Sakit Perut setelah Makan Daging? Awas, Mungkin Ini 4 Penyebabnya!

DokterSehat.Com– Pasca Iduladha, sebagian besar orang menjadi lebih banyak makan daging. Sayangnya, beberapa orang mengalami sakit perut setelah makan daging. Kira-kira apa penyebabnya? Apakah berbahaya?

Hal ini memang wajar terjadi, akan tetapi bukan tidak mungkin tubuh kita kemudian merasakan reaksi atau dampak setelah makan daging.

Beberapa reaksi atau kondisi yang sering dirasakan tubuh setelah makan daging adalah sakit perut. Biasanya hal ini dianggap sepele, padahal sakit perut setelah makan daging bisa menyebaban gangguan pencernaan yang lebih serius hingga keracunan makanan, lho!

4 penyebab sakit perut setelah makan daging

Penting bagi kita mengetahui apa saja penyebab sakit perut setelah makan daging agar kita bisa menghindarinya. Beikut ini ada beberapa penyebab sakit perut setelah makan daging:

1. Makan daging berlebihan

Persiapan-sehat-makan-daging-idul-adha-doktersehat-1
Photo Credit: Flickr.com/Klaus Berdiin Jens

Daging memang merupakan bahan makanan berprotein yang padat gizi dan mineral. Akan tetapi, sebagai makanan berprotein hewani, kandungan lemak pada daging juga tinggi.

Hal ini tentu saja menyebabkan asupan lemak dalam tubuh akan meningkat jika daging dikonsumsi berlebihan. Kondisi ini tentu membuat pencernaan sulit beradaptasi, sehingga salah satu hal yang cukup sering dirasakan adalah gangguan atau sakit pada perut.

Pada akhirnya, kondisi ini yang menjadi penyebab sakit perut setelah makan daging. Sayangnya, kebanyakan orang tak menyadarinya.

Tips untuk menghindarinya: Selalu batasi porsi konsumsi daging tidak lebih dari 80 gram dalam sehari.

2. Metode memasak daging kurang tepat

Kesalahan-makan-daging-doktersehat-1
Photo Credit: Flickr.com/refeia

Penyebab sakit perut setelah makan daging juga bisa dipicu oleh cara mengolahnya, terutama metode masak daging yang kurang tepat.

Olahan daging khas Indonesia, umum disajikan dengan banyak santan, bumbu asam, pedas, sambal dan digoreng. Meskipun enak, sayangnya hal ini sangat mengganggu pencernaan.

Makanan yang bersantan kental, bersifat asam dan pedas, berisiko mengiritasi lambung. Hal ini tentu membuat pencernaan terganggu dengan menimbulkan rasa nyeri, perih.

Daging yang digoreng juga akan meningkatkan kadar lemak dalam tubuh, sehingga gangguan pada perut akan semakin besar dengan kemungkinan munculnya sakit perut hingga kembung.

Tips: Olah daging dengan bumbu alami yang bersifat netral dan pilih metode masak yang bebas lemak, misalnya rebus atau bakar.

3. Keracunan makanan

Hal ini biasanya tidak disadari dan dianggap sakit perut biasa, padahal sakit perut akibat keracunan makanan dapat menyebabkan dampak lain yang semakin buruk untuk kondisi kesehatan tubuh. Banyak juga yang tidak sadar kalau penyebab sakit perut setelah makan daging adalah keracunan.

Penyebab utama keracunan makanan akibat makan daging adalah daging tidak diolah dengan bersih, suhu pengolahan atau pemasakan daging yang tidak tepat, serta kualitas daging yang bisa jadi terpapar bakteri salmonella atau listeria.

Keracunan makanan akibat konsumsi daging yang tidak segera ditangani akan menyebabkan munculnya reaksi keracunan yang lebih parah, misalnya muntah, diare dan sakit kepala yang bisa menyebabkan tubuh dehidrasi dan elektrolit dan mineral tubuh.

Tips: Selalu olah daging dengan cara yang tepat, jaga kebersihan alat, wadah, dan perhatikan kualitas daging. Pastikan daging matang sempurna setelah di masak.

4. Adanya gangguan kondisi kesehatan tertentu

serat-sebabkan-diare-doktersehatJika Anda kerap mengalami rasa nyeri hebat hingga kram perut setelah mengonsumsi daging, maka hal ini bisa jadi merupakan gejala Anda mengalami alergi makanan.

Penyebab sakit perut setelah makan daging ini juga ditandai dengan gangguan rasa perih yang sangat dahsyat pada area pencernaan juga bisa merupakan tanda adanya gangguan pencernaan, seperti maag kronis.

Jika Anda mengalami gejala ini beberapa jam setelah mengonsumsi daging, maka segera lakukan pemeriksaan ke dokter atau tenaga kesehatan agar segera mendapatkan penanganan dan obat yang tepat.