Terbit: 25 Maret 2018
Ditulis oleh: Redaksi DokterSehat | Ditinjau oleh: Tim Dokter

DokterSehat.Com– Selama ini peneliti terus meneliti mengenai penyebab keguguran dan mengapa ada ibu yang mengalami keguguran beberapa kali. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa keguguran bisa jadi terkait dengan tingkat kesuburan seseorang.

Perempuan yang Sangat Subur Memiliki Risiko Keguguran Lebih Tinggi?

Dalam sebuah penelitian yang dilakukan Jan Brosens dari University of Warwick ditemukan bahwa perempuan yang subur memiliki kemungkinan untuk mengalami keguguran berulang.

“Penelitian ini penting karena sealam 60 tahun teakhir banyak yang beranggapan bahwa keguguran adalah bentuk penolakan dari ibu terhadap janin karena perbedaan kekebalan tubuh,” jelas Jan Brosens dari University of Warwick seperti dikutip LiveScience.

“Saat ini keguguran yang berulang dinilai bukan sebagai kegagalan untuk membawa kehamilan, namun sebagai kegagalan untuk mencegah kehamilan. Dengan kata lain, kondisi ibu yang sangat subur, namun dengan konsekuensi yang sulit atau menyusahkan,” jelas Nick Nacklon, rekan peneliti Jan Brosens dalam penelitian ini.

Brosens dan timnya menggunakan sampel dari enam rahim wanita yang mengalami keguguran berulang dan enam rahim wanita yang memiliki kesuburan normal. Dalam penelitian tersebut ditemukan bahwa sel dari wanita kesuburan normal menolak embrio berkualitas rendah dan memilih embrio dengan kualitas tinggi. Sedangkan sel dari wanita keguguran berulang menjangkau dan tumbuh menuju embrio berkualitas tinggi dan berkualitas rendah.

- Iklan -
Iklan DokterSehat Farmaku RT Mandiri - Advertisement

Penelitian ini diharapkan dapat memberi pemahaman baru mengenai makna keguguran. “Banyak penderita keguguran berulang merasa mereka gagal sebagai ibu. Namun yang terjadi sebenarnya adalah kondisi mereka sangat subur sehingga memungkinkan embrio ditanam dan tumbuh sebagai janin yang sehat sebelum akhirnya mengalami keguguran,” imbuh Macklon.

Namun menurut Brosens, penelitian ini masih membutuhkan kajian lebih lanjut karena teori ini tidak dapat menjelaskan semua keguguran yang terjadi. Masih perlu dilakukan penelitian terkait kondisi ibu dan penolakan embrio yang abnormal lainnya.


DokterSehat | © 2021 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi