Terbit: 29 Juni 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: dr. Ursula Penny Putrikrislia

Preeklampsia atau dalam bahasa sehari-hari sering disebut dengan “keracunan kehamilan” adalah gangguan kehamilan yang jika tidak segera diobati dapat menyebabkan komplikasi serius atau mungkin bahkan fatal bagi ibu dan janin. Selengkapnya ketahui definisi, gejala, penyebab, pengobatan, dan pencegahan di bawah ini!

Preeklampsia: Gejala, Penyebab, Cara Mengobati, Pencegahan, dll

Apa Itu Preeklampsia?

Preeklampsia adalah kondisi ketika wanita hamil mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi), protein dalam urine, dan pembengkakan di pergelangan kaki, tungkai, dan tangan. Kondisi ini biasanya terjadi setelah 20 minggu kehamilan.

Meskipun jarang, gangguan kehamilan ini dapat terjadi lebih awal atau dapat juga dialami ibu setelah melahirkan bayi, yang disebut sebagai preeklampsia postpartum.

Gangguan kehamilan ini dapat menyebabkan eklampsia, yaitu suatu kondisi serius ditandai dengan kejang dan gangguan kesadaran pada ibu yang membahayakan bagi ibu dan janin, dan dalam kasus yang jarang terjadi dapat menyebabkan kematian.

Ciri dan Gejala Preeklampsia

Preeklampsia adalah kondisi yang terkadang berkembang tanpa disertai gejala apa pun. Hipertensi dapat muncul secara perlahan atau mungkin muncul secara tiba-tiba. Oleh karenanya, memantau tekanan darah adalah hal penting dalam perawatan prenatal karena tanda pertama preeklampsia biasanya adalah kenaikan tekanan darah.

Berikut ini tanda dan gejala preeklampsia lainnya:

  • Adanya protein dalam urine (proteinuria).
  • Sakit kepala parah atau terus-menerus (persisten).
  • Masalah penglihatan, termasuk kehilangan penglihatan sementara, penglihatan kabur, atau sensitif terhadap cahaya.
  • Penambahan berat badan secara tiba-tiba akibat adanya pembengkakan pada tubuh.
  • Pembengkakan pergelangan kaki, tungkai, wajah, dan tangan yang disebabkan retensi cairan (edema).
  • Nyeri perut bagian atas, biasanya di bawah tulang rusuk di sisi kanan.
  • Mual atau muntah.
  • Jarang buang air kecil.
  • Penurunan kadar trombosit dalam darah (trombositopenia).
  • Gangguan fungsi hati.
  • Sesak napas, biasanya diakibatkan adanya penimbunan cairan pada paru-paru.

Kapan Harus ke Dokter?

Guna memastikan kondisi ibu dan janin, sebaiknya rutin memeriksakan kandungan sehingga dokter dapat memantau tekanan darah.

Sesegera mungkin ke rumah sakit jika mengalami gejala preeklampsia berikut ini:

  • Sakit kepala yang parah.
  • Gangguan penglihatan.
  • Sakit parah di perut.
  • Sesak napas parah.

Gejala yang biasa terjadi pada kehamilan seperti sakit kepala, mual, dan nyeri, akan menyebabkan ibu sulit untuk mengenali kapan gejala baru merupakan bagian dari kehamilan biasa atau mungkin gejala ini mengindikasikan masalah serius.

Preeklampsia biasa muncul terutama pada kehamilan pertama. Itu sebabnya mengapa harus rutin memeriksakan kandungan ke dokter.

Penyebab Preeklampsia

Penyebabnya belum diketahui secara pasti, namun tidak sedikit ahli berpikir bahwa preeklampsia terjadi ketika plasenta tidak berfungsi sebagaimana mestinya, tetapi tidak diketahui persis penyebabnya. Beberapa ahli juga menduga bahwa penyebabnya asupan nutrisi yang buruk dan timbunan lemak dalam tubuh.

Selain itu, wanita dengan preeklampsia memiliki aliran darah yang tidak baik dalam memberi asupan nutrisi ke janin. Pembuluh darah mengalami penyempitan dan bereaksi secara berbeda terhadap perubahan hormon, yang menghambat aliran darah

Penyebab penyempitan pembuluh darah meliputi:

  • Aliran darah ke uterus tidak mencukupi.
  • Kerusakan pembuluh darah.
  • Masalah dengan sistem kekebalan tubuh.
  • Gen tertentu.

Faktor Risiko Preeklampsia

Sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko wanita mengalami preeklampsia meliputi:

  • Kehamilan pertama: Kemungkinan preeklampsia selama kehamilan pertama jauh berisiko lebih tinggi daripada kehamilan berikutnya.
  • Jarak kehamilan: Jika hamil kedua setelah 10 tahun kehamilan pertama, kehamilan kedua meningkatkan risiko preeklampsia.
  • Usia: Wanita dengan usia di atas 40 tahun dan remaja lebih cenderung berisiko dibandingkan dengan wanita dari kelompok usia lainnya.
  • Pasangan baru: Setiap kehamilan dengan pasangan baru (ayah) dapat meningkatkan risikonya bila dibandingkan dengan kehamilan kedua atau ketiga dengan pasangan yang sama.
  • Riwayat keluarga: Wanita yang memiliki ibu atau saudara perempuannya mengalami preeklampsia kemungkinan memiliki risiko lebih tinggi.
  • Riwayat preeklampsia: Wanita yang mengalaminya pada kehamilan pertama memiliki risiko yang jauh lebih besar untuk mengalami kondisi yang sama pada kehamilan berikutnya.
  • Obesitas: Angka penderita gangguan kehamilan ini jauh lebih tinggi di antara wanita yang kelebihan berat badan.
  • Hamil kembar: Wanita mengandung dua janin atau lebih berisiko lebih tinggi.
  • Kondisi dan penyakit tertentu: Wanita yang menderita diabetes, tekanan darah tinggi (hipertensi), migrain, dan penyakit ginjal lebih mungkin mengembangkan preeklampsia.

Baca Juga: Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Penyebab, Gejala, Obat, dll

Diagnosis Preeklampsia

Wanita yang mengalami preeklampsia biasanya memiliki tekanan darah tinggi dan satu atau lebih komplikasi berikut setelah minggu ke-20 kehamilan:

  • Protein dalam urine (proteinuria).
  • Jumlah trombosit yang rendah.
  • Gangguan fungsi hati.
  • Tanda-tanda masalah ginjal selain protein dalam urine.
  • Cairan di paru-paru (edema paru).
  • Sakit kepala atau gangguan penglihatan.

Tekanan darah lebih dari 140/90 mmHg dalam dua kali pemeriksaan dengan jeda 4 jam, dokter mungkin akan meminta tes tambahan untuk memastikan diagnosis, di antaranya:

  • Tes darah. Dokter akan melakukan tes fungsi hati, tes fungsi ginjal, dan mengukur trombosit, sel-sel yang membantu pembekuan darah.
  • Tes urine. Dokter akan meminta pasien mengumpulkan urine selama 24 jam, untuk mengukur jumlah protein dalam urin. Sampel urine tunggal yang mengukur rasio protein terhadap kreatinin – bahan kimia yang selalu ada dalam urine – juga digunakan untuk diagnosis.
  • Ultrasonografi (USG) janin. Dokter dapat menyarankan pemantauan pertumbuhan bayi secara ketat, biasanya melalui USG. Gambar bayi yang dibuat selama pemeriksaan USG memudahkan dokter memperkirakan berat janin dan jumlah cairan dalam rahim (cairan ketuban).
  • Ultrasonografi Doppler. Tes yang menggunakan gelombang suara untuk mendeteksi aliran darah pada bayi, rahim, dan plasenta.
  • Non-stress test (NST) atau profil biofisik. NST adalah prosedur sederhana yang memeriksa bagaimana denyut jantung bayi bereaksi ketika bayi bergerak. Sedangkan Profil Biofisik menggunakan USG untuk mengukur pernapasan, nada otot, gerakan, dan volume cairan ketuban bayi di dalam rahim.

Cara Mengobati Preeklampsia

Perawatan paling efektif untuk preeklampsia selama kehamilan adalah persalinan, tergantung usia kehamilan, seberapa baik janin dalam kandungan, dan tingkat keparahannya. Dalam kebanyakan kasus, cara ini dapat mencegah penyakit berkembang.

Selain itu, berikut beberapa cara mengobati preeklampsia:

1. Obat-obatan

Beberapa perawatan yang mungkin dapat mengobati preeklampsia termasuk:

  • Obat penurun tekanan darah. Obat-obatan ini juga disebut antihipertensi yang digunakan untuk menurunkan tekanan darah. Ada banyak jenis obat antihipertensi, beberapa di antaranya tidak aman untuk kehamilan. Oleh karenanya, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.
  • Kortikosteroid. Jika preeklampsia berat atau sindrom HELLP, kortikosteroid dapat meningkatkan fungsi hati dan trombosit untuk membantu memperpanjang kehamilan. Kortikosteroid juga membantu paru-paru bayi menjadi lebih matang dalam waktu 48 jam.
  • Obat antikonvulsan. Jika preeklampsia berat, dokter mungkin akan meresepkan obat antikonvulsan, seperti magnesium sulfat yang berfungsi untuk mencegah kejang.

2. Istirahat

Jika hamil muda dan gejala preeklampsia ringan, dokter mungkin menyarankannya untuk beristirahat di tempat tidur. Beristirahat membantu menurunkan tekanan darah dan meningkatkan aliran darah ke plasenta.

Sementara beberapa wanita disarankan hanya berbaring di tempat tidur dan hanya duduk atau berdiri jika diperlukan.

3. Rawat Inap

Kondisi preeklampsia berat mungkin harus menjalani perawatan di rumah sakit. Dokter dapat melakukan nonstress test atau profil biofisik untuk memantau kondisi kesehatan bayi dan mengukur volume cairan ketuban. Kekurangan cairan ketuban adalah tanda penyumbatan darah ke bayi.

4. Persalinan

Jika didiagnosis menderita preeklampsia menjelang akhir kehamilan, dokter segera menyarankan untuk menginduksi persalinan. Kesiapan serviks (leher rahim) – apakah mulai membuka (dilatasi), menipis (efface) dan melunak (ripen) – juga dapat menjadi faktor dalam menentukan kapan persalinan akan diinduksi.

Dalam kondisi yang parah, usia kehamilan bayi mungkin tidak dapat dipertimbangkan atau kesiapan serviks. Jika tidak memungkinkan menunggu, dokter dapat menginduksi persalinan atau menjadwalkan operasi caesar. Selama persalinan, pasien mungkin diberikan magnesium sulfat intravena untuk mencegah kejang.

Komplikasi Preeklampsia

Preeklampsia adalah kondisi yang sangat serius dan bisa mengancam jiwa bagi ibu dan janin jika tidak segera mendapatkan perawatan yang tepat. Berikut beberapa komplikasi lainnya dari preeklampsia:

  • Perdarahan karena kadar trombosit yang rendah
  • Kerusakan hati
  • Gagal ginjal
  • Edema paru
  • Eklampsia
  • Sindrom HELLP
  • Aliran darah yang buruk ke plasenta
  • Gangguan pembekuan darah
  • Solusio plasenta
  • Penyakit kardiovaskular
  • Kerusakan pada ginjal, hati, paru-paru, jantung, atau mata
  • Stroke
  • Cedera otak

Sedangkan komplikasi pada bayi, di antaranya:

  • Bayi lahir prematur
  • Terhambatnya pertumbuhan janin dalam kandungan
  • Berat badan lahir rendah
  • Kesulitan bernapas yang disebabkan paru-paru belum sepenuhnya berkembang (neonatal respiratory distress syndrome)
  • Bayi meninggal dalam kandungan atau lahir meninggal

Baca Juga: Gawat Janin: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Pencegahan Preeklampsia

Mengingat penyebab preeklampsia tidak diketahui secara pasti sehingga sepenuhnya tidak dapat dicegah, namun ada sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk mengurangi beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan preeklampsia, di antaranya:

  • Minum air sebanyak 6 atau 8 gelas setiap hari.
  • Menghindari makanan yang digoreng atau diolah.
  • Kurangi asupan garam tambahan dalam makanan.
  • Olahraga secara rutin.
  • Menghindari alkohol dan kafein.
  • Latihan mengangkat kaki beberapa kali dalam sehari.
  • Beristirahat.
  • Menggunakan suplemen dan obat-obatan yang diresepkan oleh dokter.
  • Konsumsi buah-buahan selama kehamilan.

 

  1. Anonim. 2018. Pre-eclampsia. https://www.nhs.uk/conditions/pre-eclampsia/. (Diakses pada 29 Juni 2020)
  2. Anonim. 2019. Preeclampsia. https://www.webmd.com/baby/preeclampsia-eclampsia#1. (Diakses pada 29 Juni 2020)
  3. Felman, Adam. 2017. Everything you need to know about preeclampsia. https://www.medicalnewstoday.com/articles/252025#symptoms. (Diakses pada 29 Juni 2020)
  4. Herndon, Jaime. 2018. Preeclampsia. https://www.healthline.com/health/preeclampsia#treatment. (Diakses pada 29 Juni 2020)
  5. Mayo Clinic Staff. 2020. Preeclampsia. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/preeclampsia/symptoms-causes/syc-20355745. (Diakses pada 29 Juni 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi