Terbit: 12 Desember 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Meski bisa memberikan banyak sekali kemudahan bagi aktivitas sehari-hari, dalam realitanya kini semakin banyak orang yang kecanduan ponsel dan sulit melepaskannya dari genggaman tangan. Padahal, penggunaan ponsel dengan berlebihan bisa memberikan dampak buruk, termasuk dalam hal memicu peningkatan risiko cedera leher dan kepala.

Ponsel Sebabkan Kasus Cedera Leher dan Kepala Naik Tajam!

Kasus Cedera Kepala dan Leher Terkait dengan Penggunaan Ponsel

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat menghasilkan fakta bahwa 40 persen dari kasus insiden yang terkait dengan ponsel disebabkan oleh penggunaannya saat berjalan kaki. Bukannya fokus pada jalanan, korban justru terus fokus memainkan ponselnya.

Dalam realitanya, telah banyak pakar kesehatan yang mewanti-wanti masyarakat untuk tidak memakai ponsel dengan berlebihan. Hal ini disebabkan oleh kemampuannya dalam mengalihkan perhatian pada apa yang terjadi di sekitar kita, termasuk dengan adanya kemungkinan bahaya atau risiko kecelakaan.

Pada April 2019 lalu, penelitian dilakukan oleh produsen mobil Ford. Hasilnya adalah 65 persen penduduk Prancis mengaku menyeberang jalan sambil menggunakan ponselnya. Para peneliti bahkan menyebut kebiasaan ini sangat umum terjadi dan bisa dilakukan oleh masyarakat dari negara-negara lainnya.

Meski terlihat sepele, kasus kecelakaan yang berimbas pada cedera leher dan kepala cenderung meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Berdasarkan data yang dikumpulkan dari tahun 1998 hingga 2017 dihasilkan fakta bahwa 2.501 orang Amerika Serikat mengalami cedera leher dan kepala akibat penggunaan ponsel. Fakta ini kemudian diungkap dalam jurnal berjudul JAMA Otolaryngology- Head and Neck Surgery.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Family Fest - Advertisement

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa jenis cedera yang menimpa para partisipan sangatlah bervariasi baik itu berupa luka, memar, lecet, atau bahkan cedera dalam di sekitar mata dan hidung. Sekitar 41 persen dari insiden yang terkait dengan ponsel ini terjadi di dalam rumah dan bisa dirawat jalan. Sekitar 50 persen dari kasus cedera akibat ponsel ini dipicu oleh kecelakaan di jalan raya dan 30 persen terjadi saat berjalan kaki.

Penelitian lain juga mengungkap fakta bahwa anak-anak dengan usia kurang dari 13 tahun cenderung rentan mengalami cedera parah akibat ledakan baterai. Hal ini biasanya disebabkan oleh penggunaan game atau sosial media yang berlebihan.

“Penelitian ini menjadi bukti bahwa ada risiko besar dalam penggunaan ponsel dengan berlebihan. Hal ini bisa saja menyebabkan cedera akibat kecelakaan saat melakukan aktivitas sehari-hari,” ucap salah satu peneliti yang terlibat, Boris Paskhover dari Rutgers New Jersey Medical School.

Dampak Penggunaan Ponsel Berlebihan

Pakar kesehatan menyebut ada berbagai kondisi kesehatan lain yang bisa kita dapatkan jika menggunakan ponsel dengan berlebihan.

Berikut adalah dampak-dampak kesehatan tersebut.

  1. Memicu Masalah Trigger Thumb

Trigger thumb adalah kondisi yang membuat ibu jari membengkok dan kaku akibat terlalu sering digunakan untuk memakai ponsel. Hal ini bisa menyebabkan sensasi nyeri dan gangguan pergerakan.

  1. Memicu Cubital Tunnel Syndrome

Kondisi ini membuat saraf ulnaris yang ada di bagian siku mengalami gangguan sehingga memicu gejala seperti kesemutan, nyeri, hingga mati rasa.

  1. Memicu Text Neck Syndrome

Kondisi ini membuat otot-otot leher menadi tegang dan kaku.

  1. Memicu Gangguan Penglihatan

Paparan cahaya biru dari layar ponsel bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan, yakni mata lelah dan penurunan fungsi dengan signifikan.

  1. Gangguan Tidur

Berlebihan memakai ponsel akan membuat waktu tidur berkurang drastis dan akhirnya merusak sistem metabolisme, ritme sirkadian tubuh, dan sistem kekebalan tubuh.

 

Sumber:

  1. Anonim. 2019. Smartphone use has led to a steep rise in head and neck injuries over 20 years. www.asiaone.com/digital/smartphone-use-has-led-steep-rise-head-and-neck-injuries-over-20-years (Diakses pada 12 Desember 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi