Terbit: 26 Desember 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Musim buah rambutan telah tiba. Di berbagai tempat, kita bisa menemukan penjual rambutan dengan harga yang terjangkau. Rasanya yang manis dan menyegarkan membuat kita seperti ingin terus mengonsumsinya dalam jumlah yang banyak. Hanya saja, banyak penderita diabetes yang ragu untuk makan rambutan karena rasa yang manis ini. Sebenarnya, apakah mereka memang tidak boleh memakannya?

Rambutan Berbahaya Bagi Diabetes?

Dampak makan rambutan bagi penderita diabetes

Pakar kesehatan menyebut kandungan gula alami di dalam rambutan cukup tinggi. Hal inilah yang membuatnya memiliki rasa yang manis. Selain itu, rambutan juga memiliki sifaat alkoholik apabila sudah berada dalam kondisi matang. Hal ini berarti, mengonsumsi rambutan memang bisa membuat kadar gula darah naik, kondisi yang bisa membahayakan penderita diabetes.

Buah tidak boleh dimakan penderita diabetes?

Pakar kesehatan menyarankan penderita diabetes untuk lebih berhati-hati saat mengonsumsi makanan dan minuman, termasuk buah-buahan manis. Meskipun begitu, bukan berarti mereka tidak boleh mengonsumsi buah. Asupan serat dan nutrisi lain di dalam buah bisa memberikan banyak sekali manfaat kesehatan.

Sebenarnya, yang harus diperhatikan oleh penderita diabetes saat makan buah bukanlah seberapa manis buah tersebut, melainkan seberapa banyak kandungan karbohidrat di dalamnya. Sebagai informasi di dalam buah terdapat dua jenis karbohidrat sederhana, yakni glukosa dan fruktosa. Fruktosa memang bisa menaikkan kadar gula darah, apalagi jika dikonsumsi dengan berlebihan oleh penderita diabetes.

Melihat fakta ini, pakar kesehatan menyebut penderita diabetes sebaiknya berkonsultasi ke dokter untuk mengetahui buah apa saja yang sebenarnya masih bisa mereka konsumsi. Selain itu, mereka juga sebaiknya membatasi asupannya agar tidak berlebihan. Sebagai contoh, sebaiknya mereka membatasi asupan buah apel, jeruk, pir, atau kiwi maksimal 1 buah saja setiap hari, satu buah pisang berukuran kecil, secangkir pepaya, setengah cangkir mangga, dan tiga perempat cangkir nanas. Meskipun begitu, porsi ini bisa berbeda-beda bagi setiap orang.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Buah-buahan yang baik bagi penderita diabetes

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ada beberapa buah yang masih boleh dikonsumsi penderita diabetes meskipun tentu saja porsi atau frekuensi makannya harus dibatasi.

Berikut adalah beberapa jenis buah-buahan tersebut.

  1. Kiwi

Buah dengan perpaduan rasa manis dan asam ini disebut-sebut bisa membantu menurunkan kadar gula darah sehingga bisa memberikan dampak positif bagi penderita diabetes.

  1. Buah ceri dan beri

Buah ceri memiliki indeks glikemik yang sangat rendah, yakni 20. Sebagaimana kita ketahui, makanan dengan indeks glikemik rendah aman bagi penderita diabetes sehingga buah ini pun dianggap aman untuk mereka konsumsi.

Sementara itu, buah beri seperti stroberi dan raspberi juga bisa dikonsumsi oleh penderita diabetes meskipun sebaiknya mereka berkonsultasi ke dokter terlebih dahulu untuk mengetahui porsi yang aman.

  1. Jambu biji

Buah yang nikmat untuk dijadikan jus ini kaya akan kandungan vitamin A, vitamin C, serta serat. Selain itu, nilai indeks glikemiknya juga tergolong rendah sehingga cocok untuk dikonsumsi penderita diabetes.

  1. Buah nanas

Nanas termasuk dalam buah yang bersifat antivirus dan antiperadangan. Manfaat ini disebut-sebut baik bagi penderita diabetes, khususnya dalam hal mencegah munculnya peradangan atau komplikasi.

  1. Apel

Apel adalah buah terbaik dan paling direkomendasikan bagi penderita diabetes karena memiliki kandungan antioksidan yang sangat tinggi. Kandungannya juga mampu membuat sistem pencernaan lebih sehat, memperkuat sistem kekebalan tubuh, dan membantu mengendalikan kadar gula darah.

  1. Belimbing

Mengonsumsi belimbing secara rutin bisa membantu penderita diabetes mengendalikan kadar gula darah sehingga mencegah datangnya komplikasi yang berbahaya.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi