Memiliki Banyak Kemiripan, Ternyata Ini Perbedaan Bipolar dan Skizofrenia!

perbedaan-bipolar-dan-skizofrenia-doktersehat

DokterSehat.Com – Bipolar dan skizofrenia adalah dua penyakit mental dengan penderita yang jumlahnya tidak sedikit. Kedua penyakit ini memiliki beberapa kesamaan di mana keduanya menyebabkan penderitanya berhalusinasi dan berdelusi. Hal ini lah yang membuat banyak orang kurang memahami perbedaan bipolar dan skizofrenia, padahal keduanya merupakan dua gangguan mental yang berbeda.

Apa Itu Bipolar dan Skizofrenia?

Bipolar dan skizofrenia merupakan dua jenis gangguan mental. Bipolar adalah gangguan mental yang berhubungan dengan suasana hati dan dapat membuat penderitanya mengalami perubahan suasana hati yang sangat ekstrem. Sedangkan skizofrenia adalah gangguan yang memengaruhi pola pikir, perilaku, dan perasaan penderitanya.

Kedua penyakit ini memiliki beberapa jenis yang berbeda-beda. Jenis bipolar adalah seperti bipolar I, bipolar II, bipolar siklus cepat, bipolar campuran, dan siklotimia. Sedangkan gangguan yang dapat digolongkan sebagai jenis skizofrenia adalah seperti skizofrenia paranoid, gangguan skizoafektif, gangguan psikosis aku, schizophreniform disorder, dan gangguan delusi.

Gangguan skizoafektif yang merupakan salah satu jenis skizofrenia dapat dikatakan sebagai skizofrenia yang timbul bersamaan dengan gangguan bipolar. Skizoafektif tidak hanya menunjukkan gejala skizofrenia, tapi juga melibatkan gejala perubahan suasana hati seperti pada bipolar.

Perbedaan Bipolar dan Skizofrenia

Bipolar dan skizofrenia memiliki beberapa kesamaan seperti dari segi penyebab. Keduanya dapat disebabkan oleh perbedaan struktur pada otak, faktor genetik, dan juga faktor lingkungan. Selain itu, keduanya juga memiliki kesamaan gejala yaitu dapat menyebabkan halusinasi dan delusi. Namun selain kesamaan tersebut, kedua penyakit ini justru memiliki berbagai macam perbedaan seperti berikut ini!

1. Perbedan bipolar dan skizofrenia dari segi gejala

Halusinasi dan delusi hanya merupakan salah satu gejala dari bipolar dan skizofrenia. Selain gejala yang sama, terdapat juga beberapa perbedaan bipolar dan skizofrenia dari segi gejala. Pada penderita gangguan bipolar, gejala dibagi menjadi episode yang berbeda yang disebut dengan epidose mania dan depresif.

Kedua episode ini menunjukkan perbedaan mood yang sangat jauh berbeda. Pada episode mania, seseorang akan mengalami energi yang berlebihan hingga merasa bahagia dan terlalu senang, banyar berbicara dan bicaranya cepat, muncul rasa percaya diri berlebihan. Pada episode mania juga seseorang dapat mudah tersinggung, merasa tidak butuh tidur, dan mengalami halusinasi.

Pada fase depresif, penderita akan merasakan sedih, putus asa, tidak memiliki semangat untuk melakukan hal apapun, bahkan sebagian dapat memiliki pikiran untuk bunuh diri. Kedua episode ini dapat berganti dengan sangat cepat atau bahkan pada beberapa kasus bisa dirasakan secara bersamaan.

Sedangkan pada skizofrenia, tidak terdapat gejala perubahan suasana hati. Gejala skizofrenia adalah seperti halusinasi, delusi atau waham, pikiran dan cara bicara kacau sehingga sulit berkomunikasi, dan perilaku yang abnormal. Penderita skizofrenia sulit untuk membedakan antara realita dan juga alam pikirannya.

2. Perbedaan bipolar dan skizofrenia dari segi fase

Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, bahwa gejala gangguan bipolar dibedakan menjadi dua fase. Setiap fase dapat berganti dengan cepat atau terdapat juga kondisi di mana salah satu fase lebih jarang dirasakan dari fase lainnya. Pada dasarnya gangguan bipolar akan terlihat dengan adanya kedua fase tersebut.

Berbeda dengan bipolar, skizofrenia tidak berkaitan dengan perbuhan mood yang ekstrem. Penderita skizofrenia akan mengalami gejala yang sama selama menderita penyakit ini. Gangguan pola pikir pada skizofrenia terjadi sepanjang waktu, sedangkan pada penderita bipolar masih dapat merasakan fase normal yang ada di antara fase mania dan fase depresifnya.

Jika melihat dari perbedaan bipolar dan skizofrenia dari segi fase, dapat dikatakan bahwa penderita bipolar dapat terlihat lebih normal dibandingkan dengan penderita skizofrenia. Namun bukan berarti keduanya tidak dapat menjalani kehidupan dengan normal. Penanganan yang tepat dapat membantu keduanya hidup dengan normal.

3. Perbedaan bipolar dan skizofrenia dalam hal penanganan

Kedua kondisi ini pada dasarnya memiliki penanganan yang tidak jauh berbeda yaitu dapat menggunakan obat-obat, psikoterapi dan ajakan untuk menerapkan pola hidup sehat. Pemberian obat seperti antipsikotik dan antidepresan juga kemungkinan dapat diberikan pada keduanya. Jika berbagai pengobatan tidak berhasil, dapat juga melalui terapi elektrokonvulsif.

Perbedaannya adalah penderita bipolar membutuhkan obat moodstabilizer yang tidak dibutuhkan oleh penderita skizofrenia. Sedangkan untuk pemilihan metode pengobatan lainnya akan dipilih oleh ahli medis membertimbangkan dari kondisi pasien.

4. Perbedaan bipolar dan skizofrenia dengan penyakit lain yang berkaitan

Selain tidak mengetahui perbedaan bipolar dan skizofrenia, banyak juga orang yang menghubungkan kedua penyakit ini dengan jenis penyakit lainnya. Penyakit yang sering disebut mirip dengan bipolar adalah multiple personality disorder atau kepribadian ganda di mana seseorang dapat memiliki dua atau lebih kepribadian.

Sedangkan skizofrenia seringkali dihubungkan dengan psikosis yang membuat seseorang tidak dapat membedakan kenyataan. Pada dasarnya psikosis hanya merupakan salah satu gejala dari skizofrenia, sehingga dapat dikatakan bahwa skizofrenia merupakan kondisi yang jauh lebih serius daripada psikosis.

Bipolar dan skizofrenia memiliki beberapa gejala yang mirip, penyebab yang sama, bahkan hingga penanganan yang tidak jauh berbeda. Meskipun begitu, tentunya membedakan dua penyakit yang berbeda merupakan hal yang penting agar langkah penanganannya juga akan lebih tepat.

Kedua penyakit mental ini merupakan penyakit yang tidak dapat dianggap sepele. Sayangnya, belum semua masyarakat sadar bahwa penyakit semacam ini membutuhkan perawatan medis. Selain itu, masih banyak juga masyarakat yang merasa malu jika memiliki keluarga yang mengalami penyakit mental.

Penyakit mental maupun fisik merupakan hal yang sama-sama tidak perlu membuat seseorang malu. Lebih baik untuk fokus pada pengobatan agar dapat menjalani hidup yang lebih sehat dan tidak perlu merasa malu. Kepercayaan diri dan rasa optimis juga merupakan hal yang sangat penting dalam melawan sebuah penyakit.