Cara Menjaga pH Vagina agar Tidak Berubah dan Mengalami Gangguan

keseimbangan-ph-vagina-doktersehat

DokterSehat.Com – Vagina seorang wanita memiliki pH atau keasaman khusus yang membuatnya selalu sehat. Dengan keasaman yang terjaga, flora normal yang hidup di dalamnya tidak mati atau mengalami peningkatan jumlah secara signifikan.

Nah, kira-kira pH yang sehat untuk wanita itu berapa ya? Kalau wanita mengalami perubahan pH, kira-kira apa yang terjadi pada vagina? Simak penjelasan selengkapnya di bawah ini.

Berapa pH vagina normal

Normalnya pH yang dimiliki oleh vagina sekitar 3,8-4,5. Dengan skala ini pH dari vagina bisa dikategorikan sebagai asam. Kondisi ini terjadi saat wanita memiliki usia sekitar 18-45 tahun.

Saat wanita berada pada tahun suburnya, pH pasti berada di bawah 4,5 atau sama dengan itu. Namun, perubahan bisa terjadi saat wanita menyelesaikan menstruasinya. Pasca menstruasi, pH dari wanita akan naik di atas 4,5 untuk sementara waktu.

Skala ini harus dipertahankan oleh wanita setiap saat. Sedikit saja pH mengalami perubahan, pertahanan dari kewanitaan akan menurun. Infeksi bisa saja terjadi dan menyebabkan masalah yang serius.

Penyebab perubahan pH vagina

Vagina bisa mengalami perubahan pH karena beberapa hal berikut ini:

  • Melakukan seks tanpa menggunakan kondom. Sperma yang tumpah di dalam memiliki sifat basa sehingga kemungkinan mengubah pH cukup besar.
  • Antibiotik mengobati infeksi bakteri di tubuh. Sayangnya antibiotik tidak pilih kasih. Flora normal yang ikut menjaga vagina juga ikut dibasmi sehingga perubahan pH terjadi.
  • Douching yang dilakukan rutin setiap hari atau seminggu sekali. Perubahan pH ini akan memicu infeksi bakteri hingga keputihan.
  • Mengalami menstruasi. Perubahan ini hanya sementara saja. Setelah menstruasi selesai, pH akan kembali normal.

Dampak perubahan pH vagina

Perubahan pH yang terjadi pada vagina menyebabkan infeksi yang sangat mengganggu. Infeksi yang terjadi karena perubahan pH pada vagina terdiri dari:

  • Bacterial vaginosis. Bakteri di vagina yang mengalami penambahan jumlah akan memicu kondisi bacterial vaginosis. Kondisi ini ditandai dengan rasa gatal, terasa panas, keluar cairan warna putih dan agak keabu-abuan. Bacterial vaginosis erat juga hubungannya dengan penyakit menular seksual seperti HIV dan HPV.
  • Trichomoniasis. Penyakit ini jarang sekali memunculkan tanda di awal infeksi. Namun, infeksi yang parah bisa meningkatkan risiko penyakit menular seksual. Penyakit ini juga bisa menurunkan kesuburan dari wanita karena mengganggu sperma bergerak menuju sel telur.

Cara mengatasi dan menjaga pH vagina

Vagina yang mengalami perubahan pH harus segera disembuhkan. Kalau Anda belum mengalami masalah, cegah perubahan pH sedini mungkin. Lakukan beberapa tips di bawah ini.

  1. Jangan melakukan douche

Douche adalah membersihkan vagina dengan memasukkan cairan atau semi padat ke liang. Cairan ini akan membersihkan lendir yang ada di dalam vagina dan membuat organ ini menjadi lebih kesat. Baunya yang tidak sedap juga akan hilang seketika.

Sayangnya melakukan douching memberikan banyak hal buruk pada vagina. Pertama, organ ini akan mengalami perubahan pH yang banyak. Selanjutnya, perubahan pH menyebabkan vagina mengalami infeksi akibat mikroba merugikan mudah masuk.

  1. Gunakan pengaman saat bercinta

Selalu gunakan pengaman saat bercinta. Saat melakukan seks, kotoran dari penis bisa ikut masuk dan menempel. Akibatnya, perubahan pH muncul dan membuat infeksi mudah terjadi.

Selain menggunakan pengaman seperti kondom, ada beberapa hal yang harus diperhatikan pasangan setelah bercinta. Mencuci vagina bisa dilakukan dengan air bersih lalu mengelapnya hingga kering.

Jangan tidur setelah bercinta tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Setelah semuanya bersih, ganti celana dalam baru boleh tidur.

  1. Mengonsumsi makanan probiotik

Mengonsumsi makanan dengan kandungan probiotik juga bisa dilakukan untuk menjaga pH vagina. Saat mengonsumsi probiotik, bakteri baik di vagina akan terjaga dan peluang terjadinya infeksi dari luar akan rendah.

Beberapa makanan dengan kandungan probiotik yang bisa dikonsumsi adalah yoghurt, kimchi, dan kombucha. Makanan ini akan membuat vagina makin sehat secara tidak langsung.

  1. Melakukan pengecekan vagina secara rutin

Katakanlah Anda sudah melakukan perawatan rutin pada vagina setiap saat. Sayangnya karena suatu hal kondisinya mengalami penurunan yang cukup drastis. Dampak dari kondisi ini adalah infeksi atau gangguan penyakit lainnya.

Nah, karena kita termasuk awam dengan masalah vagina, ada baiknya untuk melakukan pemeriksaan. Anda bisa datang ke dokter spesialis kelamin dan kulit untuk mengetahui ada atau tidaknya gangguan yang bisa menurunkan kondisi kesehatan dari kemaluan dan tubuh.

  1. Menjaga sanitasi dengan baik

Perubahan pH yang terjadi pada vagina juga bisa terjadi karena buruknya sanitasi yang dilakukan oleh wanita. Sanitasi buruk di sini bisa dalam bentuk penggantian celana dalam. Usahakan mengganti pakaian dalam ini sehari dua kali.

Selanjutnya kebiasaan saat buang air kecil dan besar. Vagina tidak bisa dibasuh secara salah, misal dari belakang ke depan. Kalau melakukan ini bakteri dari anus bisa ikut terbawa masuk ke dalam vagina dan menyebabkan infeksi.

Gunakan pembalut yang tidak menggunakan bahan berbahaya. Selain itu selalu ganti setiap 4-6 jam sekali. Kalau darah yang keluar ketika menstruasi cukup intens, ganti kalau sudah merasa tidak nyaman.

  1. Menggunakan obat

Menyembuhkan infeksi pada vagina harus dilakukan untuk mengembalikan pH. Kondisi seperti bacterial vaginosis hingga keputihan hanya bisa diatasi dengan antibiotik. Lakukan pemeriksaan ke dokter agar diberi resep yang sesuai.

Demikian ulasan tentang cara menjaga pH vagina. Semoga ulasan di atas bisa Anda gunakan sebagai rujukan untuk menjaga kesehatan vagina secara menyeluruh. Sedikit saja pH dari vagina berubah, gangguan yang besar bisa terjadi.