Posisi Seks 69 Adalah yang Terburuk untuk Pasangan, Mengapa?

doktersehat seks posisi 69

DokterSehat.Com – Dalam bercinta variasi posisi seks adalah hal yang wajib untuk dilakukan. Dengan melakukan variasi-variasi seks, pasangan bisa mendapatkan kenikmatan yang jauh lebih besar. Selain itu, peluang terjadinya kebosanan dalam bercinta juga bisa dihindari sehingga pasangan selalu antusias untuk melakukannya.

Salah satu posisi seks yang sering dilakukan oleh pasangan khususnya saat foreplay adalah posisi 69 atau saling mengoral. Posisi ini diangga bisa memberikan kenikmatan pada pasangan meski beberapa ahli menganggap posisi ini adalah yang terburuk.

Mungkin Anda akan bertanya, mengapa posisi saling memberikan seks oral ini justru buruk? Padahal pasangan sama-sama mendapatkan kenikmatan. Well, untuk alasannya, simak ulasan di bawah ini, ya!

  1. Susah dapatkan orgasme bersama

Salah satu kenikmatan saat berhubungan badan dengan pasangan adalah bisa meraih orgasme bersama-sama. Dengan mendapatkan kenikmatan ini dalam waktu yang bersamaan, pasangan akan merasa lebih bisa menikmati seks dan bisa puasa secara fisik maupun psikologi.

Saat melakukan seks oral, komunikasi akan sulit dilakukan. Pria jadi tidak bisa mempertahankan dirinya dan mendapatkan orgasme dengan lebih cepat. Hal senada juga bisa terjadi pada wanita jika tidak bisa mempertahankan rangsangan yang diterima.

  1. Susah berkonsentrasi

Memberikan rangsangan dan menerima rangsangan di saat yang sama akan membuat pasangan susah berkonsentrasi. Kalau mereka hanya berfokus pada seks oral yang diberikan, kenikmatan yang diberikan tidak bisa dirasakan dengan maksimal karena terpecah dengan pekerjaan yang harus dilakukan.

Kalau pasangan tidak terbiasa, mereka akan susah mendapatkan kenikmatan secara bersamaan. Pria akan susah melakukan seks oral kalau penisnya diberikan rangsangan yang hebat, begitu pun sebaliknya.

Lebih baik melakukan seks oral secara bergantian saja saat foreplay. Dengan melakukan ini pria dan wanita bisa sama-sama mendapatkan kenikmatan yang maksimal.

  1. Berpeluang tularkan penyakit menular seksual

Seks oral dilakukan saat foreplay atau saat akan mulai porsi utama dari seks. Seks jenis ini jarang sekali dilakukan dengan bantuan alat pengaman seperti kondom atau dental dam. Menggunakan alat itu akan membuat kenikmatan menurun dan pasangan tidak mau menjilati karet terus-menerus.

Akibat tidak menggunakan pengaman inilah kemungkinan terjadi penularan penyakit menular seksual menjadi besar. Bahkan ada kemungkinan penularan terjadi sesaat setelah aktivitas seks selesai dilakukan.

  1. Susah dilakukan jika tinggi badan berbeda jauh

Seks oral dilakukan sambil tiduran dan posisi kepala serta kemaluan saling beradu. Kalau pasangan memiliki tinggi badan yang tidak terpaut cukup jauh, gangguan seks mungkin tidak akan terjadi dan bisa berjalan dengan lebih maksimal. Namun, kalau perbedaan tinggi badannya cukup tinggi, gangguan bisa terjadi.

Salah satu pasangan harus menekuk tubuhnya agar bisa memberikan seks oral dengan mudah. Dengan posisi agak menekuk inilah, mereka yang punya badan tinggi akan mengalami capai di punggung atau susah bernapas karena perut tertekuk.

  1. Tidak ada keintiman

Dalam dunia seks, keintiman adalah hal wajib yang harus dilakukan. Tanpa keintiman ini seks hanya akan berjalan secara fisik saja. Kenikmatan yang didapatkan juga hanya sementara saja saat mendapatkan orgasme.

Saat melakukan seks oral dengan posisi 69 ini pasangan akan susah meningkatkan keintiman. Mereka akan susah melakukan komunikasi verbal dan non verbal untuk membuat aktivitas seks jadi lebih intens dan menggairahkan.

Seks oral boleh saja dilakukan oleh pasangan saat pemanasan. Namun, alangkah baiknya dilakukan secara bergantian agar apa yang telah disebutkan di atas tidak terjadi dan membuat seks jadi terhambat.