Terbit: 6 Mei 2020
Ditulis oleh: Rhandy Verizarie | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Nama elektrokardiogram (EKG) di dalam dunia medis erat kaitannya dengan organ jantung. Simak penjelasan lebih lanjut mengenai EKG mulai dari indikasi, jenis, tata laksana, efek samping, hingga biayanya berikut ini!

Elektrokardiogram (EKG): Indikasi, Tata Laksana, Biaya, dll

Apa Itu Elektrokardiogram (EKG)?

Elektrokardiogram (EKG) adalah prosedur pemeriksaan jantung sederhana yang menggunakan mesin khusus bernama elektrokardiograf. Mesin ini bekerja dengan cara mendeteksi impuls listrik jantung untuk selanjutnya ditampilkan pada kertas atau layar monitor dalam bentuk grafik.

Pemeriksaan EKG sifatnya noninvasif, yakni tidak menimbulkan rasa sakit dikarenakan pemeriksaan ini dilakukan tanpa membuat sayatan pada tubuh pasien. Dokter hanya akan memasang alat bernama elektroda di area dada sebelah kiri, tungkai, dan lengan untuk menganalisis kelistrikan jantung pasien.

Indikasi Elektrokardiogram (EKG)

Indikasi atau kegunaan dari pemeriksaan EKG ini adalah untuk mengukur kelistrikan jantung. Sebagaimana diketahui, kontraksi otot jantung untuk memompa darah ke seluruh penjuru tubuh dihasilkan dari adanya aliran listrik menuju organ vital tersebut. Dengan melakukan pengukuran kelistrikan jantung, dapat diketahui apakah jantung mengalami gangguan fungsi atau tidak.

Secara garis besar, indikasi dari kegiatan EKG atau rekam jantung adalah sebagai berikut:

  • Analisis kelainan pada jantung (contoh: aritmia, abnormalitas otot jantung, pembengkakan jantung, penyumbatan arteri koroner, radang lapisan jantung)
  • Analisis irama jantung
  • Analisis potensi sumbatan pembuluh darah
  • Analisis penyakit lain yang berkaitan
  • Evaluasi pascaoperasi penyembuhan penyakit jantung
  • Evaluasi penggunaan obat untuk mengatasi masalah pada jantung

Jenis-Jenis Elektrokardiogram (EKG)

Elektrokardiogram sendiri terbagi ke dalam beberapa jenis yang mana pembagian ini didasari oleh kondisi pasien. Berikut adalah jenis-jenis EKG yang perlu Anda ketahui.

1. EKG Standar

EKG standar adalah jenis pemeriksaan EKG yang—sesuai dengan namanya—merupakan prosedur paling umum dilakukan oleh dokter.

Pada jenis EKG yang satu ini, dokter akan mengukur aktivitas kelistrikan jantung beserta komponen-komponen terkait lainnya seperti detak dan irama jantung.

2. Tes Stres (Stress Test)

Pada kasus di mana Elektrokardiogram standar tidak cukup membantu dokter untuk menganalisis aktivitas jantung (biasanya karena irama jantung yang tidak beraturan sehingga menyulitkan dokter untuk melakukan diagnosis), jenis EKG lain perlu dilakukan. Salah satu jenis EKG tersebut adalah tes stres (stress test).

Tes stres adalah jenis EKG yang dilakukan dengan cara mengukur tekanan jantung pasien saat sedang melakukan aktivitas fisik. Guna mendukung pemeriksaan ini, dokter akan meminta pasien untuk menggunakan medium alat seperti sepeda statis atau treadmill.

Sembari pasien menggunakan alat-alat tersebut, dokter akan mencatat dan menganalisis aktivitas jantung apakah ada potensi kelainan atau tidak.

3. Event Recorder

Selain tes stres, jenis elektrokardiogram lanjutan lainnya adalah event recorder. Pemeriksaan EKG yang satu ini umumnya diterapkan pada pasien dengan gangguan jantung yang jarang muncul.

Nantinya, dokter akan melakukan pemasangan alat EKG pada tubuh pasien. Alat tersebut akan bekerja mengukur kelistrikan jantung setiap beberapa menit sekali tergantung kebutuhan. Event recorder ini akan dipasang dalam jangka waktu maksimal 1 bulan.

4. Pemeriksaan Fungsi Jantung (Holter Monitor)

Holter monitor adalah alat yang secara fungsi sama seperti event recorder, yakni menganalisis kualitas kelistrikan jantung selama melakukan aktivitas fisik. Prosedur pelaksanaannya pun tidak berbeda, yakni pasien akan dipasangi alat perekam jantung pada tubuhnya. Hanya, durasi pemasangan EKG ini lebih singkat, yakni maksimal 48 jam.

Setelah alat dipasang, maka pasien dapat diperbolehkan pulang dan melakukan aktivitas seperti biasa. Kemudian, pasien diharuskan kembali ke rumah sakit setelah jangka waktu pemakaian selesai guna dilakukan evaluasi.

Kapan Harus Melakukan Elektrokardiogram (EKG)?

Mengingat jantung adalah organ vital yang jika terjadi masalah dapat membahayakan nyawa, maka sebaiknya segera kunjungi dokter guna dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.

Elektrokardiogram sudah dapat dilakukan apabila pasien mengalami gejala-gejala berikut:

  • Mengalami nyeri dada dengan intensitas sedang hingga tinggi
  • Jantung berdebar-debar (palpitasi)
  • Detak jantung tidak beraturan (aritmia)
  • Sakit kepala
  • Kepala pusing
  • Sesak napas
  • Tubuh terasa lemah

Tak hanya itu, pemeriksaan EKG juga dilakukan pada kondisi-kondisi berikut:

  • Pasien dengan riwayat penyakit jantung
  • Pasien dengan faktor risiko penyakit jantung
  • Pasien yang sedang menjalani pengobatan penyakit jantung
  • Pasien berusia di atas 40 tahun yang diperiksa di Unit Gawat Darurat (UGD)

Tata Laksana Elektrokardiogram (EKG)

Dalam pelaksanaannya, elektrokardiogram dibagi ke dalam 3 (tiga) tahapan yakni pra-EKG, pelaksanaan EKG, dan pasca-EKG. Simak penjelasannya berikut ini!

1. Pra-EKG

Sejatinya, EKG tidak mengharuskan Anda untuk melakukan sejumlah persiapan khusus. Anda tetap dapat melakukan kegiatan seperti biasanya sebelum menjalani prosedur pemeriksaan jantung yang satu ini.

Akan tetapi, beberapa hal berikut ini mungkin bisa dijadikan perhatian:

  • Sebaiknya tidak menggunakan krim pada area dada. Penggunaan krim berpotensi mempersulit elektroda untuk menempel pada dada.
  • Jika memiliki bulu dada, sebaiknya dicukur terlebih dahulu. Tujuannya sama, agar memudahkan elektroda untuk menempel pada dada.
  • Menggunakan pakaian yang mudah untuk dilepas (kemeja berkancing atau cukup kaos).
  • Sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik terlalu berat beberapa jam sebelum pemeriksaan.
  • Makan dan minum secukupnya beberapa jam sebelum pemeriksaan.

2. Pelaksanaan Pemasangan EKG

Pelaksanaan pemasangan EKG dilakukan oleh dokter spesialis jantung dengan dibantu oleh perawat. Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:

  • Pasien melepas pakaian dan aksesoris yang menempel di tubuh bagian atas.
  • Pasien berbaring di atas matras pemeriksaan.
  • Dokter akan memasangkan 6 (enam) elektroda pada dinding dada yang dimulai dari sebelah kanan dari tulang dada. Elektroda dipasang dalam bentuk setengah lingkaran dan berakhir di dekat ketiak kiri.
  • Selain itu, dokter juga akan memasangkan 4 (empat) elektroda. Satu elektroda dipasang di masing-masing lengan dan satu elektroda di masing-masing kaki.
  • Elektroda akan terhubung ke mesin EKG untuk kemudian mencatat kelistrikan jantung dan menampilkannya pada layar monitor.

3. Pasca-EKG

Elektrokardiogram umumnya berlangsung selama beberapa menit. Setelah itu, dokter akan mendiskusikan hasil EKG pada pasien.

Apabila hasil EKG normal, maka pasien bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa. Apabila ditemukan adanya indikasi kelainan jantung, maka dokter akan mempersiapkan langkah-langkah selanjutnya yang harus ditempuh.

Hasil Elektrokardiogram (EKG)

Hasil EKG akan mengerucut ke 2 (dua) kemungkinan, yakni antara EKG normal atau abnormal. Cara membaca EKG ini dengan memerhatikan grafik yang ditampilkan di layar monitor dan menganalisisnya melalui sejumlah komponen penilaian.

Secara garis besar, hasil EKG akan memperlihatkan:

1. Detak Jantung

Pada kondisi normal, detak jantung manusia berkisar di angka 60-100 detak per menit. Apabila detak jantung pasien berada di bawah atau di atas angka tersebut, pemeriksaan lebih lanjut perlu dilakukan.

2. Irama Jantung

Hasil elektrokardiogram juga bisa memperlihatkan apakah pasien memiliki irama jantung yang beraturan atau tidak. Jika ternyata irama jantung tidak beraturan, maka hal ini mengindikasikan adanya masalah pada kelistrikan jantung pasien yang harus segera ditangani lebih lanjut.

Kendati demikian, irama jantung tidak beraturan tidak melulu mengindikasikan adanya masalah pada jantung. Penggunaan obat-obatan tertentu juga bisa berujung pada kondisi ini. Oleh sebab itu, biasanya dokter akan terlebih dahulu menanyakan apakah saat ini pasien sedang mengonsumsi obat-obatan.

3. Struktur Jantung

Melalui EKG, dokter juga dapat mengetahui apakah ada kelainan pada struktur jantung pasien. Sebagai contoh, dokter menemukan adanya pembengkakan pada jantung yang berpotensi menyebabkan gangguan jantung di kemudian hari.

4. Aktivitas Suplai Oksigen Menuju Jantung

Umumnya, pasien yang datang ke dokter jantung mengeluhkan nyeri di area dada sebelah kiri yang menjadi lokasi organ tersebut. Hasil dari pemeriksaan EKG akan menunjukkan apakah nyeri dada tersebut diakibatkan oleh abnormalitas suplai oksigen menuju jantung atau bukan.

5. Potensi Gangguan Jantung

Grafik yang ditampilkan pada saat pelaksanaan EKG juga bisa menunjukkan apakah pasien memiliki potensi untuk mengalami gangguan jantung di kemudian hari. Hal ini tentu saja diperlukan agar jika memang potensi tersebut ada, langkah pencegahan bisa segera dilakukan.

Efek Samping Elektrokardiogram (EKG)

Mayoritas pemeriksaan elektrokardiogram tidak menimbulkan efek samping yang berarti sehingga prosedur pemeriksaan jantung ini tergolong aman.

Biaya Elektrokardiogram (EKG)

Biaya EKG bervariasi, tergantung dari fasilitas kesehatan tempat Anda melakukan pemeriksaan ini beserta elemen-elemen penunjangnya seperti teknologi alat hingga tenaga medis. Apabila dirata-rata, biaya yang harus dikeluarkan untuk sekali sesi elektrokardiogram sekitar 100-200 ribu Rupiah.

 

  1. Anonim. Electrocardiogram (ECG). https://www.mayoclinic.org/tests-procedures/ekg/about/pac-20384983 (Diakses pada 6 Mei 2020)
  2. Anonim. Electrocardiogram (ECG). https://www.nhs.uk/conditions/electrocardiogram/ (Diakses pada 6 Mei 2020)
  3. Anonim. Heart Disease and Electrocardiograms. https://www.webmd.com/heart-disease/electrocardiogram-ekgs (Diakses pada 6 Mei 2020)
  4. Anonim. Electrocardiogram (ECG or EKG). https://www.heart.org/en/health-topics/heart-attack/diagnosing-a-heart-attack/electrocardiogram-ecg-or-ekg (Diakses pada 6 Mei 2020)
  5. Moores, D. 2018. Electrocardiogram. https://www.healthline.com/health/electrocardiogram (Diakses pada 6 Mei 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi