Terbit: 17 Juni 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Saat lebaran tiba, lontong menjadi salah satu sajian makanan pokok yang banyak dipilih sebagai bahan makanan pengganti nasi, ya.

Awas, Jangan Asal Gunakan Plastik sebagai Pembungkus Lontong

Nah, jika lontong biasanya dibuat dari pembungkus daun, kini karena semakin terbatasnya ketersediaan daun alami di banyak daerah, utamanya kota besar, banyak orang yang mengganti penggunaan daun dengan plastik. Kira-kira apakah hal tersebut aman dilakukan

Wadah dan kemasan plastik untuk makanan

Seperti halnya wadah makanan dari plastik yang tidak semuanya bisa digunakan berulang, kemasan plastik untuk makanan ternyata juga tidak semuanya aman digunakan sebagai kemasan untuk pembungkus makanan.

doktersehat-tempat-makanan-plastik

pic credit: torbakhopper

Wadah pembungkus makanan memiliki tanda atau jenis khusus sebagai wadah yang aman digunakana untuk makanan, yaitu wadah dengan tanda segitiga dan angka 5 ditengahnya.

Hal ini menunjukkan bahwa wadah tersebut aman untuk makanan atau food based. Lalu, bagaimana dengan kemasan plastik untuk lontong?

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku Darlie - Advertisement

Keamanan plastik sebagai kemasan makanan

Plastik sebagai wadah atau pembungkus makanan disebut sebagai zat yang tidak mudah bereaksi atau bersifat inert, sehingga tidak menimbulkan bahaya. Sayangnya hal ini tidak sepenuhnya terbukti.

International Agency for Research on Cancer menyebutkan bahwa bahan tambahan pada plastik kemasan, seperti antioksidan sintetik, pelicin hingga pewarna merupakan hal yang menimbulkan risiko pada kesehatan.

Salah satu kandungan yang membuat lontong plastik kemasan berbahaya adalah adanya zat vinil klorida yang dapat berperan sebagai karsinogenik atau penyebab kanker, utamanya jika diolah dengan pemanasan atau pemasakan suhu tinggi.

Vinil klorida ini dinilai dapat memengaruhi atau diserap oleh makanan ketika kedua bahan dipanaskan bersamaan.

Lalu, apakah kita sama sekali tidak boleh menggunakan lontong kemasan plastik?

Sebelum membahas keamanan akan penggunaan plastik yang digunakan untuk membungkus lontong, Anda perlu tahu bahwa ada berbagai jenis plastik kemasan yang tersedia di pasaran.

Seperti yang kita tahu, plastik yang digunakan untuk membungkus adalah plastik yang bening. Beberapa jenis plastik yang tersedia dalam bentuk bening adalah plastik jenis polypropylene atau PP, orientes polystyrene atau OPP, high density polyethylene atau HDPE dan low density polyethylene LDPE.

mytrip.co.id

Berbagai jenis kemasan plastik bening tersebut, ternyata tidaklah semuanya aman untuk digunakan sebagai pembungkus makanan.

Titik leleh dan titik lunak plastik kemasan

Jika pada wadah plastik tanda segitiga menjadi pembeda, maka pada plastik kemasan bening, yang menjadi pembeda adalah adanya perbedaan jenis titik leleh dan titik lunak.

Jenis plastik dengan titik leleh dan titik lunak yang tinggi, yaitu di atas 100 derajat celsius, dinilai aman untuk makanan, termasuk jika digunakan sebagai pembungkus lontong.

Dari berbagai jenis plastik bening, sebagian besar jenis plastik kemasan bening, seperti jenis PP, OPP, dan HDPE adalah jenis dengan titik leleh dan titik lunak yang tinggi.

Hal ini membuat perebusan atau pengukusan makanan menggunakan plastik jenis ini menjadi aman. Sedangkan untuk plastik jenis LDPE memiliki titik lunak yang rendah yaitu dibawah 98 derajat celsius.

Sulit untuk membedakan jenis plastik yang aman untuk kemasan lontong

Nah, jenis plastik yang aman digunakan untuk makanan tersebut, ternyata disebut oleh Badan POM sebagai salah hal yang sulit untuk dibedakan. Plastik yang aman untuk kemasan pangan haruslah plastik dengan titik lunak dan leleh yang teruji dan memenuhi syarat uji dari laboratorium.

Dengan adanya hal tersebut, maka penggunaan lontong dari bahan organik, seperti daun pisang, daun kelapa atau daun palem tentu cenderung lebih aman, ya. Kondisi ini disebabkan penggunaan daun tidak memiliki bahan tambahan dan tidak menimbulkan risiko untuk kesehatan.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi