus. Obat ini bisa didapatkan di apotek namun harus dengan resep dokter.

2. Dosis Obat Ranitidin

Informasi dosis ini tidak bisa dijadikan acuan karena dosis yang diresepkan oleh dokter Anda mungkin saja berbeda. Pastikan untuk menggunakan obat sesuai dengan aturan dari dokter guna menghindari kelebihan pemakaian (overdosis) yang mungkin saja bisa berdampak buruk bagi tubuh.

Berikut aturan dosis umum untuk obat Ranitidin:

Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

  • Dewasa: 150 mg per dosis. Diminum setiap 12 jam. Dosis alternatif 300 mg 1 kali per hari, diminum ketika menjelang tidur.
  • Anak-anak (usia 1 bulan-16 tahun): 5-10 mg/kg berat badan/hari. Dosis dibagi menjadi 2, diminum setiap 12 jam sekali.

Tukak lambung

  • Dewasa: 150 mg per dosis, diminum setiap 12 jam. Dosis alternatif 300 mg 1 kali per hari diminum pada saat menjelang tidur.

Esofagitis Erosif

  • Dewasa: 150 mg, 4 kali sehari. Obat diminum setiap 6 jam. Untuk injeksi parerental, dosis 50 mg IM/IV setiap 6-8 jam bolus atau infus intermiten. Dosis alternatif 6,25 mg/jam IV dengan infus berkelanjutan. Dosis pemulihan 150 mg, 2 kali sehari.
  • Anak-anak (usia 1 bulan-16 tahun): 5-10 mg/kg berat badan. Dosis dibagi menjadi 2, diminum setiap 12 jam sekali.

Sindrom Zollinger-Ellison

  • Dewasa: Infus IV 1 mg/kg/jam, lalu sesuaikan pada kenaikan dosis 0,5 mg/kg/jam berdasarkan output asam lambung (jangan melebihi 2,5 mg/kg/jam atau 220 mg/jam).

Ulseratif Profilaksis

  • Dewasa: 150 mg (oral) atau melalui selang nasogaster (selang dari hidung ke lambung) setiap 12 jam sekali; 50 mg (2 mL) IM (disuntikkan ke otot) atau bolus IV intermiten (melalui intravena). Dosis alternatif melalui infus setiap 6 – 8 jam. Dosis maksimal 400 mg per hari.

Ulkus Duodenal

  • Dewasa: 150 mg, 2 kali per hari diminum setiap 12 jam sekali. Dosis alternatif 300 mg, 1 kali per hari diminum sebelum tidur. Dosis pemulihan 150 mg, 1 kali per hari. Melalui injeksi (IV), 50 mg atau 25 mg/jam melalui injeksi intermiten.
  • Anak-anak: 4-8 mg/ kg berat badan, dibagi menjadi 2 dosis per hari selama 4-8 minggu (usia 3-11 tahun). Anak-anak >12 tahun, dosis sama seperti orang dewasa.

Ulkus Duodenal (infeksi bakteri H. Pylori)

  • Dewasa: 300 mg, 1 kali per hari diminum sebelum tidur. Dosis alternatif 150 mg per hari bersamaan dengan obat amoxicillin dan metronidazole selama 2 minggu.

Ulkus Duodenal (akibat penggunaan obat OAINS)

  • Dewasa: 150 mg, 2 kali per hari atau 300 mg, 1 kali per hari sebelum tidur (penggunaan obat selama 8 minggu).

Ulkus Gastris Jinak

  • Dewasa: 150 mg, 2 kali per hari diminum setiap 12 jam sekali. Dosis alternatif 300 mg, 1 kali per hari diminum sebelum tidur. Dosis pemulihan 150 mg, 1 kali per hari. Melalui injeksi (IV), 50 mg atau 25 mg/jam melalui injeksi intermiten.
  • Anak-anak: 4-8 mg/ kg berat badan, dibagi menjadi 2 dosis per hari selama 4-8 minggu (usia 3-11 tahun). Anak-anak >12 tahun, dosis sama seperti orang dewasa.

Dispepsia

  • Dewasa: 150 mg, 2 kali per hari (penggunaan obat selama 6 minggu). Untuk gejala ringan 75 mg, 4 kali per hari.

Hipersekresi Abnormal

  • Dewasa: 1 mg/kg berat badan/hari melalui infus. Dosis dapat ditambah 0,5 mg setiap 4 jam. Dosis maksimal 2,5 mg.

Perdarahan Lambung

  • Dewasa: 150 mg per hari (oral).

Petunjuk Pemakaian Obat Ranitidin

Obat Ranitidin harus digunakan dengan benar guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan seperti overdosis dan sebagainya.

Berikut ini adalah petunjuk atau cara pakai obat yang perlu Anda ketahui dan pahami:

  • Pastikan untuk menggunakan obat ini setelah mendapat rekomendasi dari dokter yang menangani Anda.
  • Pastikan obat dalam keadaan baik dari segi kemasan maupun fisik obat itu sendiri.
  • Minumlah obat ini sesuai arahan dari dokter.
  • Minumlah obat sesuai dengan dosis yang tadi sudah disebutkan di atas atau sesuai dengan dosis yang telah ditetapkan oleh dokter Anda.
  • Gunakan obat ini secara teratur, yakni di rentang waktu yang sama setiap harinya. Tentukan jadwal penggunaan obat dan lakukan setiap hari secara konsisten.
  • Apabila lupa menggunakan obat pada jadwal yang sudah ditentukan, segera gunakan ketika ingat (berlaku jika jarak dengan jadwal pemakaian obat selanjutnya masih jauh, misalnya 6 jam lagi). Hindari pemakaian obat melampaui dosis sebagai pengganti jadwal yang terlewat.

Petunjuk Penyimpanan Obat Ranitidin

Obat ini harus disimpan di tempat yang benar untuk agar kualitas obat tetap terjaga. Berikut adalah petunjuk penyimpanan obat yang perlu Anda terapkan:

  • Simpan obat di tempat bersuhu di bawah 25 derajat celcius.
  • Hindari menyimpan obat di tempat lembap.
  • Hindari menyimpan obat di tempat yang terpapar sinar matahari langsung.
  • Jauhkan dari jangkauan anak-anak.
  • Obat ini memiliki masa kedaluwarsa. Segera buang obat apabila sudah memasuki masa kedaluwarsa.

 

  1. Ranitidine. https://www.mims.com/indonesia/drug/info/ranitidine?mtype=generic (Diakses pada 10 Juli 2020)
  2. Ranitidine. https://www.drugs.com/ranitidine.html (Diakses pada 10 Juli 2020)
  3. Ranitidine (Oral). https://www.webmd.com/drugs/2/drug-4091-4033/ranitidine-oral/ranitidine-liquid-oral/details (Diakses pada 10 Juli 2020)
  4. Pregnancy Safety Guide. https://www.mims.com/indonesia/viewer/html/pregdef.htm (Diakses pada 10 Juli 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi