Mengapa Pria Terus Ereksi Meski Sudah Orgasme?

priapism-pada-pria-doktersehat

DokterSehat.Com – Salah satu gangguan dari penis yang sering terjadi adalah impotensi atau ketidakmampuan penis melakukan ereksi. Gangguan ini sangat ditakuti oleh pria sehingga mereka akan melakukan apa saja agar kondisi ereksi yang penting untuk berhubungan seks tidak terganggu.

Penis Terus Ereksi Meski Sudah Orgasme

Selain disfungsi ereksi, ternyata ada gangguan lain yang terjadi pada penis. Gangguan ini berkebalikan dengan kondisi disfungsi ereksi. Kalau impotensi membuat pria tidak bisa ereksi. Gangguan ini justru membuat penis terus mengalami ereksi sehingga menimbulkan rasa sakit.

Biasanya penis akan lemas dengan sendirinya setelah mendapatkan orgasme. Aliran darah di penis akan mengalir lagi ke seluruh tubuh. Kalau pria ingin melakukan seks lagi, mereka harus menunggu selama beberapa saat sebelum akhirnya penis sembuh dan bisa mendapatkan ereksi dengan sempurna.

Kalau setelah mendapatkan ejakulasi penis tidak kunjung lemas dengan sendirinya dan cenderung makin keras, berarti sedang ada gangguan yang terjadi. Kalau Anda memakai Viagra atau obat kuat lain mungkin bisa saja terjadi. Namun, kalau Anda tidak memakai obat kuat, priapism bisa saja terjadi.

Apa Itu Priapism?

Istilah priapism mungkin masih sangat awam dan yang masih jarang terjadi pada pria. Kondisi ini menyebabkan penis tidak bisa mengalami penurunan volume dalam di dalam jaringan tisunya. Kondisi ini menyebabkan penis jadi terus membesar, memerah, dan saat dipegang jadi sakit dan ngilu.

Ereksi yang normal pada pria akan menghilang seiring dengan berjalannya waktu. Saat orgasme didapatkan dan ejakulasi terjadi, penis akan kembali lemas karena kelelahan. Kondisi ini akan berjalan selama beberapa menit sebelum akhirnya penis bisa mengalami ereksi lagi.

Kondisi priapism tidak membuat ereksi hilang dengan mudah. Pria akan mengalami ereksi hingga empat jam sehingga bisa dibayangkan sendiri seperti apa sakitnya menahan ereksi hingga berjam-jam. Beberapa pria mengeluhkan rasa sakit yang sangat besar dan membuat mereka sulit melakukan aktivitas lain.

Jenis Priapism pada Pria

Ada dua jenis priapism yang terjadi pada pria. Kondisi ini memiliki kemungkinan yang sama dan efek yang diberikan juga hampir mirip.

  1. Ischemic Priapism

Priapism jenis ini adalah yang umum terjadi pada banyak pria di seluruh dunia. Darah di dalam penis tidak bisa keluar sehingga organ vital ini akan terus mengeras dan bagian glans atau kepalanya sedikit membengkak. Penis yang ada pada kondisi ini akan merasakan sakit saat disentuh.

Efek yang ditimbulkan oleh priapism ini tidak akan besar meski tetap mengganggu. Seseorang yang mudah mengalami priapism jenis ini umumnya dilarang menggunakan obat kuat. Kalau sampai menggunakan obat itu, gejala nyeri dan penis jadi sangat keras hingga terasa ingin meledakkan terus muncul.

  1. Non-ischemic Priapism

Kondisi priapism jenis ini muncul karena ada trauma atau patah pada penis. Patahnya penis menyebabkan pembuluh darah robek dan mengalirkan banyak darah ke penis sehingga ukuran dari penis akan membesar. Kondisi ini biasanya tidak memberikan efek sakit meski penanganan harus segera dilakukan.

Trauma pada penis bisa terjadi saat pria jatuh dari kendaraan atau mengalami kecelakaan. Namun, yang paling sering terjadi adalah kecelakaan saat berhubungan badan. Pria salah melakukan penetrasi dengan benar dan menyebabkan penisnya jadi tertekuk dan akhirnya patah.

Cara Menangani Priapism

Priapism yang membuat penis yang susah kembali ke kondisi awal biasanya membutuhkan pengobatan berupa obat untuk meredakan konsentrasi darah di dalam penis. Selanjutnya, salep atau krim yang memberikan rasa dingin juga diperlukan untuk membuat pria lebih nyaman hingga penisnya kembali ke kondisi lemas atau flaccid.

Penanganan hanya bisa dilakukan untuk memberikan rasa nyaman dan mempercepat terjadinya penurunan volume darah. Kalau priapism terjadi karena cedera atau trauma penanganan ke dokter harus dilakukan. Mungkin saja akan dilakukan operasi mengingat ada kerusakan yang terjadi pada penis.

Efek Priapism pada Pria

Priapism yang terjadi pada penis memiliki cukup banyak dampak negatif sehingga pria harus mewaspadainya. Berikut beberapa efek samping priapis yang bisa muncul.

  • Kondisi non-ischenic priapism biasanya bisa sembuh sendiri. Namun, kalau kondisi ini terus berulang bisa menyebabkan kerusakan pada penis. Jadi, begitu mengalami kondisi ini penanganan yang tepat harus dilakukan.
  • Intensitas rasa sakit tinggi. Pria yang mengalami priapism akan susah melakukan aktivitas harian. Penisnya akan terus mengalami ereksi hingga berjam-jam sehingga sudah dipakaikan celana dalam dan ditekuk.
  • Malu berada di ruangan publik dan akan diketahui orang kalau penis terus ereksi. Kalau hal ini sampai terjadi, produktivitas kerja bisa menurun.
  • Walaupun darah di dalam penis akhirnya bisa turun dan penis menjadi lebih lemas dan ada pada kondisi flaccid, rasa sakit dan ngilu akan tetap ada sehingga pria merasa takut mengalami ereksi kembali karena takut tidak bisa lemas kembali.
  • Terjebaknya darah cukup lama di dalam penis bisa menyebabkan sel yang ada di dalam penis jadi mati. Kondisi ini akan sangat berbahaya untuk kemampuan ereksi dan seksual di kemudian hari.
  • Kondisi priapism yang berlebihan bisa menyebabkan disfungsi ereksi pada pria. Kalau sampai mengalami impotensi, pria justru tidak akan bisa mengalami ereksi lagi di kemudian hari.

 

Terus ereksi atau priapism bisa terjadi pada siapa saja khususnya mereka yang memiliki gangguan darah seperti leukemia atau thalassemia. Semoga kondisi di atas tidak terjadi pada kita semua. Lakukan seks dengan baik dan jauhi obat kuat yang menjadi salah satu pemicunya.

 

Sumber:

  1. Mayo Clinic. Priapism. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/priapism/symptoms-causes/syc-20352005. (Diakses 10 September 2019).
  2. Web MD. Erectile Dysfunction and Priapism. https://www.webmd.com/erectile-dysfunction/erectile-dysfunction-priapism. (Diakses 10 September 2019).
  3. Galan, Nicole. 2017. Priapism: Treatment, causes, symptoms, and types. https://www.medicalnewstoday.com/articles/318737.php. (Diakses 10 September 2019).