Terbit: 19 Juni 2020
Ditulis oleh: dr. Dicky Yulianda | Ditinjau oleh: Tim Dokter

Memasuki  Juni 2020, pemerintah Indonesia mulai melakukan relaksasi pembatasan sosial atau new normal. Pada 10 Juni 2020 WHO juga mengeluarkan laporan situasi Indonesia yang menekankan bahwa kasus COVID-19 Indonesia yang terus meningkat, pengecekan COVID-19 yang tidak cukup, dan hasil pemeriksaan PCR yang lambat. Laporan ini juga menekankan bahwa syarat relaksasi pembatasan sosial belum terpenuhi dan tidak bisa ditawar.

Perbedaan Pneumonia dengan COVID-19 (Disertai Pengobatannya)

Syarat Relaksasi Pembatasan Sosial

  • Surveilans dan deteksi kasus secara aktif dengan tes PCR terhadap semua kasus suspek
  • Isolasi segera terhadap semua kasus suspek dan kasus terkonfirmasi
  • Perawatan klinis yang sesuai untuk mereka yang terkena dampak COVID-19
  • Pelacakan kontak dan karantina secara ekstensif terhadap semua kontak
  • Pastikan orang-orang secara rutin membersihkan tangan, menggunakan masker ketika berada di tempat publik dan tempat kerja; dan menjaga jarak fisik minimal 1 meter dari orang lain.

Jika dilihat, syarat-syarat tersebut menunjukkan bahwa ketika new normal ini harus awas akan ada kemungkinan kemunculan penularan di tempat kita kerja/lingkungan kita. Sehingga peran masyarakat yaitu harus tegas dalam menegakkan protokol kesehatan dan melaporkan diri jika ada kecurigaan bahwa diri sendiri tertular COVID-19 1.

Masyarakat harus paham apa itu penyakit COVID-19 dan bagaimana COVID-19 bisa menyebabkan penyakit di tubuh dan bagaiman menular. Kita harus paham bagaimana penyakit ini muncul dan bagaimana kita bisa mendeteksi COVID-19 pada fase awal dan kapan harus mengajukan diri untuk dilakukan pemeriksaan diri di fasilitas kesehatan 1.

Perbedaan Pneumonia dan COVID-19

Pneumonia atau dalam istilah awam yaitu paru-paru basah adalah infeksi pada jaringan di paru-paru yang disebabkan oleh bakteri, virus atau jamur.

Secara global, 3,2 juta kematian di sebabkan oleh infeksi saluran nafas bawah atau pneumonia. Kejadian tahun pneumonia diperkirakan 16,9 kasus per 1.000 orang pertahun di Asia. Pneumonia biasanya ditegakkan diagnosisnya menggunakan kombinasi dari riwayat keluhan, pemeriksaan fisik dan/atau pemeriksaan lab 2.

Studi internasional pada tahun 2019 melibatkan negara berpendapatan menengah dan rendah tentang penyebab pneumonia anak-anak usia di bawah 6 tahun menunjukan bahwa 61,4% disebabkan oleh virus, 27,3% oleh bakteri, dan bakteri Mycobacterium tuberculosis (kuman penyebab penyakit tuberculosis) sebanyak 5,9%. Pada pneumonia berat lebih banyak disebabkan oleh bakteri daripada virus 3.

Pneumonia banyak dibahas pada sebagai penyakit anak-anak karena merupakan salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak-anak. Keluhan yang umum ditemukan pada pneumonia adalah batuk, nafas cepat dan demam. Pemeriksaan penunjang yang biasanya ditambahkan adalah Foto Rontgen dada, yang bisa membedakan pneumonia dengan infeksi saluran nafas lainnya. S

Sebelum COVID-19, pemeriksaan lengkap pneumonia opsional untuk dilakukan namun direkomendasikan jika pasien tersebut dicurigai terpapar patogen yang ‘harus diwaspadai’ seperti Legionella, virus influenza atau Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV), pasien dengan penyakit berat atau kecurigaan bakteri kebal MRSA atau Pseudomonas aeruginosa 2,4.

COVID-19 adalah virus yang baru ditemukan pada akhir tahun 2019 di provinsi Hubei, China. Virus ini masuk dari saluran nafas melalui ‘pintu’ di sel saluran nafas yaitu ACE dan TMPPRS. Setelah masuk virus ini merusak dan menyebabkan kerusakan. Kerusakan ini sebenarnya tidak terlalu berat, namun virus ini dapat membuat tubuh bereaksi berlebih dan malah membuat kerusakan pada paru-paru dan organ lain yang mempunyai pintu tersebut seperti ginjal, jantung, dan saluran usus 5.

Infeksi COVID-19 pada seseorang bisa hadir tanpa keluhan, keluhan ringan seperti batuk pilek, dan keluhan sedang hingga berat sepereti sesak nafas, kerusakan organ tubuh, gagal nafas hingga kematian. Dari penelitian 1099 pasien rumah sakit di Cina menunjukan bahwa keluhan yang umum dijumpai adalah demam (43,8% ketika pertama kali datang dan 88,7% ketika dirawat) dan batuk (67,8%). Diare jarang ditemui (3,8%). Pada pemeriksaan CT-Scan yang sering ditemukan adalah ground-glass opacity (56,4%) (gambar 1)6.

COVID-19 baru bisa dipastikan dengan pemeriksaan PCR. Tanpa pemeriksaan PCR maka pasien dengan keluhan khas COVID-19 hanya bisa dicurigai mempunyai penyakit COVID atau yang biasa disebut Pasien dalam Pengawasan (PDP) 7.

Secara sekilas, pneumonia non-COVID dan COVID-19 sulit dibedakan. Pasien dengan pneumonia yang belum ditegakkan apakah COVID-19 atau bukan maka akan diberlakukan sebagai COVID-19 agar mengurangi resiko penularan. Jika seseorang sudah memiliki keluhan pneumonia dengan sesak nafas maka dia wajib memeriksakan diri ke rumah sakit agar bisa mendapatkan penangan yang sesuai.

Hingga saat ini belum ada data terkait seberapa banyak persentase seseorang dengan infeksi COVID-19 yang ringan menjadi berat dengan keluhan pneumonia seperti sesak.

Pengobatan COVID-19

Pasien COVID-19 yang terkonfirmasi, namun tidak memiliki keluhan (asimtomatik) atau keluhan ringan (demam, batuk, nyeri tenggorokan, nyeri kepala, nyeri otot) tanpa disertai sesak nafas, sesak nafas ketika aktivitas atau temuan rontgen yang abnormal bisa ditangani sebagai pasien rawat jalan dan diwajibkan mengakarantina diri hingga hasil negatif. Pasien akan diikuti perkembangannya oleh petugas kesehatan via telfon atau telemedicine dan kontrol setelah 14 hari di fasilitas kesehatan untuk pemantauan klinis 8.

Pengobatan simtomatis seperti penurun panas (parasetamol) bisa diberikan bila demam. Lalu pemberian multivitamin yang mengandung vitamin C, B E dan zink direkomendasikan. Jika sudah mulai ada keluhan sesak nafas atau kesulitan bernafas makan, pasien tersebut harus dibawa segera ke rumah sakit rujukan COVID-19 agar bisa diberikan penanganan yang cukup dan mencegah terjadinya perburukan 8.

Hingga saat ini belum ada pengobatan yang sudah terbukti efektif terhadap pasien COVID-19. Banyak penelitian untuk obat antivirus dan penurun peradangan tubuh karena COVID-19 yang sedang dilakukan dan menunggu hasilnya keluar. Temuan terbaru bahwa obat hidroksiklorokuin sudah tidak direkomendasikan untuk pengobatan COVID-19 9.

Hal ini membuat pencegahan tertularnya COVID-19 menjadi pilihan utama untuk masyarakat. Protokol kesehatan harus selalu diberlakukan ketika beraktivitas dan daya tahan tubuh juga wajib untuk dijaga dengan makanan gizi seimbang dan aktivitas fisik yang cukup.

ground-glass-opacity-pasien-covid-19-doktersehatGambaran ground glass opacity pada pasien COVID-1910

Berikut panduan dari WHO untuk penanganan pasien yang dikarantina di rumah

homecare-WHO-covid-19-anggota-keluarga-doktersehat

homecare-WHO-untuk-merawat-covid-19-doktersehat

homecare-WHO-untuk-yang-sakit-covid-19-doktersehat.jpg

Informasi kesehatan ini disponsori:
logo-cimsa-ugm-doktersehat

 

 

  1. World Health Organization. Coronavirus disease 2019 (COVID-19) Situation Report – 11. Vol. 2019. 2020.
  2. Htun TP, Sun Y, Chua HL, Pang J. Clinical features for diagnosis of pneumonia among adults in primary care setting: A systematic and meta-review. Sci Rep [Internet]. 2019;9(1):1–10. Available from: http://dx.doi.org/10.1038/s41598-019-44145-y
  3. O’Brien KL, Baggett HC, Brooks WA, Feikin DR, Hammitt LL, Higdon MM, et al. Causes of severe pneumonia requiring hospital admission in children without HIV infection from Africa and Asia: the PERCH multi-country case-control study. Lancet. 2019;394(10200):757–79.
  4. Metlay JP, Waterer GW, Long AC, Anzueto A, Brozek J, Crothers K, et al. Diagnosis and Treatment of Adults with Community-acquired Pneumonia. An Official Clinical Practice Guideline of the American Thoracic Society and Infectious Diseases Society of America. Am J Respir Crit Care Med [Internet]. 2019 Oct 1;200(7):e45–67. Available from: https://www.atsjournals.org/doi/10.1164/rccm.201908-1581ST
  5. Tay MZ, Poh CM, Rénia L, MacAry PA, Ng LFP. The trinity of COVID-19: immunity, inflammation and intervention. Nat Rev Immunol [Internet]. 2020 Jun 28;20(6):363–74. Available from: http://www.nature.com/articles/s41577-020-0311-8
  6. Guan WJ, Ni ZY, Hu Y, Liang WH, Ou CQ, He JX, et al. Clinical Characteristics of Coronavirus Disease 2019 in China. N Engl J Med. 2020 Apr 30;
  7. Kementrian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P). Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Coronavirus Disease (COVID-19). 1st ed. Aziza L, editor. Vol. 1. Jakarta; 2020. 1–125 p.
  8. Burhan E, Susanto AD, Nasution SA, Ginanjar E, Pitoyo CW, Susilo A, et al. Protokol Tatalaksana COVID-19. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) Perhimpunan Dokter Anestesiologi dan Terapi Intensif Indonesia (PERDATIN) Ikatan Dokter An. 2020.
  9. COVID-19 Treatment Guidelines Panel. Coronavirus Disease 2019 (COVID-19) Treatment Guidelines [Internet]. 2020. Available from: https://www.covid19treatmentguidelines.nih.gov/
  10. Tenda ED, Yulianti M, Asaf MM, Yunus RE, Septiyanti W, Wulani V, et al. The Importance of Chest CT Scan in COVID-19. Acta Med Indones. 2020;52(1):68–73.


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi