Terbit: 6 Januari 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Antonius Hapindra Kasim

Post-traumatic stress disorder atau biasa disebut PTSD adalah gangguan mental yang dipicu oleh peristiwa yang menakutkan—bisa dialami sendiri atau hanya menyaksikan saja. Banyak orang yang mengalami peristiwa traumatis ini mengalami kesulitan untuk mengatasi masalah dan menyesuaikan diri.

ptsd-adalah-doktersehat

Namun dengan perawatan diri yang baik, kesehatan mental biasanya menjadi lebih baik. Simak penyebab, ciri ciri PTSD, hingga cara menyembuhkan PTSD selengkapnya di bawah ini

Penyebab Post-Traumatic Stress Disorder

Hingga kini penyebab pasti seseorang mengalami post-traumatic stress disorder atau gangguan stres pascatrauma belum diketahui dengan pasti. Seperti halnya gangguan mental lainnya, PTSD adalah suatu kondisi yang disebabkan oleh berbagai kondisi yang kompleks, antara lain:

  • Pengalaman stres, termasuk jumlah dan keparahan trauma yang dialami dalam hidup.
  • Riwayat anggota keluarga yang pernah mengalami gangguan kecemasan dan depresi. Ciri ciri PTSD yang diwariskan adalah menjadi temperamen.
  • Cara otak mengatur bahan kimia dan hormon yang dikeluarkan tubuh sebagai respons terhadap stres.

Faktor Risiko yang Meningkatkan Post-Traumatic Stress Disorder

Pada dasarnya PTSD adalah suatu kondisi yang bisa dialami oleh semua orang. Namun, beberapa faktor dapat membuat Anda lebih mungkin mengembangkan PTSD, seperti:

  • Mengalami trauma yang intens atau bertahan lama.
  • Pernah mengalami trauma di masa anak-anak.
  • Pekerjaan yang berisiko meningkatkan risiko terkena peristiwa traumatis.
  • Memiliki masalah dengan penyalahgunaan zat, seperti konsumsi alkohol berlebihan atau penggunaan narkoba.
  • Tidak memiliki pendukung yang baik, bisa dari keluarga atau teman.
  • Memiliki saudara kandung dengan masalah kesehatan mental.

Peristiwa paling umum yang mengarah pada pengembangan PTSD adalah:

  • Pelecehan fisik masa kecil.
  • Kekerasan seksual.
  • Serangan fisik.
  • Diancam dengan senjata.
  • Kecelakaan.

Selain beberapa hal di atas, peristiwa lain yang dapat menyebabkan PTSD adalah kebakaran, bencana alam, atau diagnosis medis yang mengancam jiwa.

Gejala Post-Traumatic Stress Disorder

Gejala atau ciri-ciri PTSD dapat dimulai dalam satu bulan setelah peristiwa traumatis, tetapi kadang-kadang gejala juga tidak muncul sampai bertahun-tahun setelah kejadian. Saat gejala muncul, biasanya hal ini akan menimbulkan masalah signifikan dalam pekerjaan atau hubungan dengan orang lain. Bahkan, kondisi ini juga bisa mengganggu kemampuan untuk melakukan tugas sehari-hari yang normal.

Perlu Anda ketahui, pada dasarnya gejala PTSD dikelompokkan menjadi empat jenis: kenangan yang mengganggu, penghindaran, perubahan negatif dalam pemikiran dan suasana hati, serta perubahan dalam reaksi fisik dan emosional.

Ciri-ciri PTSD bisa bervariasi dari waktu ke waktu dan bervariasi setiap orang. Berikut penjelasan lengkapnya:

1. Kenangan yang Mengganggu

Gejala ingatan yang mengganggu dapat meliputi:

  • Ingatan yang berulang dan tak diinginkan dari peristiwa traumatis.
  • Menghidupkan kembali peristiwa traumatis seolah-olah itu terjadi lagi (kilas balik).
  • Mimpi buruk tentang peristiwa traumatis.
  • Kesedihan emosional yang parah atau reaksi fisik terhadap sesuatu yang mengingatkan pada peristiwa traumatis.

2. Penghindaran

Gejala penghindaran dapat meliputi:

  • Menghindari berpikir atau berbicara tentang peristiwa traumatis.
  • Menghindari tempat, kegiatan, atau orang yang mengingatkan tentang peristiwa traumatis.

3. Perubahan Negatif dalam Pemikiran dan Suasana Hati

Gejalanya dapat meliputi:

  • Pikiran negatif tentang diri sendiri, orang lain atau dunia.
  • Keputusasaan tentang masa depan.
  • Masalah ingatan, termasuk tidak mengingat aspek penting dari peristiwa traumatis.
  • Kesulitan mempertahankan hubungan dekat.
  • Merasa terpisah dari keluarga dan teman.
  • Kurangnya minat dalam aktivitas yang pernah Anda nikmati.
  • Sulit menciptakan emosi positif.
  • Merasa mati rasa secara emosional.

4. Perubahan Reaksi Fisik dan Emosional

Gejalanya dapat meliputi:

  • Mudah kaget atau takut.
  • Selalu waspada terhadap bahaya.
  • Perilaku merusak diri sendiri, seperti konsumsi minuman beralkohol dalam jumlah banyak atau berkendara dengan cepat.
  • Sulit tidur.
  • Sulit konsentrasi.
  • Cepat marah atau perilaku agresif
  • Rasa bersalah atau malu yang luar biasa.

Sementara untuk anak-anak berusia 6 tahun dan lebih muda, ciri-ciri PTSD seperti:

  • Peragaan ulang peristiwa traumatis melalui permainan.
  • Mimpi menakutkan yang mungkin termasuk aspek dari peristiwa traumatis.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika perasaan tentang peristiwa traumatis dialami lebih dari sebulan, bertambah parah, atau kesulitan mengendalikan emosi, segera konsultasi dengan dokter atau profesional kesehatan mental untuk mendapatkan penanganan PTSD yang tepat.

Diagnosis Post-Traumatic Stress Disorder

Guna mendiagnosis post-traumatic stress disorder, dokter dapat melakukan beberapa hal seperti:

  • Melakukan pemeriksaan fisik untuk memeriksa masalah medis yang mungkin menyebabkan gejala.
  • Melakukan evaluasi psikologis yang mencakup diskusi tentang tanda dan gejala serta peristiwa yang mengarah pada PTSD.
  • Menggunakan kriteria sesuai dengan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5).

Pengobatan Post-Traumatic Stress Disorder

Penanganan PTSD yang utama adalah pemberian obat-obatan, psikoterapi (terapi bicara) atau keduanya. Setiap orang memiliki ciri-ciri PTSD  dan memengaruhi tubuh secara berbeda-berbeda, sehingga perawatan yang berguna untuk satu orang mungkin tidak berguna untuk orang lain.

Beberapa orang dengan PTSD mungkin perlu mencoba perawatan yang berbeda untuk menemukan apa yang sesuai dengan gejalanya.

Psikoterapi

Terapi untuk PTSD yang bisa dilakukan adalah psikoterapi atau terapi bicara. Cara ini umumnya digunakan untuk mengatasi anak-anak-anak dan orang dewasa dengan PTSD. Beberapa jenis psikoterapi yang digunakan dalam perawatan PTSD  adalah:

  • Terapi kognitif

Jenis terapi ini membantu mengenali cara berpikir (pola kognitif) yang membuat Anda terjebak—misalnya, keyakinan negatif tentang diri dan risiko hal-hal traumatis terjadi lagi. Terapi kognitif sering digunakan bersama dengan terapi paparan.

  • Terapi paparan

Terapi perilaku ini membantu menghadapi situasi dan kenangan yang menakutkan, sehingga Anda dapat belajar mengatasinya secara efektif. Terapi untuk PTSD ini dapat sangat membantu untuk kilas balik dan mimpi buruk.

  • Terapi psikodinamik

Terapi ini berfokus pada membantu orang tersebut memeriksa nilai-nilai pribadi dan konflik emosional yang disebabkan oleh peristiwa traumatis.

  • Terapi keluarga

Terapi ini mungkin berguna karena perilaku orang dengan PTSD dapat memengaruhi anggota keluarga lainnya.

  • Terapi kelompok

terapi untuk PTSD ini dapat membantu dengan memungkinkan penderita berbagi pikiran, ketakutan, dan perasaan dengan orang lain yang pernah mengalami peristiwa traumatis.

  • Eye movement desensitization and reprocessing (EMDR)

EMDR menggabungkan terapi paparan dengan serangkaian gerakan mata terpadu yang membantu memproses memori traumatis dan mengubah cara Anda bereaksi terhadapnya.

Pada dasarnya, penanganan PTSD seperti di atas dapat membantu Anda mengendalikan rasa takut setelah peristiwa traumatis. Diskusikan jenis terapi atau kombinasi terapi apa yang paling sesuai  dengan profesional kesehatan mental.

Medis

  • Obat Antidepresan

Obat ini dapat membantu gejala depresi dan kecemasan. Obat selective serotonin reuptake inhibitor (SSRI) yang bisa digunakan seperti sertraline dan paroxetine. Meski begitu, Anda harus waspada bahwa obat antidepresan juga dapat menyebabkan peningkatan risiko bunuh diri pada individu di bawah usia 24 tahun.

  • Obat Antikecemasan

Obat-obatan ini dapat meredakan kecemasan parah. Beberapa obat antikecemasan berpotensi untuk disalahgunakan, sehingga biasanya digunakan hanya untuk waktu yang singkat (short term therapy).

Pencegahan

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa penanganan dini dari trauma dapat mengurangi  gejala hingga mencegah terjadinya PTSD.

 

  1. Post-traumatic stress disorder (PTSD). https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/post-traumatic-stress-disorder/symptoms-causes/syc-20355967. (Diakses pada 6 Januari 2020).
  2. Posttraumatic Stress Disorder. https://www.webmd.com/mental-health/post-traumatic-stress-disorder#1. (Diakses pada 6 Januari 2020).
  3. Post-Traumatic Stress Disorder. https://www.nimh.nih.gov/health/topics/post-traumatic-stress-disorder-ptsd/index.shtml. (Diakses pada 6 Januari 2020).
  4. Brazier, Yvette. 2019. PTSD: What you need to know. https://www.medicalnewstoday.com/articles/156285.php#self-help-tips. (Diakses pada 6 Januari 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi