Terbit: 30 April 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Apakah puasa bagi penderita GERD aman? GERD atau asam lambung menyebabkan sensasi rasa asam di bagian mulut sehingga penderitanya sering memuntahkan makanan. Gejala ini mungkin meningkat bila penderitanya menjalani puasa. Ketahui tips puasa bagi penderita GERD dan bolehkah penderita gerd berpuasa.

8 Tips Puasa bagi Penderita GERD agar Ibadah Lancar

Bolehkah Penderita GERD Berpuasa?

Bagi penderita GERD (gastroesophageal reflux disease) yang memiliki kewajiban puasa, puasa mungkin dapat meningkatkan komplikasi GERD atau asam lambung naik. Kondisi ini dipicu karena perut kosong dalam jangka waktu yang lumayan panjang.

GERD atau penyakit asam lambung adalah gangguan pencernaan umum yang terjadi saat cairan asam lambung dari makanan atau cairan naik kembali ke kerongkongan. Kondisi ini menyebabkan sensasi terbakar di dada hingga ke leher. Penderita asam lambung biasanya merasakan pahit dan asam di bagian belakang mulut.

Sebenarnya, penderita GERD tetap dapat menjalankan puasa dengan dengan menerapkan pola makan dan pola hidup yang sesuai. Beberapa penelitian bahkan menunjukan bahwa puasa memiliki potensi untuk mengurangi gejala GERD.

Walaupun demikian, semuanya tergantung pada seberapa parah riwayat asam lambung yang Anda miliki serta kondisi kesehatan keseluruhan. Bila tidak yakin, Anda disarankan untuk konsultasi ke dokter sebelum memutuskan untuk menjalankan ibadah puasa.

Tips Puasa bagi Penderita GERD

Ikuti beberapa tips puasa bagi penderita gerd ini agar puasa Anda lancar tanpa keluhan kesehatan, yaitu:

1. Jangan Makan Berlebihan

Makan dalam porsi besar dan cepat tidak dianjurkan karena akan meningkatkan tekanan pada katup sfingter esofagus bagian bawah. Katup tersebut terletak di antara kerongkongan dan perut Anda.

Saat berbuka puasa, harap jangan segera berbuka dengan porsi makan besar. Sebaiknya, ambil porsi kecil beberapa kali dan mengunyahnya dengan benar. Apabila Anda makan dalam porsi besar sekaligus, risiko asam lambung naik juga sama besarnya.

Baca Juga: 10 Tips Puasa bagi Penderita Maag agar Ibadah Lancar

2. Jangan Makan Terlalu Cepat

Saat berbuka puasa atau sahur, sebagian orang cenderung makan dengan cepat. Kebiasaan mengunyah makanan dengan cepat ini tidak dianjurkan bagi penderita GERD karena akan menyulitkan sistem pencernaan dalam mencerna makanan.

Sebaiknya, makan sedikit demi sedikit dan mengunyahnya dengan benar. Disarankan untuk mengunyah makanan sebanyak 20 kali dalam sekali suapan. Makanan yang mudah dicerna akan menurunkan risiko asam lambung akan naik kembali ke kerongkongan.

3. Jangan Makan Makanan yang Memicu GERD Kambuh

Sebagian besar orang mungkin ingin makan segalanya yang disajikan saat buka puasa atau makan sahur. Penderita GERD tidak boleh makan apa saja karena akan memicu asam lambung naik, terutama setelah perut kosong dalam waktu tertentu.

Sebaiknya, hindari makanan pemicu asam lambung kambuh berikut ini:

  • Gorengan
  • Daging berlemak tinggi
  • Produk susu murni
  • Minuman soda berkarbonasi
  • Makanan pedas
  • Makanan atau produk berbahan dasar tomat
  • Minuman asam seperti jus jeruk
  • Minuman berkafein

Jenis makanan dan minuman tersebut dapat meningkatkan produksi asam dan memicu gejala asam lambung seperti nyeri dan perut perih.

4. Jangan Tidur Setelah Makan

Sebagian orang mungkin segera tidur setelah makan sahur, kebiasaan ini tidak baik untuk kesehatan apalagi bila Anda memiliki gangguan pencernaan seperti GERD atau maag. Sebaiknya, beri jeda 2-3 jam setelah makan sebelum Anda tidur.

Baca Juga: 5 Tips Menjaga Daya Tahan Tubuh Saat Puasa agar Tetap Sehat

5. Kelola Stres

Berdasarkan laporan, stres akan memicu gejala asam lambung sensasi terbakar di tulang dada, mual, dan muntah. Anda harus mengelola stres dan emosi ini agar asam lambung tidak kambuh. Selain itu, bulan puasa adalah waktu yang baik untuk mengelola stres dengan cara beribadah, refleksi, meditasi, atau pengelolaan emosi baik lainnya.

6. Konsumsi Makanan yang Tepat

Memilih menu buka puasa dan sahur yang tepat adalah kunci kelancaran puasa bagi penderita GERD. Berikut ini rekomendasi makanan untuk penderita asam lambung:

  • Sayuran seperti kacang hijau, brokoli, asparagus, kembang kol, sayuran berdaun hijau, kentang, dan mentimun.
  • Makanan tinggi serat seperti oatmeal.
  • Rempah yang memiliki efek antiinflamasi seperti jahe.
  • Buah-buahan non sitrus seperti apel, pear, pisang, dan melon.
  • Daging tanpa lemak seperti daging ayam, kalkun, atau ikan.
  • Makanan yang diolah dengan cara dikukus, direbus, atau dipanggang.
  • Putih telur. Sebaiknya tidak konsumsi kuning telur karena tinggi lemak.
  • Sumber lemak sehat seperti minyak zaitun, minyak wijen, kacang kenari, alpukat, dll.
  • Minum teh herbal hangat lebih baik.
  • Minuman berbasis nabati seperti susu kedelai, susu almond, susu kacang mede, susu jahe, dll.
  • Jus buas seperti jus semangka, lidah buaya, wortel, timun, bayam, dll.
  • Smoothies dari berbagai bahan alami seperti pir, alpukat, semangka, kale, atau bayam.

Anda dapat mengombinasikan jenis makanan dan minuman tersebut untuk buka puasa dan sahur. Selain itu, sebaiknya konsumsi minuman hangat dan hindari minuman jeruk agar kondisi asam lambung tetap aman.

7. Penuhi Kebutuhan Cairan

Puasa memang menahan haus dan lapar dalam durasi yang ditentukan, namun tetap penuhi kebutuhan cairan di luar jam puasa. Tetap minum air putih sesuai dengan jumlah yang direkomendasikan, yaitu 8 gelas sehari atau setara dengan 2 liter.

8. Konsultasi ke Dokter

Apabila Anda konsumsi obat-obatan untuk menangani gejala asam lambung, maka konsultasi terlebih dahulu dengan dokter apakah aman puasa bagi penderita gerd. Bila iya, tanyakan pola makan dan pola hidup apa yang harus diterapkan agar puasa lancar tanpa gangguan kesehatan.

Baca Juga: 11 Mitos Puasa yang Banyak Dipercaya, Ketahui Fakta yang Benar!

Apakah GERD Sembuh dengan Puasa?

Berdasarkan sebuah penelitian (Mardhiyah, Radhiyatam, et al:2016), ada manfaat dari puasa bagi penderita GERD. Penelitian tersebut dilakukan pada 130 pasien GERD yang dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama (66 pasien) menjalani puasa Ramadan, sementara kelompok kedua (64 pasien) tidak melakukan puasa Ramadan.

Hasilnya, kelompok pasien GERD yang menjalani puasa mengalami penurunan gejala GERD daripada kelompok lainnya. Kondisi diperkiraan akibat adanya perubahan pola makan yang lebih teratur selama berpuasa. Walaupun demikian, tidak ada pernyataan tentang GERD sembuh dengan puasa namun gejalanya jadi bisa dikontrol lebih baik.

Itulah pembahasan lengkap tentang puasa bagi penderita GERD. Bila Anda ragu bolehkah penderita GERD berpuasa, maka jawabannya adalah boleh asalkan sesuai dengan pola makan yang dianjurkan. Tetap konsultasi ke dokter untuk tips berpuasa yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

 

  1. Acta Medica Indonesiana. 2016. The Effects of Ramadhan Fasting on Clinical Symptoms in Patients with Gastroesophageal Reflux Disease. http://www.actamedindones.org/index.php/ijim/article/view/193. (Diakses pada 20 April 2020).
  2. Eisai. 2013. Fasting for GERD Patients in Ramadan. https://www.eisai.co.id/third%20-%20healthcare/third_node/fourth/disease09.html. (Diakses pada 20 April 2020).
  3. Gillson, Sharon. 2019. 10 Things to Stop Doing If You Have GERD. https://www.verywellhealth.com/stop-doing-with-gerd-1742213. (Diakses pada 20 April 2020).
  4. Gotter, Ana and Valencia Higuera. 2019. What to Drink for Acid Reflux. https://www.healthline.com/health/gerd/beverages. (Diakses pada 20 April 2020).
  5. Healthline Editorial Team and Heather Cruickshank. 2018. Everything You Need to Know About Acid Reflux and GERD. (Diakses pada 20 April 2020).
  6. Madell, Robin and Valencia Higuera. 2019. 7 Foods to Help Your Acid Reflux. https://www.healthline.com/health/gerd/diet-nutrition. (Diakses pada 20 April 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi