Terbit: 17 Februari 2021 | Diperbarui: 18 Februari 2021
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Pseudobulbar affect (PBA) atau efek pseudobulbar adalah kondisi di mana seseorang bisa tertawa dan menangis secara tiba-tiba dan tidak terkendali. Simak penjelasan lengkap mengenai gejala, penyebab, hingga cara mengobatinya.

Pseudobulbar Affect: Gejala, Penyebab, Diagnosis, dan Pengobatan

Apa Itu Pseudobulbar Affect?

Pseudobulbar affect adalah gangguan sistem saraf yang dapat membuat seseorang tertawa, menangis, atau menjadi marah tanpa dapat mengontrol kapan hal itu terjadi.

Meskipun episode tertawa atau menangis mungkin sesuai dengan peristiwa pemicu, ekspresi yang muncul cenderung lebih sulit untuk ditahan dan bisa berlangsung lebih lama dari yang diharapkan.

PBA dapat berdampak besar pada kehidupan seseorang yang memilikinya, anggota keluarga, dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Keadaan ini dapat menyebabkan rasa malu dan kecemasan yang berlebihan, sehingga menyebabkan penarikan diri dan isolasi sosial.

Gejala Pseudobulbar Affect

Beberapa gejala utama dari keadaan ini adalah:

  • Tiba-tiba menangis atau tawa intens yang tidak terkontrol.
  • Menangis atau tertawa pada situasi yang tidak tepat.
  • Gejolak frustrasi dan amarah.
  • Ekspresi wajah yang tidak sesuai dengan emosi.
  • Gejolak bisa terjadi beberapa kali sehari atau beberapa kali sebulan.

Beberapa gejala di atas pada dasarnya tidak terkait dengan suasana hati. Dengan kata lain, Anda mungkin merasa bahagia tetapi bisa menangis dan tidak bisa berhenti. Bahkan Anda bisa merasa sedih tetapi respons emosional yang muncul justru tertawa.

Beberapa orang mengatakan gejala datang begitu cepat seperti kejang. Selain itu, banyak orang salah mengira bahwa gejala yang muncul sebagai depresi atau gangguan bipolar. Episode PBA cenderung berdurasi pendek, sedangkan depresi menyebabkan perasaan sedih yang terus-menerus.

Kapan Waktu yang Tepat untuk ke Dokter?

Jika Anda merasa menderita PBA, konsultasi dengan dokter diperlukan. Jika Anda memiliki kondisi neurologis, dokter saraf atau psikiater dapat membantu mendiagnosis pseudobulbar affect. Banyak kasus tidak terdiagnosis dengan baik karena kurangnya kesadaran tentang kondisi ini.

Sementara jika Anda merawat seseorang yang mengidap keadaan ini, Anda mungkin merasa bingung atau frustasi. Dampak emosional dari kondisi tersebut sangat memengaruhi pemulihan dan kualitas hidup. Penting untuk mencari perawatan dan pengobatan dari dokter yang tepat.

Penyebab Pseudobulbar Affect

Penyebab pasti keadaan ini tidak diketahui dengan pasti, namun hal ini sering dikaitkan dengan gangguan neurologis atau penyakit yang menyebabkan kerusakan atau cedera otak, seperti:

  • Penyakit Alzheimer dan bentuk demensia lainnya.
  • Sklerosis lateral amiotrofik (ALS), juga dikenal sebagai penyakit Lou Gehrig.
  • Tumor otak.
  • Cerebellar lesions (termasuk spinocerebellar atrophy).
  • Epilepsi.
  • Multiple sclerosis (MS).
  • Neurosifilis (infeksi di otak atau sumsum tulang belakang yang disebabkan oleh spirochetes yang menyebabkan sifilis).
  • Penyakit Parkinson.
  • Progressive supranuclear palsy (gangguan otak yang menyebabkan masalah dengan berjalan, keseimbangan, bicara, berpikir, penglihatan, suasana hati, dan perilaku).
  • Stroke.
  • Cedera otak traumatis.
  • Penyakit Wilson (keadaan di mana copper menumpuk di otak, hati, dan organ lain).

Area otak di sepanjang jalur cerebro-ponto-cerebellar kemungkinan bertanggung jawab atas hilangnya penghambatan atau kontrol regulasi pada ekspresi emosi. Bagian dari jalur ini termasuk otak kecil, yang memainkan peran kunci dalam mengatur atau memantau respons emosional serta memastikannya sesuai dengan situasi sosial.

Gangguan jalur saraf dari area tertentu di otak ke otak kecil dapat menyebabkan hilangnya atau kurangnya kendali atas ekspresi emosional. Neurotransmiter, seperti serotonin, norepinefrin, dopamin, dan glutamat, juga dianggap berperan dalam PBA.

Baca Juga: 11 Makanan untuk Otak yang Patut Dikonsumsi Setiap Hari

Diagnosis Pseudobulbar Affect

PBA sulit didiagnosis karena mirip dengan masalah lain seperti depresi atau gangguan mood lainnya. Oleh karena itu, Anda harus memberi tahu dokter tentang semua gejala yang terjadi, termasuk kapan gejala muncul hingga berapa lama bertahan. Mencatat setiap episode dapat membantu menegakkan diagnosis.

Dua kuesioner yang membantu untuk mengetahui apakah Anda mengalami pseudobulbar affect adalah:

  • Pathological Laughing and Crying Scale (PLACS). Dokter mengajukan pertanyaan tentang gejala, termasuk berapa lama episode tersebut berlangsung, bagaimana keterikatannya dengan suasana hati dan situasi sosial, serta seberapa marah perasaan Anda sesudahnya.
  • Center for Neurologic Study-Lability Scale (CNS-LS). Anda menjawab pertanyaan tentang gejala yang dialami. Seberapa sering Anda mengalaminya? Bagaimana perasaan Anda? Misalnya, “saya mudah menangis” atau “saya mudah tertawa”.

Pengobatan Pseudobulbar Affect

Pada dasarnya pengobatan bertujuan untuk mengurangi keparahan dan frekuensi ledakan emosi. Beberapa pilihan pengobatan meliputi:

  • Antidepresan. Contoh obat antidepresan seperti tricyclic antidepressants (TCA) dan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRI), dapat membantu mengurangi frekuensi dan keparahan. Antidepresan untuk pengobatan PBA biasanya diresepkan dengan dosis yang lebih rendah daripada yang digunakan untuk mengobati depresi.
  • Dextromethorphan hydrobromide dan quinidine sulfate. Ini adalah satu-satunya obat yang disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) karena dirancang khusus untuk mengobati PBA.

Dokter akan membantu memilih terapi terbaik sesuai keadaan, tentu dengan mempertimbangkan kemungkinan efek samping obat, kondisi kesehatan, serta obat lain yang sedangkan Anda konsumsi.

Seorang terapis okupasi juga dapat membantu Anda mengembangkan cara untuk menyelesaikan tugas sehari-hari saat gejala PBA melanda.

Tips Mengendalikan Gejala

Berikut ini tips untuk menghadapi dan mengendalikan tertawa atau menangis yang tiba-tiba dan tidak bisa dikendalikan, antara lain:

  • Mengambil napas dalam-dalam secara perlahan hingga gejala mereda.
  • Memikirkan atau berfokus pada hal lain selama episode berlangsung.
  • Merilekskan bahu dan otot wajah untuk mengurangi ketegangan.
  • Mengubah posisi tubuh jika memungkinkan.

Komplikasi Pseudobulbar Affect

Gejala parah dari kondisi ini dapat menyebabkan rasa malu, isolasi sosial, kecemasan, dan depresi. Kondisi tersebut dapat mengganggu kemampuan Anda untuk bekerja dan melakukan tugas sehari-hari, terutama jika Anda sudah memiliki kondisi neurologis lainnya.

Pencegahan Pseudobulbar Affect

Meskipun PBA dikaitkan dengan cedera otak dan berbagai kondisi neurologis yang sudah ada sebelumnya, para ahli belum mengetahui dengan pasti mengapa ada beberapa individu mengembangkan kondisi, sementara yang lainnya tidak.

Hal inilah yang membuat tidak ada cara untuk untuk mencegah atau mengurangi risiko penyakit ini. Namun ada hal yang bisa membantu mengurangi risiko berkembangannya salah satu kondisi yang mendasari PBA yaitu stroke.

Seseorang dapat mengurangi risiko stroke dengan tidak merokok, mengobati penyakit jantung, mengobati tekanan darah tinggi, menjaga kadar gula darah, berolahraga secara teratur, dan menjaga berat badan ideal.

Terdapat bukti yang menunjukkan bahwa menjaga kesehatan jantung melalui olahraga dan diet dapat membantu melindungi otak. Dua diet yang memiliki hasil positif dalam banyak penelitian termasuk diet DASH (Dietary Approaches to Stop Hypertension) dan diet Mediterania.

 

  1. Anonim. Pseudobulbar affect. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/pseudobulbar-affect/symptoms-causes/syc-20353737. (Diakses pada 17 Februari 2021).
  2. Anonim. Pseudobulbar Affect (PBA). https://www.webmd.com/brain/pseudobulbar-affect#1. (Diakses pada 17 Februari 2021).
  3. Anonim. Pseudobulbar Affect (PBA). https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17928-pseudobulbar-affect-pba. (Diakses pada 17 Februari 2021).
  4. Upham, Becky. 2020. What Is Pseudobulbar Affect? Symptoms, Causes, Diagnosis, Treatment, and Prevention. https://www.everydayhealth.com/pseudobulbar-affect/. (Diakses pada 17 Februari 2021).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi