Terbit: 10 Mei 2020 | Diperbarui: 5 Juni 2020
Ditulis oleh: Devani Adinda Putri | Ditinjau oleh: dr. Eko Budidharmaja

Penyakit peritonitis adalah peradangan pada peritoneum. Peritoneum adalah lapisan tipis pelindung dinding perut dan sebagian besar organ perut. Ketahui gejala, penyebab, pengobatan, dll.

Peritonitis: Penyebab, Gejala, Diagnosis, Pengobatan, dll

Apa Itu Peritonitis?

Peritonitis adalah infeksi atau peradangan pada peritoneum. Peritoneum adalah lapisan tipis jaringan yang bertekstur seperti sutra untuk melapisi dinding perut bagian dalam. Peritoneum ini juga berfungsi sebagai pelindung dari organ-organ yang ada di dalam perut.

Umumnya disebabkan oleh cedera perut, infeksi bakteri, atau infeksi jamur. Perawatan penyakit ini biasanya dengan penggunaan antibiotik intravena atau pembedahan dalam kondisi yang lebih patah. Bila dibiarkan, penyakit ini dapat mengancam jiwa.

Gejala Peritonitis

Gejala peritonitis berbeda-beda pada setiap orang tergantung pada penyebab dan kondisi medis lain yang mendasarinya. Berikut ini beberapa gejala peritonitis yang paling umum:

  • Mual dan Muntah
  • Demam
  • Diare
  • Kelelahan
  • Cepat haus
  • Jumlah urin sedikit
  • Kelelahan
  • Tidak nafsu makan
  • Sulit buang air besar
  • Sulit kentut
  • Perut kembung
  • Nyeri perut hebat
  • Nyeri perut saat bergerak atau disentuh
  • Sembelit

Apabila Anda melakukan terapi dialisis peritoneum (cuci darah pada pasien gagal ginjal dengan cairan khusus yang dimasukkan ke dalam rongga perut), maka hasilnya adalah cairan dialisis berwarna keruh dengan flek putih. Gejala yang lebih parah mungkin terjadi tergantung pada tingkat peradangan pada peritoneum.

Baca Juga: 10 Kondisi Kesehatan yang Menyebabkan Nyeri Perut Bawah

Kapan Harus ke Dokter?

Apabila Anda tidak segera berobat ke UGD, penyakit ini akan berbahaya bagi tubuh Anda. Segera hubungi dokter apabila Anda merasakan beberapa gejala berikut ini:

  • Perut terasa keras
  • Merasakan sakit perut yang semakin parah
  • Buang air kecil sedikit
  • Tidak bisa buang air besar

Penyebab Peritonitis

Penyebab paling umum adalah infeksi bakteri atau infeksi jamur. Peradangan pada peritoneum juga mungkin terjadi akibat komplikasi dari kondisi medis yang sudah Anda miliki, seperti:

  • Komplikasi operasi gastrointestinal.
  • Paracentesis, efek samping dari prosedur untuk menarik cairan dari perut atau penggunaan tabung makanan.
  • Komplikasi kolonoskopi atau endoskopi.
  • Komplikasi dari cedera perut.
  • Komplikasi usus buntu.
  • Komplikasi sirosis hati.
  • Komplikasi radang panggul.
  • Komplikasi penyakit usus lainnya.
  • Komplikasi penyakit Crohn.
  • Infeksi pada kantong empedu, usus, atau aliran darah.
  • Efek samping dari pembedahan seperti perawatan untuk gagal ginjal.

Penyebab peritonitis lainnya meliputi:

  • Efek samping dari dialisis peritoneum menggunakan kateter untuk mengeluarkan limbah dari darah karena fungsi ginjal terganggu.
  • Adanya apendiks yang pecah, seperti pada kasus tukak lambung dan usus berlubang. Kondisi ini dapat terjadi karena bakteri.
  • Pankreatitis, peradangan pada pankreas yang kemudian juga bisa menginfeksi peritoneum.
  • Divertikulitis, infeksi pada saluran kecil di saluran pencernaan.

Kondisi ini juga dapat berkembang karena penumpukan cairan di rongga perut (ascites), sehingga bakteri jadi lebih mudah tumbuh (spontaneous bacterial peritonitis). Kondisi medis lain yang mendasarinya seperti komplikasi penyakit hati juga dapat memicu peradangan di jaringan pelindung perut.

Faktor Risiko Peritonitis

Apabila Anda pernah menderita peritonitis sebelumnya, maka risiko untuk mengalaminya lagi lebih tinggi dari mereka yang belum pernah menderita peradangan peritoneum ini. Riwayat medis lainnya seperti sirosis juga meningkatkan risiko penyakit ini.

Diagnosis Peritonitis

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat medis. Dokter akan memeriksa perut Anda juga, bila mengalami gejala tertentu maka pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.

Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dan riwayat medis. Dokter akan memeriksa perut Anda juga, bila mengalami gejala tertentu maka pemeriksaan lebih lanjut diperlukan. 

Berikut ini adalah diagnosis peradangan pada peritoneum: 

  • Tes Darah: Complete blood count (CBC) atau pemeriksaan darah lengkap dibutuhkan untuk mengukur jumlah sel darah putih. Pemeriksaan ini dapat dijadikan indikator bila adanya peradangan atau infeksi. Pemeriksaan CRP juga bisa membantu menegakkan peradangan pada peritonitis
  • USG, X-foto Rontgen atau CT Scan: Pemeriksaan untuk mengetahui kondisi peritoneum dan organ dalam perut Anda lebih detail. 

Pemeriksaan tambahan lainnya mungkin dibutuhkan pada pengguna peritoneal dialisis. Apabila hasil dari cairan dialisis keruh, maka itu gejala peritonitis.

Baca Juga: 13 Gejala Kanker Usus Besar yang Harus Diwaspadai!

Pengobatan Peritonitis

Cara mengobati penyakit peritonitis adalah mengetahui terlebih dulu penyebabnya. Kondisi yang didasari infeksi bakteri, biasanya diobati dengan antibiotik atau obat antinyeri. Apabila Anda mengalami jenis peritonitis sekunder atau akibat dari kondisi medis lain yang mendasarinya, maka Anda harus dirawat di rumah sakit.

Berikut ini perawatan yang paling direkomendasikan:

  • Antibiotik: Antibiotik intravena (IV) atau cairan suntik digunakan untuk mencegah infeksi menyebar. Dosis dan durasi antibiotik ini digunakan sesuai usia, tingkat keparahan penyakit, dan kondisi medis lainnya.
  • Pembedahan: Operasi bedah juga dibutuhkan dalam kondisi peradangan peradangan peritoneum yang lebih parah. Pembedahan dilakukan untuk mengangkat jaringan yang terinfeksi agar tidak menyebar. Biasanya, pembedahan dilakukan pada kondisi akibat usus buntu.
  • Perawatan Medis Lainnya: Perawatan lainnya dengan obat pereda nyeri, cairan intravena (IV), transfusi darah, dan oksigen tambahan di beberapa kasus.

Bila infeksi berlanjut, dokter mungkin akan menyarankan prosedur lainnya. Perawatan harus segera dilakukan sebelum memicu komplikasi serius.

Baca Juga: 8 Gejala Usus Buntu yang Mudah Dikenali (No. 4 Sering Terjadi)

Komplikasi Peritonitis

Apabila tidak segera diobati, kondisinya akan memburuk dan menyebabkan:

  • Infeksi aliran darah (bakteremia).
  • Infeksi di seluruh tubuh Anda (sepsis).
  • Sindrom hepatorenal, gagal ginjal progresif.
  • Usus mati.
  • Syok septik.
  • Penyumbatan usus.
  • Perlengketan/adhesi organ dalam perut

Pencegahan Peritonitis pada Peritoneal Dialysis

Umumnya, peradangan peritoneum terjadi akibat efek samping dari dialisis peritoneum. Dialisis peritoneum adalah proses pembuangan limbah dan zat beracun tubuh menggunakan kateter. Apabila Anda sedang menerima dialisis peritoneal, perhatikan beberapa tips mencegah peritonitis berikut ini:

  • Cuci tangan sampai bersih sebelum menyentuh dan menggunakan kateter dialisis.
  • Bersihkan kulit dengan antiseptik.
  • Gunakan masker bedah selama prosedur dialisis peritoneum.

Konsultasi dengan dokter apabila Anda mengalami kondisi medis terkait penumpukan cairan di perut. Bicarakan pada dokter Anda tentang perawatan terbaik terkait kateter dialisis peritoneum agar tidak memicu komplikasi lainnya.

 

  1. MayoClinic. 2018. Peritonitis. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/peritonitis/symptoms-causes/syc-20376247. (Diakses pada 27 April 2020).
  2. Pietrangelo, Ann. 2017. Peritonitis. https://www.healthline.com/health/peritonitis. (Diakses pada 27 April 2020).
  3. NHS. 2017. Peritonitis. https://www.nhs.uk/conditions/peritonitis/. (Diakses pada 27 April 2020).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi