Terbit: 10 Januari 2020
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Banyak perokok yang menganggap vape sebagai salah satu cara untuk berhenti merokok. Hal ini membuat mereka mengganti rokok konvensionalnya dengan rokok elektrik. Hanya saja, masih banyak pengisap vape yang juga merokok. Meski terlihat sebagai sesuatu yang wajar, pakar kesehatan menyebut kebiasaan ini bisa meningkatkan risiko stroke dengan signifikan.

rokok-vape-doktersehat

Bahaya Merokok dan Mengisap Vape

Berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan para ahli dari George Mason University, Virginia, Amerika Serikat, disebutkan bahwa mereka yang merokok namun juga mengisap vape secara bergantian mengalami peningkatan risiko terkena vape dua kali lipat lebh besar. Risiko terkena penyakit kardiovaskular lainnya juga naik dengan signifikan.

Para peneliti menyebut mereka yang masih merokok konvensional memiliki risiko terkena stroke di angka 1.59. Sementara itu, mereka yang merokok namun juga mengisap vape memiliki risiko terkena penyakit ini di angka 2.91.

“Sudah menjadi rahasia umum jika merokok terkait dengan risiko stroke. Sayangnya, rokok elektrik juga bisa memberikan efek kurang baik bagi kesehatan organ kardiovaskular,” ucap salah satu peneliti dr. Tarang Parekh.

Dalam penelitian ini, disebutkan bahwa perokok yang masih berusia muda namun juga terbiasa mengisap vape memiliki risiko stroke jauh lebih besar.

“Kami memberikan pesan bagi para perokok muda yang masih menganggap rokok elektrik sebagai alternatif yang jauh lebih aman. Dalam realitanya, rokok elektrik juga bisa memberikan dampak buruk bagi kesehatan layaknya rokok konvensional,” tegasnya.

Sebelumnya, penelitian yang serupa juga dilakukan di Belfast, Irlandia Utara. Hasilnya adalah, vape memberikan dampak yang sama bagi paru-paru sebagaimana yang dilakukan oleh rokok konvensional. Dampak ini adalah berubahnya keseimbangan bakteri yang bisa berujung pada munculnya beberapa masalah kesehatan seperti bronchitis, asma, serta emfisema.

Bahaya Sering Mengisap Vape

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, masih banyak orang yang menganggap vape sebagai rokok yang jauh lebih aman bagi kesehatan. Padahal, dalam realitanya hal ini tidaklah benar.

Berikut adalah berbagai dampak kesehatan yang bisa didapatkan jika kita sering mengisap vape.

  1. Bisa Menyebabkan Penyakit Bronkiolitis Obliterans

Dalam dunia medis, bronkiolitis oliterans juga dikenal sebagai penyakit paru-paru popcorn. Vape bisa memicu masalah kesehatan ini karena memiliki kadungan diasetil. Selain itu, di dalam vape tredapat kandungan nikotin yang bisa memicu munculnya peradangan pada paru-paru.

  1. Bisa Membahayakan Kondisi Jantung

Tak hanya bisa membahayakan paru-paru, keberadaan nikotin di dalam vape juga bisa menyebabkan dampak buruk bagi kesehatan jantung. Hal ini disebabkan oleh nikotin yang bisa masuk hingga ke aliran darah. Dampaknya akan memicu kelenjar adrenal memproduksi hormon eprinefin yang membuat tekanan darah darah dan denyut jantung naik. Jika sampai hal ini sering terjadi, risiko hipertensi pun meningkat.

  1. Meningkatkan Risiko Kanker

Kandungan formaldehida di dalam vape ternyata bersifat karsinogen atau bisa menyebabkan kanker. Jika sering diisap dalam jangka panjang, bisa saja merangsang terbentuknya sel kanker. Bahkan, kandungan ini juga bisa menyebabkan keracunan.

  1. Membahayakan Ibu Hamil dan Janinnya

Jika ibu hamil mengisap vape atau menjadi perokok pasif vape, maka akan terpapar nikotin dan zat beracun lainnya yang bisa mengganggu kesehatan dan perkembangan janin di dalamnya.

  1. Risiko Ledakan

Kita tentu pernah beberapa kali mendengar berita yang isinya rokok elektrik atau vape meledak saat digunakan. Meskipun kasusnya memang jarang terjadi, bukan berarti risikonya tidak ada. Kita tentu sebaiknya memang berpikir ulang jika ingin menggunakannya.

 

Sumber:

  1. Lothian-McLan, Moya. 2020. VAPING AND SMOKING TOGETHER DOUBLES LIKELIHOOD OF STROKE, NEW STUDY WARNS. independent.co.uk/life-style/health-and-families/health-news/vaping-smoking-illness-death-stroke-e-cigarettes-a9272426.html. (Diakses pada 10 Januari 2020).

DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi