Terbit: 6 Januari 2020
Ditulis oleh: Gerardus Septian Kalis | Ditinjau oleh: dr. Jati Satriyo

Masih banyak orang yang belum mengerti perbedaan HIV dan AIDS hingga kini serta menganggap dua hal ini adalah penyakit yang sama. Padahal, dua hal tersebut adalah kondisi yang berbeda.

Sering Dianggap Sama, Inilah 7 Perbedaan HIV dan AIDS

Mengenali Perbedaan HIV dan AIDS

HIV adalah virus yang menyerang sel darah putih (sel CD4) dalam sistem kekebalan tubuh. Sementara itu, AIDS adalah serangkaian gejala yang dapat berkembang pada penderita HIV yang tidak menerima pengobatan. Seseorang dapat memiliki HIV tanpa mengembangkan AIDS, tetapi tidak mungkin untuk memiliki AIDS tanpa terlebih dahulu memiliki HIV.

Simak perbedaan HIV dan AIDS serta hal-hal lainnya secara lengkap di bawah ini, di antaranya:

1. HIV adalah Virus

HIV adalah virus yang dapat menyebabkan kerusakan sistem kekebalan tubuh. Penularan hanya bisa terjadi pada manusia. Kondisi ini mengakibatkan sistem kekebalan tubuh tidak dapat bekerja dengan seharusnya.

Pada dasarnya, sistem kekebalan tubuh dapat sepenuhnya melawan banyak virus dari tubuh, akan tetapi tidak dengan HIV. Guna memutus siklus hidup virus, konsumsi obat-obatan disarankan untuk mengendalikan HIV.

2. AIDS adalah Kondisi saat Tubuh Sudah Terinfeksi

Seseorang yang mengalami infeksi HIV akan mengalami penurunan sistem imun setiap harinya. Kalau kondisi ini bisa segera diketahui dan antiretroviral diberikan dengan segera, kemungkinan kondisi tubuh memburuk akan rendah. Seorang penderita HIV masih bisa hidup dengan baik.

Kalau kondisi imunitas terus turun dan akhirnya HIV mencapai stadium III, sistem imun di tubuh akan mengalami kerusakan. Kerusakan sistem imun ini menyebabkan masalah pada tubuh seperti mengalami infeksi seperti TBC, pneumonia, dan gangguan kronis lainnya.

Nah, kondisi rusaknya sistem imun inilah yang disebut dengan AIDS atau acquired immunodeficiency syndrome.

3. Perkembangan Penyakit

HIV adalah virus dan AIDS adalah kondisi yang dapat disebabkan oleh virus. Infeksi HIV tidak selalu berlanjut ke stadium III. Faktanya, banyak orang dengan HIV hidup selama bertahun-tahun tanpa mengembangkan AIDS.

Berkat kemajuan dalam pengobatan, orang yang hidup dengan HIV dapat berharap untuk menjalani rentang hidup yang hampir normal. Karena obat ampuh untuk penyakit ini belum ditemukan, infeksi HIV tidak pernah hilang bahkan jika AIDS tidak pernah berkembang.

4. Cara Penularannya

Perbedaan HIV dan AIDS berikutnya adalah dari cara penularannya. Karena HIV adalah virus, ia dapat ditularkan di antara orang-orang seperti banyak virus lainnya. Sementara AIDS adalah kondisi yang didapat seseorang setelah tubuhnya tertular HIV.

Virus ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui pertukaran cairan tubuh. Paling umum, HIV ditularkan melalui hubungan seks tanpa kondom atau penggunaan jarum suntik bersama. Penularan virus juga dapat terjadi dari ibu ke anak selama kehamilan.

5. Perbedaan Gejala

Beda HIV dan AIDS juga bisa terlihat dari gejala. HIV biasanya menyebabkan gejala seperti flu sekitar dua hingga empat minggu setelah penularan. Jangka waktu yang singkat ini disebut infeksi akut. Sementara jika sistem kekebalan mengendalikan infeksi, hal itu mengarah ke periode latensi.

Sistem kekebalan tidak dapat sepenuhnya menghilangkan HIV, tetapi dapat mengendalikannya untuk waktu yang lama. Selama periode latensi ini—yang dapat berlangsung selama bertahun-tahun—seseorang dengan HIV mungkin tidak mengalami gejala sama sekali.

Namun, tanpa terapi antiretroviral, seseorang dapat mengembangkan AIDS dan akibatnya akan mengalami banyak gejala yang terkait dengan kondisi tersebut.

6. Perbedaan Diagnosis

Infeksi HIV dapat didiagnosis dengan tes sederhana. Sementara diagnosis AIDS lebih rumit. Pada penularan HIV, sistem kekebalan menghasilkan antibodi terhadap virus. Tes darah atau air liur dapat mendeteksi antibodi tersebut untuk menentukan apakah virus ada.

Diperlukan beberapa minggu setelah penularan untuk tes antibodi HIV untuk kembali positif. Tes lain mencari antigen, yang merupakan protein yang diproduksi oleh virus dan antibodi. Tes ini dapat mendeteksi HIV hanya beberapa hari setelah infeksi. Kedua tes ini akurat dan mudah dijalankan.

Sementara diagnosis AIDS dilakukan dengan mencari beberapa faktor untuk menentukan apakah latensi HIV telah berkembang ke HIV stadium III.

Karena HIV menghancurkan sel kekebalan yang disebut sel CD4, salah satu cara penyedia layanan kesehatan mendiagnosis AIDS adalah dengan menghitung sel-sel itu. Seseorang tanpa HIV dapat memiliki 500 hingga 1.200 sel CD4. Ketika sel turun menjadi 200, seseorang dengan HIV dianggap memiliki HIV stadium III.

Faktor lain yang menandakan bahwa Anda memiliki HIV  stadium III adalah adanya infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik adalah penyakit yang disebabkan oleh virus, jamur, atau bakteri—yang tidak akan membuat seseorang dengan sistem kekebalan yang tidak rusak menjadi sakit.

7. Perawatan

Jika HIV berkembang menjadi HIV stadium III, harapan hidup turun secara signifikan. Sulit untuk memperbaiki kerusakan pada sistem kekebalan di kondisi ini. Infeksi dan kondisi lain, seperti kanker tertentu juga sering terjadi. Namun, dengan terapi antiretroviral yang berhasil dan beberapa pemulihan sistem kekebalan, banyak orang dengan HIV stadium III berumur panjang.

Dengan perawatan untuk infeksi HIV, seseorang dapat hidup dengan HIV dan tidak pernah mengembangkan AIDS. Penting juga untuk diketahui bahwa pengobatan antiretroviral yang berhasil dan viral load yang tidak terdeteksi secara berkelanjutan sangat menurunkan risiko penularan virus ke pasangan.

Nah, itulah perbedaan HIV dan AIDS yang sebaiknya Anda kenali.

Tanda HIV Sudah Menginfeksi

Tanda awal dari HIV antara pria dan wanita hampir sama. Secara umum, tubuh akan memunculkan beberapa gejala di bawah ini, antara lain:

  • Demam tinggi disertai dengan nyeri di tenggorokan. Saat akan menelan, penderita sering kesulitan.
  • Sakit kepala yang cukup tinggi dan susah ditahan.
  • Rasa lelah yang cukup parah meski seseorang tidak melakukan apa-apa. Rasa lelah ini menurunkan produktivitas dan juga menyebabkan kecelakaan pada tubuh.
  • Nyeri dan kemerah-merahan pada kelenjar limfa.
  • Muncul sariawan yang cukup banyak di mulut dan juga kemaluan. Sariawan ini sangat sakit dan susah sekali diatasi.
  • Persendian terasa sangat sakit dan otot di tubuh kerap nyeri.
  • Sering merasa mual dan muntah.
  • Sering terbangun di tengah malam dan berkeringat.

Penularan HIV yang Wajib Diwaspadai

HIV mudah sekali menular dan kadang tandanya tidak terlihat. Secara umum penularan HIV bisa terjadi karena beberapa hal di bawah ini:

  • Aktivitas seks yang tidak aman dan berbahaya. Seks ini dilakukan tanpa kondom dan salah satu pasangan memiliki HIV. Jadi, selama ada kemungkinan terjadi pertukaran cairan, HIV bisa masuk ke tubuh.
  • Penggunaan jarum suntik yang salah. Jarum suntik yang dipakai berkali-kali saat memakai narkoba, saat menginjeksikan obat, atau mungkin transfusi darah bisa menularkan virus.
  • Dari ibu ke janin yang sedang dikandungnya.

Mitos Tentang HIV yang Harus Diluruskan

Berikut beberapa mitos HIV yang harus diluruskan agar tidak salah kaprah, seperti:

  • Memiliki HIV dianggap sebagai vonis mati. Padahal HIV bisa dikendalikan sehingga penderita masih bisa hidup seperti biasa asal obat yang diberikan selalu dikonsumsi sesuai aturan.
  • HIV lebih banyak menular pada mereka yang memiliki orientasi homoseksual. Sebenarnya penularan HIV pada pemilik orientasi heteroseksual juga besar. Semua orang berisiko kalau mereka tidak melakukan seks dengan aman.
  • Wanita dengan HIV pasti melahirkan bayi yang akan terkena infeksi HIV yang sama. Mitos ini tidak sepenuhnya benar. Kalau wanita menggunakan obat untuk mengendalikan virus sejak pertama hamil hingga menyusui, peluang bayi terkena HIV di bawah 1%.
  • HIV selalu berubah jadi AIDS. Mitos ini tidak sepenuhnya benar. Kalau orang yang terinfeksi HIV menggunakan obat antiretroviral, HIV stadium III  bisa dicegah sehingga kondisi AIDS tidak muncul.
  • Jika Anda menggunakan pre-exposure prophylaxis (PrEP) maka kondom tidak dibutuhkan. PrEP memang bisa mencegah penularan HIV, namun dengan tetap menggunakan kondom penularan bisa dicegah dengan lebih baik.
  • Pasangan yang sama-sama memiliki HIV tidak perlu bercinta dengan kondom. Mitos ini salah karena superinfection bisa terjadi meski sangat langka dan peluangnya sekitar 1-4% saja.

Pada akhirnya, perawatan dini dan mengikuti rencana perawatan seperti yang direkomendasikan adalah langkah baik yang bisa dilakukan. Penting juga untuk menghindari paparan infeksi lain dan mempertahankan gaya hidup sehat untuk mendukung sistem kekebalan tubuh.

 

  1. Ellis, Mary Ellen. 2018. HIV vs. AIDS: What’s the Difference?. https://www.healthline.com/health/hiv-aids/hiv-vs-aids#hiv-without-aids. (Diakses pada 6 Desember 2019).
  2. Leonard, Jayne. 2018. HIV vs. AIDS: What is the difference?. https://www.medicalnewstoday.com/articles/316019.php. (Diakses pada 6 Desember 2019).
  3. HIV/AIDS. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/symptoms-causes/syc-20373524. (Diakses pada 6 Desember 2019).


DokterSehat | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi