Terbit: 7 Desember 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Salah satu makanan khas Jepang yang kini mulai digandrungi banyak orang adalah ramen. Tak hanya tersedia di tempat makan yang menyediakan makanan khas Jepang, ramen kini juga bisa didapatkan dalam bentuk instan yang bisa dibuat sendiri. Masalahnya adalah di balik rasanya yang nikmat, ramen ternyata juga menyimpan bahaya kesehatan.

Hobi Makan Ramen? Waspadai Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Ramen Terkait dengan Risiko Serangan Jantung dan Stroke

Dalam penelitian yang dilakukan di Jichi Medical University, Jepang, disebutkan bahwa ada kaitan antara prevalensi konsumsi ramen dengan kematian yang dipicu oleh serangan jantung dan stroke di berbagai prefektur (semacam provinsi) di Jepang. Hasil dari penelitian ini kemudian dipublikasikan dalam Nutritional Journal.

Para peneliti membagi empat jenis makanan dalam penelitian ini, yakni ramen, makanan cepat saji, makanan khas Barat dari Perancis atau Italia, serta udon dan soba. Para peneliti juga mengecek seberapa banyak porsi makanan ini dikonsumsi di setiap prefektur dan kemudian memperhatikan beberapa jenis faktor seperti usia, jenis kelamin, dan angka kematian akibat stroke serta serangan jantung pada tahun 2017.

Hasil dari penelitian ini adalah, wilayah dengan restoran ramen terbanyak layaknya Tohoku, Kanto Utara, serta Kyushu bagian Selatan cenderung memiliki kasus kematian yang dipicu oleh stroke jauh lebih tinggi dibandingkan dengan wilayah lain dengan jumlah restoran ramen lebih sedikit.

“Meskipun termasuk dalam makanan yang sangat populer di Jepang, dalam realitanya makanan ini tinggi kandungan karbohidrat dan garam yang kurang baik bagi kesehatan. Hal ini bisa mempengaruhi risiko serangan jantung dan stroke dengan signifikan. Semakin sering dikonsumsi, semakin besar risiko terkena masalah-masalah kesehatan ini,” ucap salah satu peneliti.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Sayangnya, penelitian ini tidak mengungkap apakah jenis ramen yang dikonsumsi adalah ramen instan atau ramen khas tempat makan. Hal ini disebabkan oleh ramen instan yang dianggap lebih kurang sehat dibandingkan dengan ramen khas tempat makan.

Mengenal Kandungan di Dalam Ramen

Sebagaimana mie pada umumnya, bahan utama dari ramen adalah terigu. Hanya saja, ada sebagian produk ramen yang dibuat dari tepung gandum. Beberapa jenis ramen dengan warna khas biasanya diberi tambahan bahan lain seperti tinta cumi atau bahan pewarna alami dari sayuran

Tak hanya mie-nya, kaldu dari sup ramen juga berbeda-beda bahan pembuatnya. Tambahan dari ramen juga berbeda-beda bergantung pada jenis ramen apa yang kita pesan. Hanya saja, biasanya kita bisa menemukan semacam sayuran, daging, atau rumput laut kering pada ramen tersebut.

Jika kita mengonsumsi mie ramen instan, maka akan mendapatkan kalori sebanyak 188 kal, karbohidrat sebanyak 27 gram, protein sebanyak 5 gram, lemak sebanyak 7 gram, serta serat sebayak 1 gram. Tambahan berbagai macam bahan makanan lain bisa menambah nutrisinya seperti protein, vitamin, dan lain-lain.

Sayangnya, mie ramen instan cenderung tinggi kandungan garam, MSG, atau bahan pengawet yang biasanya kurang sehat. Masalahnya adalah konsumsi garam dan MSG dalam jumlah tinggi berpotensi menyebabkan gejala seperti sakit kepala, mual-mual, kaku otot, hingga peningkatan tekanan darah.

Ramen Kurang Baik bagi Berat Badan

Makanan tinggi kalori seperti ramen tidak cocok bagi mereka yang ingin menjaga atau menurunkan berat badan. Hanya saja, jika kita hanya sesekali mengonsumsinya, sepertinya tidak apa-apa bagi kesehatan.

Kita juga sebaiknya lebih cermat dalam memilih bahan tambahan dari ramen yang akan kita konsumsi seperti dengan memilih sayuran segar, daging ikan atau daging unggas tanpa lemak, atau makanan laut yang tentu akan menambah nutrisinya.

 

Sumber:

  1. Anonim. 2019. JAPANESE RAMEN LINKED TO STROKE AND HEART ATTACKS ACCORDING TO STUDY. www.weareresonate.com/2019/12/japanese-ramen-linked-stroke-and-heart-attacks-according-to-study-jichi-medical-university/ (Diakses pada 7 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi