Terbit: 13 Oktober 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Racun sianida. Mendengar namanya, Anda mungkin teringat dengan kasus pembunuhan ‘kopi sianida’ yang pernah menggemparkan publik Tanah Air beberapa tahun silam. Nah, memangnya seperti apa sih bahan kimia yang satu ini sampai-sampai dampaknya dapat menghilangkan nyawa seseorang?

Racun Sianida: Bahaya, Gejala, Penanganan, dll

Apa Itu Racun Sianida?

Sianida adalah nama untuk suatu bahan kimia. Sianida terdiri dari elemen karbon dan nitrogen (CN) yang saling mengikat satu sama lain. Bahan kimia ini sangat berbahaya jika sampai masuk ke dalam tubuh karena dapat menyebabkan tubuh tidak dapat menggunakan oksigen sebagaimana mestinya.

Jika menilik sejarahnya, sianida pada awalnya dimanfaatkan oleh industri pertambangan sebagai medium pengikat logam mulia pada metode amalgamasi. Metode ini terbukti dapat menghasilkan kadar emas hingga 95 persen. Sementara di bidang pertanian, racun sianida difungsikan sebagai pembasmi hama seperti tikus.

Sayangnya, pada saat Perang Dunia I bergejolak, sianida justru malah digunakan sebagai senjata kimia untuk membunuh musuh. Tidak hanya itu, ada juga juga yang menggunakan bahan berbahaya ini untuk mengakhiri hidup alias bunuh diri.

Cara Kerja Racun Sianida

Lantas, bagaimana cara kerja racun sianida hingga bisa menyebabkan kematian? Jawabannya adalah karena bahan kimia tersebut mengandung senyawa yang bernama ion aianida (CN-).

Nah, senyawa tersebut mengganggu sitokrom C oksidase—letaknya ada di dalam sel mitokondria—dalam menjalankan fungsinya yakni mengubah oksigen menjadi energi yang dibutuhkan oleh organ, saraf, maupun jaringan tubuh. Alhasil, baik organ, saraf, maupun jaringan tubuh akan mengalami malfungsi yang lantas berakibat pada kematian!

Macam-Macam Sumber Racun Sianida

Selama ini Anda mungkin berpikir jika racun sianida hanya ada dalam bentuk bubuk. Faktanya, sianida juga dapat ditemukan di kehidupan kita sehari-hari melalui sejumlah medium berikut ini:

1. Tumbuh-tumbuhan

Sumber sianida yang pertama adalah tumbuh-tumbuhan. Beberapa jenis tanaman—khususnya tanaman berbuah—yang diklaim mengandung sianida antara lain sebagai berikut:

  • Tanaman persik
  • Tanaman aprikot
  • Tanaman apel
  • Tanaman pir
  • Tanaman singkong

Kendati demikian, kandungan sianida pada tanaman-tanaman tersebut terbilang sedikit sehingga selama Anda mengonsumsi buahnya secara wajar, tidak ada gejala keracunan yang akan muncul. Sementara untuk singkong, merebusnya sampai matang akan menghilangkan kandungan sianida di dalamnya.

2. Pembersih Cat Kuku

Pembersih cat kukut atau kuteks ternyata mengandung bahan kimia yang apabila sampai masuk ke dalam tubuh dapat berubah menjadi racun sianida nan berbahaya, lho! Oleh sebab itu, berhati-hatilah dalam menggunakan produk tersebut. Ada baiknya jika Anda juga berkonsultasi dengan dokter perihal pemakaian produk pembersih kuteks guna menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.

3. Laetrile

Laetrile adalah bahan yang biasa digunakan untuk menunjang terapi pengobatan kanker. Faktanya, laetrile ini juga bisa berubah menjadi sianida saat masuk ke dalam tubuh.

Itu sebabnya, obat dengan kandungan bahan ini sebenarnya belum mendapat persetujuan dari The United States Food and Drug Administration (USFDA) untuk digunakan dalam pengobatan kanker mengingat risiko efek sampingnya tersebut.

4. Asap Rokok

Asap rokok ternyata juga merupakan sumber dari sianida. Ini karena tembakau yang menjadi bahan baku rokok mengandung sianida alami.

Diketahui bahwasanya perokok berpotensi memiliki kandungan sianida dalam darahnya 2 kali lebih banyak ketimbang mereka yang tidak merokok. Akan tetapi, nonperokok pun apabila menghirup asap rokok kemungkinan juga memiliki risiko yang sama untuk keracunan sianida.

5. Asap Sisa Pembakaran Sampah

Asap sisa pembakaran sampah menjadi sumber racun sianida selanjutnya yang perlu Anda waspadai. Ini utamanya berasal dari sampah plastik dan karet.

6. Bahan Baku Industri

Bahan-bahan yang digunakan oleh sejumlah industri juga kemungkinan mengandung sianida sehingga berpotensi menyasar mereka yang bersentuhan langsung dengan bahan-bahan tersebut.

Contoh industri yang dimaksud adalah:

  • Industri logam
  • Industri baja
  • Pertambangan
  • Farmasi
  • Pestisida
  • Fotografi

Seberapa Banyak Dosis Racun Sianida yang Berbahaya?

Keracunan sianida tentu baru akan terjadi apabila korban terpapar bahan kimia tersebut dalam dosis yang amat tinggi. Namun, belum ada informasi pasti terkait seberapa tinggi dosis racun sianida yang “dibutuhkan” untuk sampai pada tahap berbahaya dan dapat menyebabkan seseorang meninggal dunia.

Sementara itu, faktor-faktor yang memengaruhi tingkat keparahan paparan sianida adalah:

  • Jenis sianida
  • Durasi paparan sianida

Perlu diketahui juga, paparan sianida melalui hidung mungkin lebih berbahaya dibandingkan jika racun ini tertelan atau mengenai kulit.

Bagaimana Seseorang Bisa Terkena Racun Sianida?

Ada sejumlah cara bagaimana seseorang bisa keracunan sianida, yaitu:

  • Menelan makanan atau minuman yang terpapar sianida
  • Menghirup bahan kimia yang mengandung sianida
  • Sianida masuk melalui kulit

Ciri dan Gejala Keracunan Sianida

Apa saja gejala yang muncul ketika seseorang keracunan sianida. Ciri dan gejala keracunan terbagi menjadi 2 (dua), yaitu gejala akut dan kronis.

1. Gejala Keracunan Sianida Akut

Gejala keracunan akut terjadi secara tiba-tiba. Gejalanya meliputi:

  • Mual
  • Sakit kepala
  • Kebingungan
  • Kejang
  • Sesak napas
  • Gagal jantung
  • Hilang kesadaran

2. Gejala Keracunan Sianida Kronis

Sementara itu, gejala kronis terjadi dalam waktu lama dan intensitasnya semakin bertambah setiap waktu. Gejala kronis meliputi:

  • Mual
  • Muntah
  • Sakit kepala
  • Mudah mengantuk
  • Vertigo
  • Napas pendek
  • Kulit lembap
  • Kejang
  • Denyut nadi lemah
  • Suhu tubuh menurun
  • Gangguan detak jantung
  • Kematian

Diagnosis Keracunan Sianida

Segera kunjungi dokter apabila mengalami—atau melihat orang lain—gejala-gejala yang mengarah pada keracunan bahan kimia berbahaya ini. Guna memastikan kondisi, dokter akan melakukan pemeriksaan berupa:

  • Anamnesis. Dokter membutuhkan informasi mengenai kronologi pasien sampai bisa mengalami gejala keracunan.
  • Pemeriksaan penunjang. Dokter akan melakukan sejumlah pemeriksaan seperti tes darah, rontgen, dan sebagainya. Ini untuk mencari tahu seberapa keracunan yang terjadi dan apakah ini terkait dengan sianida atau bukan.

Penanganan Keracunan Sianida

Setelah pasien dipastikan terpapar racun sianida, maka sejumlah penanganan harus dilakukan secepat mungkin. Penanganan keracunan sianida meliputi:

1. Pertolongan Pertama

Pertolongan pertama untuk kasus keracunan yang satu ini meliputi:

  • Membawa korban ke tempat yang banyak terdapat udara segar.
  • Melepas pakaian yang sedang dikenakan (apabila racun mengenai pakaian). Sebaiknya melepas pakaian dengan cara digunting alih-alih dengan cara biasa. Ini untuk mencegah agar racun tidak mengenai mulut atau hidung.
  • Buang pakaian yang terpapar.
  • Basahi tubuh dengan air yang mengalir.
  • Segera hubungi fasilitas kesehatan terdekat.

2. Perawatan Medis

Setelah bantuan medis datang, maka perawatan medis yang bisa dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Memberikan alat bantu pernapasan.
  • Memberikan obat penawar racun (vitamin B12 dan hydroxocobalamin).
  • Penggunaan arang aktif untuk menyerap racun dari kulit.

Racun Sianida Menyebabkan Kematian, Seberapa Lama?

Racun sianida dapat menyebabkan kematian, namun seberapa lama kematian dapat terjadi ini tergantung dari sejumlah faktor yaitu:

  • Jenis sianida
  • Dosis sianida
  • Durasi paparan sianida
  • Kecepatan pertolongan medis

Efek Jangka Panjang Racun Sianida

Korban keracunan sianida mungkin bisa lolos dari kematian. Akan tetapi, ada kemungkinan ia dapat mengalami efek jangka panjang akibat paparan bahan berbahaya tersebut. Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), efek jangka panjang tersebut meliputi:

  • Kerusakan jantung
  • Kerusakan saraf
  • Kerusakan otak

Itu dia informasi mengenai racun sianida yang perlu Anda ketahui. Semoga bermanfaat dan tetap waspada!

 

  1. Anonim. Cyanide. https://www.britannica.com/science/cyanide (diakses pada 13 Oktober 2020)
  2. Anonim. The Facts about Cyanide. https://www.health.ny.gov/environmental/emergency/chemical_terrorism/cyanide_general.htm (diakses pada 13 Oktober 2020)
  3. Centers for Disease Control and Prevention. Facts About Cyanide. https://emergency.cdc.gov/agent/cyanide/basics/facts.asp (diakses pada 13 Oktober 2020)
  4. Citroner, J. 2018. What is Cyanide Poisoning? https://www.healthline.com/health/cyanide-poisoning (diakses pada 13 Oktober 2020)
  5. Cunha, J. 2019. Cyanide Poisoning. https://www.emedicinehealth.com/cyanide_poisoning/article_em.htm#cyanide_poisoning_overview (diakses pada 13 Oktober 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi