Terbit: 27 Mei 2020 | Diperbarui: 28 Mei 2020
Ditulis oleh: Muhamad Nuramdani | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Perlemakan hati adalah masalah umum yang disebabkan oleh penumpukan lemak di hati. Dalam kebanyakan kasus, kondisi ini tidak menyebabkan masalah serius, tetapi dapat menyebabkan kerusakan hati. Selengkapnya baca terus untuk mendapatkan informasi tentang gejala, penyebab, pengobatan, hingga pencegahannya di bawah ini!

perlemakan-hati-doktersehat

Apa Itu Perlemakan Hati?

Perlemakan hati adalah kondisi yang menimbulkan penumpukan lemak di hati. Terlalu banyak lemak di hati menyebabkan peradangan hati, yang dapat merusak hati dan menyebabkan jaringan parut. Jika tergolong parah, jaringan parut dapat menyebabkan gagal hati.

Perlemakan hati atau juga disebut hepatic steatosis yang berkembang pada seseorang peminum banyak alkohol, ini dikenal sebagai alcoholic fatty liver disease (AFLD) atau penyakit perlemakan hati alkoholik.

Pada seseorang yang tidak minum banyak alkohol, ini dikenal sebagai non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau penyakit perlemakan hati non-alkohol.

Gejala Perlemakan Hati

Kebanyakan kasus penyakit hati ini tidak menimbulkan gejala yang tampak. Namun ciri-ciri perlemakan hati pada penderitanya mungkin merasa lelah, mengalami ketidaknyamanan, atau rasa sakit di sisi kanan atas perut. Beberapa penderitanya dapat mengalami komplikasi, termasuk jaringan parut hati. Jaringan parut hati dikenal sebagai fibrosis hati.

Jika seseorang mengembangkan fibrosis hati yang parah disebut sirosis. Sirosis dapat menyebabkan gejala berikut:

  • Kehilangan nafsu makan
  • Penurunan berat badan
  • Kelemahan
  • Kelelahan
  • Mudah berdarah
  • Kulit gatal
  • Penyakit kuning (jaundice) yang ditandai kulit dan mata kuning
  • Pembuluh darah membesar di bawah kulit
  • Sakit perut
  • Pembengkakan perut
  • Pembengkakan kaki
  • Gynecomastia atau pembesaran payudara pada pria
  • Kebingungan

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menghubungi Dokter?

Segera hubungi dokter jika Anda memiliki gejala atau ciri-ciri perlemakan hati yang terus-menerus dan mengkhawatirkan. Begitu pula jika mengalami sirosis yang meningkatkan risiko kanker hati dan gagal hati. Komplikasi ini bisa berakibat fatal.

Penyebab Perlemakan Hati

Penyakit ini berkembang ketika tubuh menghasilkan terlalu banyak lemak atau tidak memetabolisme lemak dengan baik. Kelebihan lemak dalam sel-sel hati yang mengakibatkan penumpukan dapat menyebabkan penyakit ini.

Penumpukan lemak disebabkan oleh berbagai hal, salah satunya disebabkan minum terlalu banyak alkohol dapat menyebabkan alcoholic fatty liver disease (AFLD). Kondisi ini adalah tahap pertama penyakit perlemakan hati terkait alkohol.

Sedangkan pada orang yang tidak minum banyak alkohol, penyebab penyakit perlemakan hati kurang diketahui dengan jelas. Satu atau lebih dari beberapa faktor berikut mungkin menjadi penyebabnya:

  • Kegemukan
  • Resistensi insulin
  • Hiperglikemia atau kadar gula darah tinggi
  • Kadar lemak yang tinggi, terutama trigliserida dalam darah

Faktor Risiko Perlemakan Hati

Meminum alkohol terlalu banyak dapat meningkatkan risiko lebih tinggi terkena perlemakan hati. Selain itu, berikut ini sejumlah faktor yang dapat meningkatkan risiko penyakit ini:

  • Obesitas
  • Memiliki resistensi insulin
  • Memiliki diabetes tipe 2
  • Memiliki sindrom ovarium polikistik
  • Kehamilan
  • Memiliki riwayat infeksi tertentu, seperti hepatitis C
  • Minum obat-obatan tertentu (seperti methotrexate, tamoxifen, amiodarone, dan valproic acid)
  • Memiliki kadar kolesterol tinggi
  • Memiliki kadar trigliserida yang tinggi
  • Memiliki kadar gula darah tinggi
  • Mengalami sindrom metabolik
  • Memiliki keluarga dengan riwayat hepatic steatosis

Baca Juga: Penyakit Hati: Pengertian, Jenis-Jenis, dan Cara Pencegahannya

Diagnosis Perlemakan Hati

Mengingat kebanyakan kasus penderita penyakit ini tidak memiliki gejala, kondisi ini tidak mudah didiagnosis. Dokter mungkin akan menggunakan metode berbeda untuk memastikan apakah pasien memiliki penyakit ini.

Beberapa cara yang mungkin digunakan dokter untuk mendiagnosis penyakit perlemakan hati, di antaranya:

1. Riwayat Kesehatan

Awalnya dokter akan mengajukan pertanyaan tentang penggunaan alkohol pada pasien. Informasi ini dapat membantu dokter mengetahui apakah pasien memiliki AFLD atau NAFLD, jadi kejujuran sangat penting. Dokter juga akan bertanya tentang obat-obatan yang sedang diminum, bagaimana pola makan, dan kondisi kesehatan.

2. Pemeriksaan Fisik

Setelah mengajukan beberapa pertanyaan, dokter akan memeriksa tubuh untuk melihat tanda-tanda masalah hati seperti hati yang membesar atau penyakit kuning. Guna memeriksa peradangan hati, dokter dapat meraba atau menekan perut. Sedangkan jika hati membesar, dokter mungkin bisa merasakannya.

3. Tes Darah

Tes ini dapat dilakukan jika pasien memiliki kadar enzim hati yang tinggi seperti alanine aminotransferase (ALT) dan aspartate aminotransferase (AST). Jika demikian, kemungkinan mengalami peradangan pada hati.

4. Tes Pencitraan

Pasien penderita penyakit ini mungkin akan mendapatkan prosedur pemindaian ultrasound, computerized tomography (CT) scan, atau magnetic resonance imaging (MRI). Beberapa tes ini dapat membantu menunjukkan apakah ada lemak di hati. Tapi dokter tidak tahu apakah pasien memiliki hepatic steatosis sederhana atau nonalcoholic steatohepatitis (NASH).

4. Biopsi Hati

Jika pasien berisiko NASH atau jika tes lain menunjukkan bahwa pasien mungkin memiliki komplikasi NASH seperti sirosis, dokter akan menyarankan biopsi hati. Tes ini mengharuskan dokter mengambil sampel jaringan dari hati dan mengirimkannya ke laboratorium untuk memastikan adanya peradangan atau kerusakan hati.

Jenis Perlemakan Hati

Seperti yang telah disebutkan di atas, penyakit ini terdiri dari dua jenis utama, yakni nonalcoholic fatty liver disease (NAFLD) atau perlemakan hati nonalkohol dan alcoholic fatty liver disease (AFLD) atau penyakit perlemakan hati alkoholik.

1. Nonalcoholic Fatty Liver Disease (NAFLD)

Jenis ini terjadi ketika lemak menumpuk di hati pada orang yang tidak minum banyak alkohol. Jika memiliki lemak berlebih di hati dan tidak ada riwayat meminum alkohol berat, dokter dapat mendiagnosis dengan NAFLD. Jika tidak ada peradangan atau komplikasi lain bersama dengan penumpukan lemak, kondisi ini dikenal sebagai perlemakan hati nonalkohol sederhana.

  • Nonalcoholic steatohepatitis (NASH). NASH adalah jenis NAFLD. Kondisi ini terjadi ketika penumpukan lemak berlebih di hati disertai dengan peradangan hati. Jika tidak diobati, NASH dapat menyebabkan jaringan parut hati. Dalam kasus yang parah dapat menyebabkan sirosis dan gagal hati.
  • Acute fatty liver of pregnancy (AFLP). AFLP adalah komplikasi kehamilan yang tergolong jarang namun serius. Penyebab pastinya tidak diketahui. AFLP biasanya muncul pada trimester ketiga kehamilan. Jika tidak diobati dapat menimbulkan risiko kesehatan yang serius bagi ibu dan janin dalam kandungan.

2. Alcoholic Fatty Liver Disease (ALFD)

Terlalu banyak minum alkohol bisa merusak hati dan pada akhirnya hati tidak bisa memecah lemak dengan baik. Kondisi ini dapat menyebabkan lemak menumpuk atau yang dikenal sebagai perlemakan hati beralkohol. ALFD adalah tahap paling awal dari penyakit hati terkait alkohol.

Jika tidak ada timbul peradangan atau komplikasi lainnya bersama dengan penumpukan lemak, kondisi ini dikenal sebagai alcoholic fatty liver sederhana.

  • Alcoholic steatohepatitis (ASH). ASH adalah jenis AFLD, yang terjadi ketika penumpukan lemak berlebih di hati disertai dengan peradangan hati. Kondisi ini juga dikenal sebagai hepatitis alkoholik. Jika memiliki lemak berlebih di hati, hati akan meradang. Jika tidak diobati dengan tepat, ASH menyebabkan jaringan parut pada hati. Jaringan parut hati yang parah dikenal sebagai sirosis yang dapat menyebabkan gagal hati.

Baca Juga: Sirosis Hati: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dan Perbedaannya dengan Hepatitis

Pengobatan Perlemakan Hati

Sampai saat ini belum ada obat yang disetujui untuk mengobati penyakit ini. Oleh karenanya masih diperlukan lebih banyak penelitian untuk mengembangkan dan menguji obat untuk mengobati penyakit ini.

Biasanya, menjalani perubahan gaya hidup dapat membantu mengatasi penyakit perlemakan hati. Berikut beberapa perubahan gaya hidup yang mungkin disarankan oleh dokter:

  • Hindari alkohol
  • Menurunkan berat badan
  • Menjalani pola makan sehat

Sedangkan jika mengalami komplikasi, dokter mungkin akan menyarankan pasien untuk menjalani perawatan tambahan. Guna mengobati sirosis, dokter mungkin menyarankan langkah berikut:

  • Menjalani perubahan gaya hidup.
  • Mengonsumsi obat-obatan.
  • Operasi.
  • Transplantasi hati, jika mengalami gagal hati akibat sirosis.

Makanan untuk Penderita Perlemakan hati

Meskipun tidak secara khusus untuk orang dengan penyakit ini, berbagai jenis makanan dapat membantu mengurangi lemak di hati, yakni makanan yang mengandung lemak sehat, antioksidan, dan karbohidrat kompleks.

Berikut ini sejumlah makanan untuk penderita perlemakan hati:

  • Ikan
  • Buah-buahan
  • Biji-bijian utuh
  • kacang-kacangan
  • Minyak zaitun
  • Sayuran
  • Avokad atau alpukat

Komplikasi Perlemakan Hati

Komplikasi yang utama dari penyakit ini adalah sirosis atau jaringan parut hati. Ketika hati berusaha menghentikan peradangan akibat perlemakan hati akan meninggalkan bekas luka. Saat peradangan menyebar, begitu juga bekas luka, dan akhirnya, hati tidak dapat melakukan fungsinya dengan baik. Kondisi ini bisa menyebabkan komplikasi berikut:

  • Pembengkakan pembuluh darah di kerongkongan yang rentan pecah dan berdarah.
  • Penumpukan cairan di perut.
  • Kebingungan dan rasa kantuk.
  • Gagal hati.
  • Kanker hati.

Pencegahan Perlemakan Hati

Perlemakan hati adalah penyakit yang dapat dicegah (termasuk kemungkinan komplikasinya) dengan menjalani gaya hidup sehat berikut:

  • Pertahankan berat badan yang sehat.
  • Berolahraga setidaknya 30 menit setiap hari dalam seminggu.
  • Kurangi atau bahkan hindari alkohol sama sekali.
  • Makan makanan kaya nutrisi yang rendah lemak jenuh, lemak trans, dan karbohidrat olahan.
  • Melakukan kiat-kiat untuk mengontrol gula darah, kadar trigliserida, dan kadar kolesterol dalam tubuh.
  • Menjalani rencana pengobatan yang disarankan dokter untuk diabetes, jika memilikinya.

 

  1. Anonim. 2020. Diet and Lifestyle Tips to Reverse Fatty Liver Disease. https://www.webmd.com/hepatitis/fatty-liver-disease-diet. (Diakses pada 27 Mei 2020)
  2. Anonim. 2019. Fatty Liver Disease (Hepatic Steatosis). https://www.webmd.com/hepatitis/fatty-liver-disease#2-4. (Diakses pada 27 Mei 2020)
  3. Healthline Editorial Team and Heather Cruickshank. 2019. Everything You Need to Know About Fatty Liver. https://www.healthline.com/health/fatty-liver. (Diakses pada 27 Mei 2020)
  4. Mayo Clinic Staff. 2019. Nonalcoholic fatty liver disease. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/nonalcoholic-fatty-liver-disease/symptoms-causes/syc-20354567. (Diakses pada 27 Mei 2020)


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi