Bukan Stroke, Ternyata Ini Penyebab Robby Tumewu Meninggal Dunia

Robby-tumewu-doktersehat
Photo Source: Kapanlagi

DokterSehat.Com– Desainer kondang sekaligus aktor senior Robby Tumewu meninggal hari ini, Senin, 14 Januari 2019 pukul 00.14 WIB. Sempat dikabarkan terkena stroke, dalam realitanya penyebab Robby Tumewu meninggal adalah karena mengalami infeksi paru. Hanya saja, Robby memang pernah dua kali mengidap stroke sebelumnya.

Fakta infeksi paru yang menyerang Robby Tumewu

Penyebab kematian Robby diketahui setelah rekannya, Debby Sahertian memberitahukan hal ini kepada media. Sebelumnya, Debby sembat menjenguk Robby pada Desember 2018 silam.

“Sekitar pertengahan Desember saya jenguk Robby. Beliau sudah tiga kali mengalami pecah pembuluh darah sejak 2010. Tapi meninggalnya terkena infeksi paru-paru,” ungkap Debby.

Menurut pakar kesehatan, infeksi paru termasuk dalam penyakit yang cukup sering terjadi di Indonesia. Sebagai contoh, kita tentu sering mendengar istilah pneumonia, tuberkulosis, atau influenza, bukan?

Iinfeksi paru memang tidak selalu berimbas fatal, namun dalam banyak kasus, kondisi ini bisa berimbas pada kematian, apalagi jika kondisi kesehatan ini sudah sampai bersifat akut ataupun kronis.

Gejala infeksi paru

Pakar kesehatan menyebut mereka yang mengalami penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) sebagai orang-orang yang lebih rentan terkena infeksi paru. Biasanya, masalah kesehatan ini akan menyebabkan peradangan, saluran udara yang menyempit, hingga kerusakan organ-organ pernapasan.

Infeksi ini bisa disebabkan oleh bakteri, virus, atau bahkan jamur. Dalam banyak kasus, paru-paru bahkan sampai terisi nanah dan cairan sehingga membuat penderitanya mengalami kesulitan untuk bernapas dan terkena nyeri dada.

Masalahnya adalah terkadang gejala dari infeksi paru ini tidak begitu terdeteksi. Sebagai contoh, salah satu gejalanya adalah batuk. Kita seringkali menganggap gejala ini sebagai hal yang tidak begitu mengkhawatirkan meski batuk sudah terasa cukup parah.

Jika sampai frekuensi batuk semakin sering dan lendir yang keluar terlihat lebih berat, besar kemungkinan kita mengalami infeksi paru. Penderita infeksi paru juga cenderung mengalami demam tinggi hingga menggigil atau merasa kedinginan.

Faktor risiko penyebab infeksi paru

Pakar kesehatan menyebut kebiasaan merokok atau tidak merokok namun menjadi perokok pasif akibat lingkungan yang kebanyakan adalah perokok sebagai salah satu penyebab utama dari infeksi paru. Selain itu, jika kita mengalami penurunan daya tahan tubuh, maka risiko untuk terkena infeksi paru juga meningkat.

Robby Tumewu pernah dua kali terserang stroke

Sejak 2010, Robby sempat terkena stroke setelah menjalani proses syuting sebuah acara televisi. Sempat menjalani berbagai macam terapi hingga sembuh pada 2011, Robby kembali terkena stroke pada 2013.

Stroke yang menyerang Robby Tumewu untuk kedua kalinya bahkan memberikan dampak yang cukup fatal karena membuatnya mengalami gangguan pernapasan. Bahkan, ada kabar yang menyebut tenggorokan Robby sampai harus diberi lubang khusus demi membantunya bernapas.

Sahabat Robby Hengki Tandayu pada 2013 lalu menyebut stroke yang kedua kalinya inilah yang membuat kondisi Robby semakin mengenaskan. “Stroke yang pertama menyerang otak kiri, namun stroke yang keduanya sudah sampai menyerang otak kanan,” ungkap Hengki.

Faktor risiko stroke

Di Indonesia, stroke termasuk dalam penyakit dengan risiko kematian paling tinggi. Berdasarkan data yang dikeluarka noleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, prevalensi stroke mencapai 10,9 permil, meningkat tajam dibandingkan dengan prevalensi pada tahun 2013 yang hanya 7 permil.

Stroke terjadi saat pembuluh darah menuju otak terkena pecah atau penyumbatan yang membuat aliran darah menuju otak terhambat. Otak yang tidak mendapatkan nutrisi dan oksigen dengan cukup pun mengalami kematian sel-sel yang berpengaruh besar pada kinerja dan fungsi berbagai organ tubuh. Dalam banyak kasus, kondisi ini juga menyebabkan kematian.

Penyebab utama stroke adalah gaya hidup tidak sehat seperti terbiasa merokok, kurang olahraga, mengonsumsi makanan yang tidak sehat, serta mengalami obesitas. Kondisi ini akan semakin diperparah jika kadar gula darah semakin tidak terkontrol.