Terbit: 13 Oktober 2019
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Sudah menjadi rahasia umum jika polusi udara bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Masalahnya adalah kita seperti tidak kuasa menghindarinya. Apalagi jika kita tinggal di perkotaan yang dipenuhi dengan polusi gas buang kendaraan, industri, dan hal-hal lainnya. Penelitian terbaru bahkan membuktikan bahwa polusi udara bisa menyebabkan kebotakan.

Polusi Udara Bisa Picu Kebotakan

Dampak Polusi Udara bagi Risiko Kebotakan

Berdasarkan peneitian ini, disebutkan bahwa polutan dalam polusi udara bisa membuat jumlah protein yang memiliki peran besar dalam perlindungan dan pertumbuhan rambut menurun. Semakin sering kita terpapar polusi udara, semakin besar dampak ini.

Dalam penelitian yang dipublikasikan hasilnya dalam 28th Academy Dermatology and Venereology Academi Congress yang diadakan di Madrid, Spanyol, ini, peneliti Hyuk Chul Kwok menyebut orang-orang yang tinggal di kota besar atau yang tinggal di dekat kawasan industri cenderung lebih rentan mengalami masalah kebotakan.

Memang, Kwok menyebut hasil penelitian ini masih harus dilanjutkan dengan penelitian lainnya, namun ia yakin jika dampak polusi udara memang jauh lebih buruk dari yang kita kira, termasuk bagi masalah rambut.

“Penelitian ini membuktikan adanya kaitan antara paparan polutan udara dengan kerusakan pada sel-sel di bagian folikel rambut,” ucapnya.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Sensodyne - Advertisement

Sementara itu, praktisi lingkungan, Jenny Bates menyebut penelitian ini sebagai bukti lain bahwa polusi dan kerusakan alam bisa memberikan dampak langsung bagi kondisi manusia. Ia pun menyerukan pentingnya kampanye penggunaan transportasi umum demi menurunkan kadar polusi udara yang sudah sangat parah di berbagai tempat ini.

“Kita membutuhkan jalanan yang lebih bersih dan udara yang bebas polusi agar tidak mudah jatuh sakit,” katanya.

Berbagai Dampak Buruk Polusi Udara

Polusi udara tak hanya berupa asap. Dalam realitanya, ada banyak sekali kandungan berbahaya lain yang bisa kita temukan di dalamnya.

Berikut adalah berbagai dampak buruk dari polusi udara tersebut.

  1. Bahaya Particulate Matter

Particulate Matter atau PM bisa ditemukan di gas buang kendaraan atau gas buang industri. Partikel ini sangatlah kecil karena ukurannya kurang dari 2,5 mikron. Masalahnya adalah PM bisa saja menembus masker kain atau masker hijau yang kita kenakan dan bisa langsung memasuki saluran pernapasan dan sirkulasi darah.

Pakar kesehatan menyebut PM bertanggung jawab terhadap peningkatan risiko terkena penyakit jantung dan gangguan pernapasan.

  1. Bahaya Karbon Monoksida

Karbon monoksida bisa muncul sebagai hasil dari pembakaran, termasuk pembakaran yang dihasilkan oleh mesin. Masalahnya adalah, karbon monoksida bisa merusak fungsi hemoglobin di dalam darah sehingga tidak bisa lagi mengangkut oksigen yang sangat dibutuhkan oleh berbagai bagian tubuh.

  1. Bahaya Sulfur Dioksida

Sulfur dioksida atau SO2 bisa ditemukan dalam asap hasil pembakaran bahan bakar fosil atau dari dunia industri. Jika kita sering terpapar SO2 maka risiko untuk mengalami gangguan pernapasan dan masalah kesehatan mata semakin meningkat.

  1. Bahaya Nitrogen Dioksida

Nitrogen dioksida termasuk dalam gas yang berpotensi menyebabkan keracunan bagi kesehatan tubuh. Bagi anak-anak, paparan nitrogen dioksida bisa menyebabkan datangnya asma atau gangguan pernapasan lainnya.

  1. Bahaya Ozon

Ozon yang ada di dalam polusi udara berbeda dengan yang melapisi bumi. Jika kita sering terpapar polusi udara, maka kandungan ini bisa menyebabkan gejala asma muncul dengan lebih parah. Bahkan, risiko terkena gangguan pernapasan lainnya akan semakin meningkat.

  1. Berbahaya bagi Ibu Hamil dan Anak-Anak

Ibu hamil rentan terkena gangguan kehamilan atau melahirkan anak dengan gangguan autisme dan asma. Selain itu anak-anak yang sering terpapar polusi udara juga rentan terkena asma dan pneumonia.

 

Sumber:

  1. Stubley, Peter. 2019. Air pollutants may kill hair follicles, make men go bald. indiatimes.com/articleshow/71514494.cms. (Diakses pada 13 Oktober 2019).


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi